Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tanah Bergerak di Sedayu Bantul: Rumah Retak, Warga Mengungsi, Garis Polisi Terpasang

Iwa Ikhwanudin • Kamis, 5 Maret 2026 | 06:12 WIB

Ilustrasi tanah retak di Sedayu Bantul.
Ilustrasi tanah retak di Sedayu Bantul.

BANTUL - Musibah tanah bergerak kembali melanda kawasan permukiman di Kabupaten Bantul. Kali ini, warga Perumahan Graha Sedayu Sejahtera di Dusun Jambon, Kalurahan Argosari, Kapanewon Sedayu, dibuat cemas setelah pergerakan tanah merusak struktur bangunan rumah mereka pada awal Maret 2026.

Video amatir yang beredar di media sosial menunjukkan adanya retakan signifikan pada dinding dan lantai rumah. Aparat dari Kepolisian Sektor (Polsek) Sedayu bersama perangkat Kapanewon langsung turun ke lokasi pada Senin (2/3/2026) untuk melakukan pengecekan dan memastikan keselamatan warga.

Garis Polisi dan Pengungsian Mandiri

Akibat kejadian ini, aparat setempat telah memasang garis polisi di sekitar zona yang dianggap rawan untuk mencegah warga mendekati bangunan yang terancam rubuh. Sejumlah warga yang rumahnya paling parah terdampak memilih untuk mengungsi sementara ke rumah kerabat mereka demi menghindari risiko yang lebih besar.

"Perumahanku ini, yang retak itu blok atas katanya dulu tanahnya urug. Kalau blok tengah bawah aman alhamdulillah. Mudah-mudahan aman terus ya Allah… hujan gak berenti-berenti disini," tulis salah seorang warganet yang diduga merupakan penghuni perumahan tersebut. 

Dugaan Penyebab: dari Tanah Urug hingga Bekas Lahan Tebu

Warga sekitar dan warganet ramai berspekulasi mengenai penyebab utama pergerakan tanah di kawasan tersebut. Beberapa komentar menyoroti faktor historis lahan dan kondisi cuaca ekstrem yang melanda Jogja belakangan ini.

Berikut poin-poin penting yang menjadi sorotan warga:

1. Tanah Urug yang Belum Padat: Sejumlah komentar menyebutkan bahwa blok atas perumahan yang retak dibangun di atas lahan urugan yang mungkin proses pemadatannya belum sempurna.

2. Riwayat Lahan Pertanian: Seorang warganet berkomentar, "Perum Grasera kan dulu tanah sawah/pertanian bekas kedung jaman Majapahit, sebelum jadi perum dulu ditanami tebu." Hal ini mengindikasikan potensi struktur tanah yang labil karena merupakan lahan basah (sawah) yang dialihfungsikan.

3. Intensitas Hujan Tinggi: Curah hujan yang tinggi tanpa henti disebut sebagai pemicu utama, di mana air meresap ke dalam tanah dan memperlemah struktur tanah, terutama di area urugan.

Imbauan untuk Warga

Pihak berwenang melalui unggahan tersebut mengimbau warga, khususnya penghuni Perumahan Graha Sedayu Sejahtera dan sekitarnya, untuk meningkatkan kewaspadaan. Masyarakat diminta segera melapor kepada petugas jika menemukan tanda-tanda berikut:

· Munculnya retakan baru di tanah atau bangunan.

· Lantai yang terasa bergelombang atau tidak rata.

· Mendengar suara gemeretak dari struktur bangunan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul mengenai penyebab pasti dan jumlah pasti rumah yang rusak. Namun, kejadian ini kembali menyoroti pentingnya analisis kondisi tanah sebelum pembangunan perumahan, terutama di wilayah yang rawan pergerakan tanah. (iwa) 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#perumahan #sedayu bantul #Rumah Retak