Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jumlah Petani di Bantul Terus Menurun, Regenerasi Macet

Gregorius Bramantyo • Rabu, 13 Desember 2023 | 01:40 WIB
PRODUKTIF: Anggota kelompok Tani Bulus Kulon merontokkan padi menggunakan mesin di Kalurahan Sumberagung, Jetis, Bantul, Selasa (12/12). (Gregorius Bramantyo/Radar Jogja)
PRODUKTIF: Anggota kelompok Tani Bulus Kulon merontokkan padi menggunakan mesin di Kalurahan Sumberagung, Jetis, Bantul, Selasa (12/12). (Gregorius Bramantyo/Radar Jogja)

BANTUL – Jumlah petani di Kabupaten Bantul mengalami penurunan hingga 4 ribu orang di tahun 2023. Pada tahun 2022 ada 62.297 petani di Bantul. Saat ini jumlahnya berkisar di angka 58 ribu.

Ketua Gapoktan Patalan, Sumantri mengatakan, regenerasi petani menjadi salah satu faktor menurunnya jumlah petani. Regenerasi petani macet karena pekerjaan bertani saat ini dianggap tidak menguntungkan.

“Harga pupuk mahal sementara harga jual saat panen murah,” ucapnya, Selasa (12/12).

Menurutnya, biaya produksi juga tidak sebanding dengan hasil yang didapat saat panen. Hal itu membuat generasi muda tidak tertarik pada sektor ini.

Ia mengaku regenerasi petani di kelompok taninya seret. Karena tidak ada petani muda yang berminat. Adapun para petani yang tergabung dalam Gapoktan Patalan saat ini rata-rata sudah berusia tua.

Sumantri berharap pemerintah dapat mengupayakan regenerasi petani. “Saat ini kurangnya sosialisasi dari pemerintah untuk menjadi petani penerus,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan Ketua Poktan Nglebeng, Subandi. Ia mengungkapkan, regenerasi petani menjadi salah satu penyebab menurunnya jumlah petani.

Sebagian besar petani yang ada di kelompok taninya berusia di atas 50 tahun.

Subandi menyebut, di kelompok taninya sempat dibentuk taruna tani di tingkat gapoktan atau kalurahan. Namun taruna tani tersebut tidak berjalan hingga sekarang.

“Awalnya dibentuk untuk regenerasi menggantikan petani tua. Cuma dibentuk saja tapi tidak berjalan,” ungkapnya.

Selain itu, faktor lainnya adalah mahalnya biaya sarana produksi pertanian (saprodi) dan bannyaknya lahan tani yang beralih fungsi.

Para petani di kelompok taninya hanya berstatus sebagai penggarap lahan alias tidak memiliki lahan tani sendiri. Cara pembagian hasilnya pun dirasa masih menguntungkan pemilik lahan. Yakni, 50 banding 50.

Jumlah itu dirasa kurang menguntungkan bagi petani karena pemilik lahan tidak mengeluarkan biaya apapun. Sementara biaya saprodi ditanggung petani penggarap lahan.

“Ongkos bajak dengan traktor per seribu meter sekarang Rp 130 ribu, ongkos tanam Rp 250 ribu,” ujarnya.

Berdasarkan hasil pencacahan sensus pertanian 2023 Tahap 1 dari Badan Pusat Statistik DIY, terjadi penurunan jumlah Usaha Pertanian Perorangan (UTP) sebanyak 431.133 unit. Atau, turun 26,26 persen dari tahun 2013 sebanyak 584.689 unit.

Sementara jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian (RTUP) di DIY sebanyak 417.166 rumah tangga. Turun 15,86 persen dari tahun 2013 yang sebanyak 495.781 rumah tangga.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul Joko Waluyo menilai, penurunan itu disebabkan karena minimnya minat generasi muda di sektor pertanian. Karena dianggap sebagai pekerjaan yang tidak menjanjikan secara finansial.

Atas hal itu, pihaknya mendorong pengenalan dunia pertanian kepada generasi muda. “Kami baru mencoba pendekatan lewat SMK Pandak karena sekolah bergerak di sektor pertanian,” katanya.

Di SMK tersebut, para alumni digerakkan untuk memotivasi para siswa agar mau terjun ke dunia pertanian. Ia berharap generasi muda tidak malu untuk bertani.

“Kalau milenial bisa terjun di pertanian sebagai pengusahanya, bukan hanya terjun di sawah,” ucap Joko.

Meskipun jumlah petani semakin berkurang, Pemkab Bantul tetap berupaya agar produktivitas pertanian selalu meningkat dengan berbagai inovasi.

Joko menyebut, beberapa kelompok tani padi ada yang mampu mencapai hasil panen sebanyak 10,9 ton.

“Jadi sudah ada peningkatan. Rata-rata di Bantul 8,8 ton, tetapi banyak kelompok yang produktivitasnya lebih dari 10 ton,” jelas Joko. (tyo)

Editor : Amin Surachmad
#Bantul #Petani