Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Buka Sekolah Petani Milenial, Sadarkan Generasi Muda

Editor Content • Jumat, 28 Oktober 2022 | 17:05 WIB
(Rayndra Syahdan Mahmudin dan Ella Rizki Farihatul Maftuhah, Kolaborasikan Integrited Farming)
(Rayndra Syahdan Mahmudin dan Ella Rizki Farihatul Maftuhah, Kolaborasikan Integrited Farming)
RADAR JOGJA - Wajah dunia pertanian menjadi segar dengan masuknya anak-anak muda sebagai petani dan peternak. Mereka bergelut dengan tanah dan kandang. Adalah pasangan suami istri bernama Rayndra Syahdan Mahmudin, 27, dan Ella Rizki Farihatul Maftuhah, 27, warga Dusun Semen, Desa Trenten, Kecamatan Candimulyo, Kabupaten Magelang.

Sebelum resmi menjadi suami istri, mereka sudah memulai bisnis masing-masing. Rayndra sebagai peternak domba, sedangkan Ella fokus pada pengolahan kelapa terpadu. Ternyata mereka mempunyai visi dan misi sama, terutama dalam pemberdayaan masyarakat.

Rayndra melakukan pemberdayaan masyarakat melalui banyak hal. Seperti melalui PKK milenial, karang taruna, kelompok tani, hingga kelompok usaha bersama. Dirinya mulai berbisnis sejak duduk di bangku kelas 3 SMK. Beternak ayam jawa super. Tapi, gagal. Hingga sejak semester 4 di Polbangtan YoMa memilih beternak domba hingga sekarang.

Hingga kini ia telah sukses menjadi peternak berkonsep modern dan didaulat sebagai Duta Petani Milenial Kementerian Pertanian. Juga menjadi kepala bidang peternakan di Kementan dan didapuk menjadi Youth Enterpreneurship and Employment Support Services (YESS).

Keberhasilan peternakan Rayndra tidak lepas dari sistem modern yang diterapkan. Mulai dari penyediaan pakan kering sebagai pengganti serat rumput. Sehingga peternakannya tanpa harus mencari rumput.

Justru limbah pertanian seperti kulit sungkong, kulit kacang hijau, dan lainnya bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak. Bahkan, lebih mudah dan efisien. “Perlu diketahui, akhir dari peternakan adalah awal pertanian, sedangkan akhir pertanian adalah awal peternakan. Itu yang harus dipegang,” paparnya saat ditemui di rumahnya, tadi malam (27/10).

Saat ini dia telah memiliki lima kandang dengan total populasi lebih dari 500 ekor kambing. Di Pakis dua tempat, Grabag satu tempat, Tegalrejo satu tempat, dan di Candimulyo satu tempat.

Dengan sistem integrasi itu, juga tidak terlepas dari peran sang istri. “Banyak yang kami kolaborasikan. Antara perkebunan kelapa dengan peternakan domba dan kambing menjadi integrited farming,” tambahnya.

Sementara itu, Ella menjelaskan, di dusunnya kebanyakan masyarakat memang petani kelapa. Sang ibu telah merintis usaha dari gula tradisional menjadi gula semut pada 2012. Lantaran ia suka yang berbau penelitian, ia tertarik untuk meneliti gula.

Gula semut di dusunnya saat itu dijual dengan harga yang rendah. Sehingga muncul ide untuk melakukan branding dan digital marketing. Setelah lulus, ia kembali melanjutkan S2 dan mulai mengembangkan yang semula hanya gula kelapa saja, lantas menekuni Virgin Coconut Oil (VCO).

Saat ini, Kelompok Wanita Tani (KWT) Nira Lestari telah sukses mengembangkan berbagai olahan dari buah kelapa. Termasuk VCO yang merupakan minyak kelapa murni. Dibuat dengan cara memodifikasi proses pembuatan minyak kelapa, sehingga menghasilkan minyak dengan kadar air dan kadar asam lemak bebas yang rendah.

Kini, KWT Nira Kelapa memiliki 94 anggota dan konsentrasi pada gula semut, minyak kelapa, dan VCO. Bahkan produk gula semutnya sudah diekspor ke Malaysia, Korea, dan Belanda sejak 2016. Sekali kirim, mencapai satu ton tiap empat bulan sekali.

Ella yang saat ini ambil S3 program studi kimia di UGM, berkeinginan menjadi dosen di Magelang. Dia ingin mengimplementasikan pemikirannya dan disebarluaskan kepada sekitar. “Saya ingin menjembatani bahwa masyarakat itu bisa tumbuh dari ilmu dan ilmu bisa tumbuh di masyarakat,” bebernya.

Selain sistem yang modern, Rayndra juga membuka Sekolah Petani Milenial dan membuka permagangan. Gratis bagi siapapun yang mau belajar. Bahkan sudah ada lebih dari 2.000 orang yang belajar dengannya.

Dia menilai, sebenarnya sekarang banyak yang mau terjun ke sektor pertanian, tetapi tidak mempunyai fasilitas untuk saling berbagi. Dia berharap, bisa meresonansi generasi milenial untuk terjun di sektor pertanian dan peternakan. Karena mayoritas petani saat ini usia di atas 45 tahun, sehingga peran generasi milenial sangat dibutuhkan.

Dia menilai, sektor pertanian dipandang rendah, terutama oleh generasi milenial. Rayndra memilih menjadi petani karena ingin lebih menggali potensi di dusunnya. Bahkan keinginan itu sempat ditentang lantaran dianggap kurang menguntungkan.

“Jadi selama manusia masih ada di dunia ini, tentu butuh pangan, dan pangan tidak lepas dari sektor pertanian. Sehingga sektor pertanian ini sangat saya yakini menguntungkan,” tandasnya. (aya/laz) Editor : Editor Content
#Sumpah Pemuda