Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Perbanyak SSB dan Mitigasi Bencana Berbasis Kelompok Masyarakat

Y
Penulis: Yogi Isti Pujiaji❯
(Dokumen Pribadi)
(Dokumen Pribadi)

Advertisement

 

SLEMAN - Dua puluh tahun lalu, tepatnya 26 Mei 2006, Jogjakarta mengalami gempa bumi dahsyat yang berpusat di wilayah Bantul. Sebagian wilayah Kabupaten Sleman tak luput dari bencana tersebut.

Setidaknya ada tiga wilayah terdampak cukup parah, yakni Kapanewon Berbah, Kalasan, dan Prambanan. Itu karena kawasan tersebut berbatasan langsung dengan Sesar Opak dan aliran Sungai Opak. Selain menyebabkan korban jiwa, ratusan rumah warga mengalami kerusakan.

Advertisement

Anggota Komisi C DPRD Kabupaten Sleman Chisya Ayu Puspitaweni ST mengingatkan bahwa peristiwa alam itu masih menjadi ancaman serius sampai saat ini. Karena gempa bumi tak bisa diprediksi. Belum lagi potensi erupsi Gunung Merapi, yang kerap melanda Bumi Sembada. "Pengetahuan dan mitigasi bencana sangat penting bagi masyarakat demi mencegah dampak bencana alam," ungkap kader muda PDI Perjuangan itu.

Sebagaimana diketahui, mitigasi adalah serangkaian upaya yang dilakukan untuk mengurangi risiko dan dampak bencana.  Baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana. Hal ini mencakup tindakan pencegahan sebelum, saat, dan setelah terjadinya bencana.

Chisya mendorong pemerintah daerah lebih menggiatkan pelatihan mitigasi bencana, sesuai karakter masing-masing wilayah. Selain itu memperbanyak sekolah siaga bencana (SSB) yang mencakup seluruh jenjang pendidikan. Mulai TK hingga SMA/sederajat. "Pengetahuan mitigasi sejak usia dini juga penting. Terlebih bagi anak-anak yang belum pernah mengalami peristiwa bencana alam," tutur politikus asal dapil 4 Sleman (Depok, Berbah).

Advertisement

Menurutnya, simulasi bencana harus sering dilakukan di tiap sekolah secara rutin. Supaya ketika terjadi bencana anak-anak sudah siap menghadapinya. Tidak panik dan tahu apa yang harus mereka lakukan.

Tiap sekolah juga perlu difasilitasi dengan sarana pencegahan dampak bencana. Bukan terbatas pada sekolah siaga bencana saja yang mendapat fasilitas itu.

Mitigasi bencana berbasis kelompok masyarakat juga perlu. Oleh para pemuda karang taruna. Bahkan lansia.

Lansia termasuk kelompok rentan dalam penanganan bencana. Selain anak-anak dan ibu hamil. Maka dari itu, mitigasi bencana khusus lansia juga harus mendapat atensi khusus pemerintah daerah.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Guna Pastikan Keberhasilan Program Pemkot Jogja, DPRD Kota Jogja Segera Lakukan Cek Fakta

Guna Pastikan Keberhasilan Program Pemkot Jogja, DPRD Kota Jogja Segera Lakukan Cek Fakta

DPRD Kota Jogja akan segera melakukan pemeriksaan faktual atau cek fakta terkait dengan program-program pemerintah kota. Hal tersebut sebagai bentuk tindak lanjut klaim kepala daerah yang disampaikan dalam paripurna.

Klik File Undangan APK, WhatsApp Wakil Ketua DPRD Kota Jogja Sempat Diretas

Klik File Undangan APK, WhatsApp Wakil Ketua DPRD Kota Jogja Sempat Diretas

Nomor WhatsApp (WA) Wakil Ketua I DPRD Kota Jogja Sinarbiyat Nujanat sempat diretas oleh hacker. Hal itu terjadi usai politisi Partai Gerindra itu membuka undangan berformat APK melalui pesan singkat WA.

DPRD Kulon Progo Wanti-wanti, Objek Wisata Giri Sembung Hingga Kios Cinderamata Pantai Glagah Jangan Sampai Mangkrak

DPRD Kulon Progo Wanti-wanti, Objek Wisata Giri Sembung Hingga Kios Cinderamata Pantai Glagah Jangan Sampai Mangkrak

DPRD Kulon Progo menyoroti pengelolaan aset daerah yang dinaungi Dinas Pariwisata (Dinpar) Kulon Progo. Yaitu objek wisata paralayang Giri Sembung dan Kios Cinderamata Pantai Glagah. Menurut Ketua DPRD Kulon Progo Aris

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer