JOGJA - Setiap tahun, Keraton Jogjakarta Hadiningrat melaksanakan tradisi Jamasan Pusaka yang dilakukan di bulan Suro atau bulan pertama dari kalender Jawa.
Tradisi Jamasan Pusaka Keraton Jogjakarta adalah upacara rutin yang diselenggarakan untuk membersihkan benda-benda pusaka milik Keraton Jogjakarta. Pelaksanaan tradisi Jamasan Pusaka ini dilakukan ada yang secara tertutup dan terbuka.
Wakil Kepala Unit Wahanarata Raden Riya Condrokusumo mengatakan, berbagai pusaka yang dibersihkan dalam tradisi Jamasan Pusaka ini sedikitnya dua kereta pusaka yakni kereta Kanjeng Nyai Jimat. Kereta kencana Keraton Ngayogyakarta yang digunakan Sri Sultan Hamengku Buwono I hingga Sri Sultan Hamengku Buwono III.
Dari sekian kereta yang ada, yang tertua adalah kereta pusaka bergelar Kanjeng Nyai Jimat. Kereta Kanjeng Nyai Jimat dibuat di Belanda antara tahun 1740-1750.
"Pertama termasuk kereta tertua yang dimiliki oleh Kraton Jogjakarta Kanjeng Nyi Jimat. Dulu digunakan sebagai coronation (pemahkotaan) disana untuk menjemput tamu-tamu dari kerajaan keraton lain dan sebagainya," katanya di Kagungan Dalem Wahanarata kemarin (28/7).
Kereta kedua yakni kereta Kanjeng Kyai Harsunaba, kereta pendamping merupakan peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono VI. Adapun, jamasan KK Nyai Jimat dilakukan tertutup.
"Itu sudah dawuh dalem untuk Kanjeng (Kiai) Nyai Jimat tahun ini memang (jamasan) tertutup karena dawuh dalem memang tidak didokumentasikan. Mungkin juga untuk melindungi karena ini juga pusaka kan. Seperti didalam kraton semuanya juga tertutup untuk melimdungi," ujarnya.
Kereta Kanjeng Kiai Nyai Jimat saat prosesi jamasan memang dilakukan tertutup, dan khusus abdi dalem saja yang bisa mendekat untuk menjamas. Lokasi penjamasan KK Nyai Jimat ditutupi kain putih ukuran besar, untuk melindungi agar prosesi jamasan tidak terlihat.
"Jadi, di tiap tahunnya ditahun baru Jawa ini kita membersihkan semuanya termasuk dari jiwa kita maupun barang-barang yang kita miliki termasuk barang yang dimiliki oleh Keraton Jogjakarta," jelasnya.
Sebanyak 50 abdi dalem terlibat dalam tradisi jamasan tersebut. Di antaranya ada dari abdi dalem Poncoroto maupun beberapa abdi dalem abdi dalem lainnya.
Adapun sejumlah warga campuran dari Jogja dan luar kota terlihat menunggu di luar pagar kompleks museum kereta. Mereka bisa masuk setelah jamasan kedua kereta selesai.
Mereka masuk secara bergantian dan tertib, kerumunan warga itu juga dijaga keamanan Kraton dan Polsek Kraton. Masyarakat masuk untuk mengambil sisa air menjamas kereta kedua. Tak sedikit mereka membawa botol air mineral.
"Setiap momen jamasan memang tiap tahunnya memang selalu didatangi warga sekitar. Ya salah satunya pengen ngala berkah," tambahnya. (wia)