Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Teliti Lima Titik Pergerakan Tanah di Bantul, BPBD Gandeng BPPTKG dan UGM

Cintia Yuliani • Selasa, 10 Maret 2026 | 22:19 WIB

 

 

POTENSI LONGSOR: Rumah warga di Perumahan Taman Semesta Asri, Padukuhan Guwo RT 3, Kalurahan Triwidadi, Kapanewon Pajangan yang terdampak pergerakan tanah.
POTENSI LONGSOR: Rumah warga di Perumahan Taman Semesta Asri, Padukuhan Guwo RT 3, Kalurahan Triwidadi, Kapanewon Pajangan yang terdampak pergerakan tanah.

BANTUL - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul mencatat terdapat lima titik pergerakan tanah di wilayahnya. Lima titik itu berada di Sompok, Sriharjo, Imogiri; Wunut, Sriharjo, Imogiri; Gampeng, Triwidadi, Pajangan serta dua perumahan di Guwo, Triwidadi, Pajangan; dan Jambon, Argosari, Sedayu.

Kepala BPBD Bantul Mujahid Amrudin mengatakan, pihaknya telah bekerja sama dengan Badan Geologi Bandung dan UGM yang dilaksanakan oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta.

Penelitian pergerakan tanah telah dilakukan di Padukuhan Sompok dan Wunut, Kalurahan Sriharjo, Imogiri, Senin (9/3). "Di Sompok jelas tanah ambles, ada penelitian geolistrik. Lalu di Wunut juga geolistrik,"  jelasnya saat ditemui Pemkab Bantul, Selasa (10/3).

Sementara itu, tanah bergerak di Padukuhan Gampeng, Triwidadi, Pajangan; Guwo, Triwidadi, Pajangan, dan Jambon, Argosari, Sedayu pada Selasa (10/3) baru dilakukan penelitian.

Ia mengatakan, Badan Geologi membutuhkan waktu lima hari untuk melakukan penelitian. Di tanggal 9 sampai 10 Maret Badan Geologi melakukan penelitian ke lokasi, sedangkan di tanggal 11 sampai 12 Maret akan mengolah data dan membuat rekomendasi. "Rencana Jumat nanti akan ada presentasi,” tuturnya.

Ia berharap Jumat hasilnya bisa keluar, sehingga rekomendasinya bisa dikoordinasikan dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, pihak pengembang perumahan, maupun dengan masyarakat sekitar.

Atas kejadian itu, BPBD Bantul merekomendasikan rumah yang terdampak untuk tidak ditinggali. Sebab, sudah tidak layak dihuni karena terlalu berisiko.

Pergerakan tanah di Wunut, Gampeng, Guwo, Jambon, kata dia, baru kali pertama terjadi karena faktor curah-hujan yang tinggi.

Terkait dua perumahan yang terdampak, kata dia, pihak pengembang itu telah bertanggung jawab melakukan perbaikan jalan maupun akses di titik lokasi.

Sampai saat ini, pihaknya masih terus berkoordinasi dengan FPRB setempat, dukuh, lurah untuk memberikan informasi terkait kondisi perkembangan dua perumahan tersebut.

 

 

BPBD DIY Melakukan Kajian di Lokasi Terdampak Pergeseran Tanah di Bantul;  Baru Kali Ini  Terjadi di Jogjakarta

BPBD DIY mulai menyoroti kasus tanah bergerak di beberapa titik di Kabupaten Bantul dan segera melakukan kajian bersama dengan instansi terkait.

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD DIY Agustinus Ruruh Haryata mengatakan, ia menerima laporan dari BPBD Bantul bahwa insiden terjadi pada 26 Februari lalu. Karena terjadi curah hujan dengan intensitas tinggi belakangan ini, semakin memperparah situasi.

"Pagi hari ini (Selasa), BPBD DIY dengan BPBD Bantul bersama-sama BPTKG melakukan assessment," ujarnya saat ditemui di Kompleks Kepatihan, Jogja, Selasa (10/3). 

Kajian itu untuk mengetahui penyebab dari pergeseran tanah. Hal itu agar tindakan yang dilakukan berdasarkan riset ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan. Hasil kajian juga bisa untuk memetakan lokasi mana saja yang menjadi kawasan rawan mengalami pergeseran tanah. 

"Cakupannya sampai ke luasan berapa. Itu nanti kami bisa dapatkan setelah ada kajiannya," bebernya.  Aspek alam, lanjutnya, perlu dilakukan pemcermatan mendalam. Harapannya cakupan potensi pergeseran tanah tidak meluas.

Penghuni dari 19 rumah terdampak di Triwidadi, Pajangan, menurutnya sudah diungsikan agar aman. "Sementara harus (diungsikan)," tegasnya. 

Menurutnya, kejadian pergeseran tanah baru kali ini terjadi di DIY. Tiga lokasi yang akan dilakukan kajian yakni masuk  Kapanewon Sedayu, Pajangan, dan Imogiri. Proses kajian diakui membutuhkan waktu yang cukup panjang. 

"Kalau tanah bergerak baru kali ini. Tapi kalau sinkhole kan sudah pernah ya di Gunungkidul. Kalau tanah bergerak ini baru kali ini," jelasnya. (cin/oso/laz) 

 

Editor : Herpri Kartun
#UGM #tanah bergerak #BPBD Bantul #argosari #Pemkab Bantul