RADAR JOGJA - Menteri Koordinator Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD mengatakan pentingnya integrasi antara ilmu aman dan ilmu pengetahuan umum. Alumni Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Jogja ini mengatakan tidak boleh ada dikotomi atas dua hal tersebut.
"Tidak ada dikotomi ilmu agama dan ilmu umum, tidak ada pemisahan, melainkan yang ada integrasi kebersatuan dan keterkaitan antara ilmu agama dan ilmu umum," ujarnya di hadapan ribuan mahasiswa baru UII Jogja, Rabu (9/8/2023). "Sehingga orang yang agamanya baik, ilmunya baik," imbuhnya.
Mahfud MD mencontohkan Presiden ke-3 Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie, tokoh Indonesia yang berilmu dan beragama. Bahkan saking terkenalnya, Mahfud menyebut pada era tahun 80-an, ibu-ibu yang sedang hamil akan menyebut BJ Habibie. Ungkapan doa agar anak mereka seperti Habibie. "Setiap ibu kalau hamil, 'mudah-mudahan anak saya pintar seperti Habibie, punya otak seperti Habibie', saking pinternya Habibie," ujarnya.
Menurutnya, BJ Habibie pintar secara intelektual, namun juga manusiq beragama. Habibie rajin beribadah, baik shalat maupun mengaji. Selian itu juga mengajarkan pengabdian kepada manusia, negara dan bangsanya. "Sehingga, 'karena saya berilmu lalu tidak beragama', itu salah. Saudara orang berilmu lalu lupa beragama itu sombong dan sesat.
Begituan orang yang beragama, bersembunyi terus dibilik hanya dzikiran, ngaji terus, ndak mau bermasyarakat dan mengembangkan ilmu, juga itu salah," tegasnya. "Karena itu lambang dari kemunduran. Jadi prinsipnya pertama non dikotomis, ilmu itu integrasi," imbuhnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Jogja, Fathul Wahid mengatakan pentingnya jejaring untuk meraih masa depan. Mahasiswa baru diminta mengembangkan diri baik di dalam maupun luar kampus. "Masa depan membutuhkan jejaring yang kuat. Selain belajar dan mengembangkan diri dengan tekun, jangan lupa, saudara juga gunakan kesempatan ketika studi untuk membangun jejaring. Tidak hanya di dalam kampus, tetapi lintaskampus, dan bahkan lebih luas lagi," jelasnya.
Menurutnya, jejaring bermanfaat untuk masa depan. Sebab, apa yang cukup untuk saat ini bisa menjadi kedaluwarsa untuk masa yang akan datang. Sehingga, Fathul meminta seluruh mahasiswa harus bisa mengasah kreatifitas untuk menjawab tantangan zaman. "Masa depan tidak untuk mereka yang berpikir sempit dan berorientasi lokal. Karenanya, saudara perlu menyiapkan diri menjadi warga global. Ikutilah kesempatan mobilitas global jika mungkin," ujarnya. (lan/eno)
Editor : Satria Pradika