Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Rumputnya seperti Stadion Maguwoharjo

Editor Content • Jumat, 5 Februari 2021 | 15:00 WIB
RUGIKAN ORANG: Tersangka Andreas Puji Antoro, oknum guru sekolah dasar (SD) di wilayah Kapanewon Tanjungsari ditangkap kasus investasi trading crypto. (ISTIMEWA)
RUGIKAN ORANG: Tersangka Andreas Puji Antoro, oknum guru sekolah dasar (SD) di wilayah Kapanewon Tanjungsari ditangkap kasus investasi trading crypto. (ISTIMEWA)
RADAR JOGJA - Lapangan sepak bola atau stadion mini berstandar nasional akan dibangun di atas lahan Lapangan Karang Prenggan, Kotagede, Joga. Pembangunan disiapkan dengan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Kota Jogja sebesar Rp 7,35 miliar.

Kepala Bidang Penataan Bangunan Gedung Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Jogja Fahrul Nurcahyanto mengatakan, stadion mini yang akan dibangun pekerjaannya dimulai sekitar Juni 2021. Konsep pembangunan telah disiapkan demi memiliki fasilitas berolahraga standar nasional di Kota Jogja ini.

“Yang jelas untuk rumput dan sistem drainasenya akan kami  perbagus biar jadi standar nasional untuk lapangan sepak bola,” kata Fahrul kepada Radar Jogja kemarin (4/2).

Ia menjelaskan pada dasarnya pembangunan tetap mengunggulkan konsep space ruang publik sehingga masyarakat masih bisa memanfaatkannya untuk beraktivitas. Pada detail engineering design (DED) pembangunan Lapangan Karang tetap memperhatikan existing yang ada. Seperti tetap menyediakan tempat kuliner, fitnes outdoor, jogging track, dan lain-lain.

Hanya untuk konsep lapangannya akan tertutup pagar transparan dengan besi semacam kawat harmonika. Tujuan dipagar salah satunya untuk memperbaiki dan memelihara rumput serta lapangan itu sendiri. Meski dari sisi luar pagar, area dalam lapangan masih tetap terlihat. “Karena kalau masih terbuka seperti sekarang ini kan hampir semua kendaraan bisa masuk ke dalam. Ini secara perawatan akan menyulitkan,” ujarnya.

Demikian pula untuk pengadaan rumputnya tidak sembarangan. Rumput lokal disiapkan jenis rumput zoysia matrella, yang harganya dikatakannya cukup fantastis. Meski dia belum menyebut haganya. Jenis rumput ini sama halnya yang digunakan di Stadion Maguwoharjo. Karena penggunaan lapangan nanti memang khusus untuk kegiatan sepak bola, sehingga pemilihan rumput juga jadi dipertimbangkan.

“Kalau sekarang di Lapangan Karang bisa untuk bersepeda atau aktivitas-aktivitas yang lain. Nah, nanti kemungkinan tidak bisa digunakan untuk seperti itu lagi,” jelasnya.

Dimungkinkan untuk ukuran lapangan agak sedikit berkurang karena untuk mengacu ke standar nasional yakni dengan range lebar antara 48-65 meter dan panjang 90-110 meter. Dalam perencanaan untuk ukuran lapangan kurang lebih 95x55 meter. “Jadi masih dirange standar untuk lapangan nasional,” tambahnya.

Keberadaan lapangan berada di tengah yang nantinya akan dikelilingi jogging track dari sisi selatan, timur, utara, dan barat yang dibangun di luar pagar. Antara lapangan dengan pagar berjarak kurang lebih tiga meter. Setelah pagar, baru fasilitas untuk jogging track.

“Pagar transparan ini nanti dengan tinggi kurang lebih 4,5 - 6 meter. Kalau yang ukuran enam meter di posisi belakang gawang. Kalau yang di samping-samping kira-kira pagar ketinggiannya antara 4-4, 5 meter,”  terangnya.

Selain itu, fasilitas-fasilitas lain yakni tribun dengan kapasitas 50 orang. Kamar mandi, ruang ganti, dan fasilitas pendukung lainnya. Serta akan ditambah aksen lampu untuk memungkinkan sepak bola dimainkan malam hari. Walaupun lampu ini belum masuk standar stadion besar seperti Mandala Krida. “Tapi paling tidak bisa dipakai untuk latihan malam,” jabarnya.

Sementara existing pedagang kaki lima (PKL) di sana juga masih tetap bisa berjualan. Sebanyak 25 los terbuka untuk tempat kuliner telah disiapkan, dipusatkan di sisi utara lapangan. Hanya 25 los, sedangkan ada 50 PKL karena pedagang yang ada terbagi dalam dua segmen yang beroperasi pagi dan malam. Sehingga dikonsepkan los yang ada bisa untuk bergantian antarpedagang.

“Karena kalau kita beri jatah satu-satu kios atau los per PKL, dari sisi lahan yang tidak ada. Karena lahan di sana tidak relatif begitu besar,” tambah Fahrul.

Saat ini pentahapan pembangunan stadion mini yang bersumber dari APBD Kota Jogja sebesar Rp 7,35 miliar itu masih menunggu proses lelang untuk pengawas manajemen konstruksi (MK). Tata kala lelang MK kurang lebih 2,5 bulan, sehingga pertengahan April dimungkinkan baru bisa mendapatkan pemenang pengawas MK.

Setelah itu pelelangan fisik kurang lebih 1-1,5 bulan dan sekitar akhir Mei baru mendapatkan pemenang fisik, sehingga kemungkinan pembangunannya akan dimulai Juni mendatang. “Tata kala kami kurang lebih lima bulan untuk proses pelaksanaan pembangunan. Sampai Oktober akhir atau awal November dipastikan sudah selesai,” katanya.

Apakah setelah pembangunan selesai, lapangan bisa dimanfaatkan untuk berolahraga masyarakat sekitar atau klub tertentu saja? Sampai sejauh ini Fahrul belum mengetahui terkait teknis pengelolaannya. Apakah pengelolaan melalui Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Jogja atau tim tertentu.

“Kami sendiri belum tahu sampai sejauh itu. Yang jelas nanti kami membangun untuk lapangannya, kemudian kami serahkan ke pemkot untuk pengelolaan selanjutnya mau seperti apa,” tambah Fahrul.

Sebelumnya, Kepala Bappeda Kota Jogja Agus Tri Haryono menambahkan, pertimbangan penataan Lapangan Karang karena tempat-tempat untuk berolahraga di Kota Jogja sangat terbatas, bahkan hampir tidak ada. “Stadion Mandala Krida punya provinsi, maka kami akan bangun, salah satunya di situ supaya kota juga punya tempat olahraga,” katanya.

Warga Kotagede pun menyatakan tidak keberatan Lapangan Karang diperbaiki. Hanya mereka meminta fungsinya sebagai area publik tak dihilangkan. (wia/laz) Editor : Editor Content