Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Hadapi Era AI, ISI Yogyakarta Perkuat Peran Seni dan Kemanusiaan

C
Penulis: Cintia Yuliani❯
Rektor ISI Yogyakarta Dr. irwandi sedang menyampaikan tentang Dies Natalis ke-42 di Lobby Gedung Rektorat ISI Yogyakarta - Cintia Yuliani/Radar Jogja
Rektor ISI Yogyakarta Dr. irwandi sedang menyampaikan tentang Dies Natalis ke-42 di Lobby Gedung Rektorat ISI Yogyakarta - Cintia Yuliani/Radar Jogja

Advertisement

BANTUL - Perkembangan teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI), dinilai perlu tetap dipahami melalui perspektif etika, rasa, dan kemanusiaan.

Oleh karena itu, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta melalui peringatan Dies Natalis ke-42 menegaskan kembali peran kampus seni dalam menghadapi perubahan zaman termasuk perkembangan teknologi.

Rektor ISI Yogyakarta Dr. Irwandi menyampaikan, di tengah percepatan perkembangan AI, perguruan tinggi seni tidak hanya dituntut mengikuti kemajuan teknologi, tetapi juga memastikan teknologi tetap terhubung dengan pengalaman manusia, nilai budaya, dan rasa.

Advertisement

Melalui Dies Natalis ke-42, ISI Yogyakarta ingin menghadirkan seni sebagai ruang refleksi kritis. "Sekaligus kekuatan kreatif yang memberi arah bagi masa depan yang lebih manusiawi,” ujarnya Selasa (26/5).

Rangkaian Dies Natalis ke-42 menghadirkan 21 kegiatan publik, mulai dari forum akademik, seminar nasional, pameran seni rupa dan desain, penayangan karya seni media rekam, workshop, simposium internasional, festival, konser, pergelaran tari, festival teater, hingga pentas akbar dan pesta rakyat.

Advertisement

Seluruh agenda tersebut mencerminkan karakter ISI Yogyakarta sebagai perguruan tinggi seni yang terus menghubungkan tradisi, inovasi, teknologi, dan nilai kemanusiaan.

"Kegiatan ini berlangsung dari Mei hingga Agustus," tuturnya.

Irwandi menilai Dies Natalis tahun ini juga menjadi ajang untuk menunjukkan seni mampu beradaptasi, mengkritisi, sekaligus bersinergi dengan teknologi. Menurutnya, kampus seni harus hadir sebagai ruang yang menjaga martabat manusia di tengah dominasi logika algoritmik.

“Karya seni, riset artistik, arsip, pertunjukan, dan kolaborasi lintas budaya adalah cara ISI Yogyakarta berbicara kepada dunia," terangnya.

Perayaan Dies Natalis ini juga diposisikan sebagai panggung bersama untuk menunjukkan seni tetap menjadi pengetahuan yang hidup, relevan, dan berdampak bagi masyarakat.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Tidak Hanya Andalkan Pameran, Seniman Aidi Yupri Ajak Mahasiswa ISI Yogyakarta Berkompetisi untuk Asah Kreativitas dalam Berkarya

Tidak Hanya Andalkan Pameran, Seniman Aidi Yupri Ajak Mahasiswa ISI Yogyakarta Berkompetisi untuk Asah Kreativitas dalam Berkarya

Seniman yang aktif berkarya tentu memiliki banyak ide untuk menyampaikan pesan melalui karya seni. Namun, tidak selalu tersedia pameran maupun panggung bagi seniman untuk memamerkan karya dan menyampaikan gagasannya kepa

Baru Setahun Mengajar, Dosen DKV ISI Yogyakarta Dinonaktifkan Terkait Dugaan Kekerasan Seksual

Baru Setahun Mengajar, Dosen DKV ISI Yogyakarta Dinonaktifkan Terkait Dugaan Kekerasan Seksual

Dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta berinisial AWF (30 tahun) dinonaktifkan dari tugas mengajar dan seluruh aktivitas akademik. Penonaktifan tersebut dilakukan..

Festival Film Pelajar Jogja XVII, 17 Tahun Merawat Mimpi Sineas Muda dari 40 Kota

Festival Film Pelajar Jogja XVII, 17 Tahun Merawat Mimpi Sineas Muda dari 40 Kota

Festival Film Pelajar Jogja (FFPJ) XVII 2026 digelar di ISI Yogyakarta, 12-13 September. Diikuti pelajar dari 40 kota dengan 127 karya. Mengusung tema 'Mulat Sarira'. Simak keseruannya di sini.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer