Terletak di lembah bekas aliran Bengawan Solo purba, kampung ini tak pernah melihat matahari terbit atau terbenam.
Dikelilingi tebing-tebing tinggi di sisi timur dan barat, sinar matahari baru menjangkau kampung sekitar pukul delapan pagi.
Sementara itu, pada pukul empat sore, cahaya sudah kembali tertutup bayangan bukit.
Tak heran jika warga menyebut tempat tinggal mereka sebagai kampung kesiangan.
Selain fenomena alamnya, arsitektur di kampung ini juga menarik perhatian.
Bangunan warga dibuat bergaya klasik menyerupai suasana kerajaan dalam film kolosal.
Batu alam, kayu tua, dan ukiran khas Jawa membuatnya tampak estetik sekaligus sarat nilai budaya.
Meskipun hidup di balik tebing, masyarakat tetap menjaga kearifan lokal dan tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Kampung ini menjadi potret perpaduan indah antara alam, budaya, dan kehidupan sederhana yang menenangkan.
Penulis : Arsy Apriliany Munawaroh