RADAR JOGJA - Kesepakatan Amerika Serikat dan Iran untuk menggelar perundingan di Oman pada Jumat mendatang menjadi sinyal penting meredanya ketegangan dua negara yang selama bertegangan.
Respons pasar terutama di sektor perminyakan pun terlihat cepat.
Harga minyak dunia langsung turun pada kamis (5/2/2026), mencerminkan berkurangnya kekhawatiran akan konflik militer yang berpotensi mengganggu pasokan energi dari Timur Tengah.
Melansir Reuters, harga minyak Brent turun US$1 atau sekitar 1,4 persen ke level US$68,47 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga melemah 91 sen atau 1,4 persen ke posisi US$64,23 per barel pada perdagangan Kamis dini hari waktu GMT.
Penurunan ini terjadi setelah Washington dan Teheran memastikan dialog tetap berjalan, meski agenda pembicaraan belum disepakati secara rinci.
Kesepakatan berunding tersebut muncul setelah sehari sebelumnya harga minyak sempat melonjak hampir 3 persen.
Lonjakan itu dipicu laporan media yang menyebutkan kemungkinan gagalnya pertemuan AS-Iran, memicu kekhawatiran pasar akan eskalasi konflik di kawasan produsen minyak utama dunia.
Namun sentimen itu berbalik setelah kedua pihak menyatakan komitmen untuk tetap duduk di meja perundingan.
Analis pasar dari IG, Tony Sycamore, menilai pergerakan harga minyak belakangan ini sangat dipengaruhi oleh ketidakpastian politik.
Ia mengatakan lonjakan harga sebelumnya dipicu kekhawatiran perundingan akan runtuh, tetapi tekanan kini mereda setelah ada kepastian bahwa pembicaraan nuklir kembali berjalan.
Pernyataan tersebut menegaskan betapa sensitifnya pasar energi terhadap dinamika hubungan AS dan Iran.
Dari sisi substansi, Iran menyatakan terbuka untuk membahas program nuklirnya, termasuk isu pengayaan uranium, bersama negara-negara Barat.
Namun Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, ingin cakupan pembahasan diperluas.
AS mendorong agar perundingan juga menyentuh program rudal balistik Iran, dukungan Teheran terhadap kelompok bersenjata di Timur Tengah, serta catatan perlakuan pemerintah Iran terhadap warganya sendiri.
Meski dialog direncanakan berlangsung, kekhawatiran belum sepenuhnya hilang.
Pasar masih mencermati pernyataan keras Trump sebelumnya yang mengancam akan melakukan serangan terhadap Iran jika tidak tercapai kesepakatan.
Iran sendiri merupakan produsen minyak terbesar keempat di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC).
Konflik terbuka berpotensi tidak hanya mengganggu produksi Iran, tetapi juga mengacaukan arus ekspor dari negara-negara Teluk lainnya.
Sekitar seperlima konsumsi minyak dunia melewati Selat Hormuz, jalur strategis yang berada di antara Oman dan Iran.
Negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak sangat bergantung pada jalur ini untuk menyalurkan ekspor minyak mentah mereka.
Gangguan sekecil apa pun di kawasan tersebut dapat berdampak besar terhadap stabilitas harga energi global.
Bagi pasar global, kesepakatan Trump dan Iran untuk kembali berunding memberi jeda dari ketegangan yang sempat memanas.
Namun dialog ini juga menjadi ujian, apakah kedua pihak benar-benar mampu menjembatani perbedaan besar, atau justru kembali membuka babak baru ketidakpastian yang bisa mengguncang ekonomi dunia. (Raka Adichandra)
Reuters
Editor : Meitika Candra Lantiva