Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dulu Ada Penataran P-4, Sekarang Anak Muda Tak Hafal Sila Pancasila

Kusno S Utomo • Kamis, 23 November 2023 | 14:15 WIB
AMALKAN SECARA NYATA: Anggota Komisi II DPR RI Ibnu Mahmud Bilalludin berbicara saat sosialisasi pembinaan ideologi Pancasila dengan warga Bantul.KUSNO S UTOMO/RADAR JOGJA
AMALKAN SECARA NYATA: Anggota Komisi II DPR RI Ibnu Mahmud Bilalludin berbicara saat sosialisasi pembinaan ideologi Pancasila dengan warga Bantul.KUSNO S UTOMO/RADAR JOGJA

RADAR JOGJA - Kedudukan Pancasila bukan hanya dasar negara. Pancasila juga menjadi ideologi dan pandangan hidup. Nilai-nilai luhur Pancasila harus terus diimplementasikan. Masyarakat harus mempratikkan dalam kehidupan sehari-hari.


“Karena itu Pancasila harus terus hidup dan dibicarakan di tengah masyarakat,” ajak Anggota Komisi II DPR RI Ibnu Mahmud Bilalludin di depan ratusan warga Kabupaten Bantul dalam kegiatan Sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila di Daerah yang diselenggarakan di Graha Santika Tamansari Jalan Pramuka 7 Trirenggo Bantul, baru-baru ini.


Ibnu kembali menegaskan, sebagai dasar negara, Pancasila adalah satu-satunya di dunia. Hanya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang punya Pancasila. Negara tetangga Indonesia seperti Malaysia, Singapura, Filipina maupun Timor Laste tak memilikinya.


“Bangsa Indonesia harus bersyukur mempunyai Pancasila yang digali dan dihasilkan dari pemikiran para pendiri bangsa,” cerita pria asal Srandakan, Bantul ini.


Ibnu menegaskan, cara menjaga dan melestarikan Pancasila hanya satu. Mengamalkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. “Jangan hanya disimpan dalam peti dan ditaburi bunga di atasnya,” katanya. Pancasila, lanjut dia boleh dikeramatkan. Dibiarkan tertinggal oleh perkembangan zaman. “Pancasila juga tidak boleh dikeramatkan dan menjadi usang. Jadikan sebagai pedoman berbangsa dan bernegara,” pintanya.


Sosialisasi yang diadakan Komisi II DPR RI itu bekerja sama dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Tak kurang dari 200 peserta dari berbagai kalangan mengikuti acara dari awal hingga selesai.


Direktur Penyusunan Rekomendasi Kebijakan dan Regulasi BPIP Johan J Mulyadi mengatakan, pada zaman dahulu Pancasila disosialisasikan secara masif. Forumnya antara lain melalui program Penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P-4) dari tingkat SD hingga perguruan tinggi. Juga ada pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) di sekolah. Kegiatan penataran P-4 secara berjenjang diadakan di era Orde Baru.


Kini seiring dengan perjalanan waktu, tak ada lagi kegiatan semacam Penataran P-4. Bahkan mata pelajaran PMP digabung ke dalam Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN). Pancasila tak lagi akrab di telinga. “Akibatnya banyak anak muda yang tidak lagi hafal dengan sila-sila Pancasila,” ucap Johan.
Narasumber lainnya adalah Arif Noor Hartanto. Tokoh pemuda DIY yang juga menjadi sekretaris Palang Merah Indonesia (PMI) DIY itu menilai Pancasila bukan hanya harus dirawat dan dilestarikan. Lebih dari itu, harus diwujudnyatakandalam kehidupan sehari-hari.


Dewan Pakar Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY Ahmad Syauqi Soeratno mengingatkan, konsep darul ahdi wa syahadah. Hasil kesepakatan bersama elemen seluruh bangsa, segala persoalan harus dibicarakan bersama. “Penyelesaiannya dengan musyawarah mufakat,” ingat Syauqi. (kus)

Editor : Satria Pradika
#nkri #pancasila