RADAR JOGJA - Pendapatan daerah Kabupaten Kebumen pada rancangan APBD 2024 diproyeksi mencapai Rp 3,08 triliun. Meski begitu, porsi pendapatan sebagian besar masih bergantung pada sumber pendanaan pemerintah pusat.
Hal ini diungkapkan Wakil Bupati Kebumen Ristawati Purwningsih saat rapat paripurna DPRD Kebumen Kamis (14/9/23). Ristawati tak memungkiri dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, dana transfer pusat masih mendominasi sektor pendapatan APBD. "Realisasi tahun Anggaran 2020-2022 rasio dana transfer sebesar kurang lebih 80,26 persen," jelasnya.
Ristawati mengatakan, di lain sisi pertumbuhan dan pembagian PAD terhadap pendapatan daerah menunjukkan tren positif. Kondisi ini seiring adanya kebijakan pemerintah daerah lebih leluasa terkait pengelolaan BPHTB dan PBB. "Ada peningkatan (PAD, Red) dalam tiga tahun terakhir. Rata-rata sebesar 16,43 persen, seiring semakin dibukanya kebijakan desentralisasi fiskal ke daerah," kata Ristawati.
Dalam nota rancangan APBD murni 2024, tertera dana transfer dari dana perimbangan sebagai sumber pendapatan utama daerah mengalami kenaikan 14,15 persen. Kondisi ini jauh lebih baik jika dibandingkan alokasi tahun anggaran 2023 sebelum maupun setelah perubahan.
Kenaikan ini karena DBH, DAU, dan DAK non-fisik pada 2024 diasumsikan mengalami kenaikan apabila dibandingkan tahun sebelumnya. Secara global, PAD Kebumen diproyeksikan bakal tumbuh sebesar 0,53 persen, dibandingkan anggaran 2023 setelah perubahan. "Kami berharap rasio pertumbuhan PAD meningkat pada setiap tahunnya," ujar Ristawati.
Sementara itu, Ketua DPRD Kebumen Sarimun berharap, APBD 2024 berorientasi terhadap kepentingan masyarakat. Dia meminta agar komisi dan fraksi bersama jajaran eksekutif mengutamakan kebutuhan sesuai skala prioritas daerah. "Tinggal nanti penekanan teman-teman fraksi sama komisi. Dibahas satu per satu. Yang penting layanan dasar masyarakat," jelasnya. (fid/eno)