Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ramadan Bukan Sekadar Puasa, Dosen UMY Soroti Dosa Pemborosan Energi

Winda Atika Ira Puspita • Senin, 2 Maret 2026 | 07:00 WIB

Dosen Prodi Sarjana Terapan Teknologi Rekayasa Otomotif Fakultas Teknik UMY Ir. Rinasa Agistya Anugrah, S.Pd., M.Eng
Dosen Prodi Sarjana Terapan Teknologi Rekayasa Otomotif Fakultas Teknik UMY Ir. Rinasa Agistya Anugrah, S.Pd., M.Eng

BANTUL – Dosen Prodi Sarjana Terapan Teknologi Rekayasa Otomotif Fakultas Teknik UMY Ir. Rinasa Agistya Anugrah, S.Pd., M.Eng menilai sejatinya momentum Ramadan dimaknai tidak berhenti pada dimensi ibadah personal saja, melainkan meluas pada persoalan etika manusia dalam mengelola energi dan kelestarian alam.

Terlebih, di tengah krisis energi dan kerusakan lingkungan hidup.

Dalam refleksinya, Rinasa mengutip QS Al-A‘raf ayat 31 yang berisi perintah Allah kepada manusia yakni anjuran makan dan minum yang halal dan baik, namun melarang keras sikap berlebih-lebihan.

 Baca Juga: Tiga Remaja dan Empat Celurit Diamankan, Polisi Gagalkan Dugaan Tawuran via Siaran Langsung di Magelang

“Makna ayat ini sering dipahami hanya sebatas konsumsi makanan semata, lebih jauh sesungguhnya memiliki makna mencakup seluruh pola konsumsi, termasuk penggunaan energi,” katanya.

Dia menyebut, pada era modern, pemborosan energi listrik dan ketergantungan pada bahan bakar fosil telah memicu pencemaran lingkungan (termasuk polusi udara), perubahan iklim, dan meningkatnya bencana ekologis yang kini semakin nyata dirasakan masyarakat.

Pemborosan energi listrik, eksploitasi bahan bakar fosil secara berlebihan, dan gaya hidup boros energi merupakan bentuk israf kontemporer yang berdampak sistemik.

Dampaknya tidak hanya bersifat individual, tetapi meluas menjadi kerusakan lingkungan, pencemaran udara, perubahan iklim, dan meningkatnya bencana ekologis yang kini semakin nyata dirasakan masyarakat.

“Sebagai contoh, sebagian mufasir seperti Al-Qurthubi memaknai ayat ini sebagai peringatan agar manusia menjaga keseimbangan (tawazun) dalam memanfaatkan nikmat Allah. Karena setiap hal yang berlebih-lebihan akan melahirkan kerusakan,” ujarnya.

Dalam konteks energi modern, pesan ini menegaskan pentingnya transisi dari pola konsumsi yang eksploitatif menuju pemanfaatan energi yang efisien, bersih, dan berkelanjutan.

Dengan demikian, pengembangan energi terbarukan bukan hanya pilihan rasional secara ilmiah, tetapi juga manifestasi ketaatan terhadap nilai qurani tentang anti pemborosan dan penjagaan kelestarian bumi.

“Puasa mendidik manusia untuk hidup hemat, efisien, dan sadar batas. Nilai ini sejalan dengan prinsip energi berkelanjutan yang menekankan keseimbangan antara kebutuhan hari ini dan hak generasi mendatang,” sambungnya.

Ramadan juga menumbuhkan empati, dengan merasakan lapar dan keterbatasan, manusia diajak memahami penderitaan pihak lain.

Dalam konteks energi dan lingkungan, empati ini dinilai seharusnya meluas kepada generasi mendatang yang akan menanggung dampak dari pilihan energi hari ini.

Ketika manusia terus bergantung pada energi kotor dan sumber daya yang boros, sesungguhnya ia sedang mewariskan krisis kepada anak dan cucunya.

“Ketika nilai Ramadan dipadukan dengan ilmu energi hijau, lahirlah kesadaran bahwa ibadah kepada Allah tidak terpisah dari kepedulian terhadap bumi. Menjaga lingkungan adalah bagian dari iman, dan membangun sistem energi berkelanjutan adalah salah satu bentuk ibadah sosial yang paling relevan bagi umat Islam di abad ini,” tambahnya. (*/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#dosa #UMY #lingkungan #energi berkelanjutan #dosen umy #etika #pemborosan energi #ramadan