Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kisah Perjalanan Djoko Pekik dan Pesan Tersirat dalam Lukisan Berburu Celeng

Dwi Agus. • Minggu, 13 Agustus 2023 | 03:03 WIB
Djoko Pekik (Meitika Candra Lantiva/Radar Jogja)
Djoko Pekik (Meitika Candra Lantiva/Radar Jogja)


RADAR JOGJA - Kurator seni rupa Kuss Indarto menilai Djoko Pekik adalah contoh seniman perupa yang sukses. Tak hanya sekadar goresan cat dan kanvas namun juga memberikan nyawa dalam setiap lukisannya. Sehingga mampu mengantarkan cerita dibalik objek kepada para penikmat lukisannya.


Salah satu karya yang menurutnya tergolong sukses adalah Berburu Celeng. Karya ini mampu menjadi tonggak monumental bagi seorang Djoko Pekik. Tak cukup berbicara tentang nominal harga tapi juga isu sosial dibaliknya. Tepatnya masa-masa dari pemerintahan era Orde Baru ke fase Reformasi.


"Karya Pak Pekik menjadi suatu pemuncak transisi kondisi politik saat itu. Terutama atas peristiwa sebelumnya, Pak Pekik sebetulnya kalau di Lekra kan tidak memiliki posisi penting waktu itu, tapi karya-karyanya penting puluhan tahun setelah itu," jelasnya, Sabtu (12/8).

 


Diketahui bahwa Djoko Pekik sempat terlibat dalam wadah seniman yang bernama Lekra. Organisasi ini lalu dikaitkan dengan keberadaan Partai Komunis Indonesia. Inipula yang menguat Djoko Pekik sempat dipenjara selama tujuh tahun di penjara Benteng Vredeburg.


Djoko Pekik dan para seniman lainnya akhirnya bebas berkat campur tangan Presiden Soekarno. Berupa permintaan agar para seniman tidak dijadikan korban politik. Titah ini berhasil menyelematkan Djoko Pekik agar tak menjalani pengasingan ke Pulau Buru.


Selepas dari pesakitan, Djoko Pekik menjajal sejumlah profesi untuk menyambung hidup. Salah satunya adalah menjadi penjahit. Namun karena jiwa seninya yang membara, Sosok kelahiran Purwodadi, Jawa Tengah, 2 Januari 1937 ini kembali ke dunianya.


"Pak Pekik itu menjaga kualitas karyanya. Umpamanya dia pakai merek cat minyak Rembrandt, meskipun dia minta koretan atau sisa dari Maestro Affandi. Ini cerita dari pak Pekik," katanya.


Pada awal berkarya, kehadiran Djoko Pekik sempat ditolak oleh para seniman lainnya. Ini karena ada anggapan lulusan Akademisi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Jogjakarta pada 1962 ini terlibat pada gerakan kiri. Salah satunya adalah penolakan sebagai peserta pameran Kebudayaan Indonesia di Amerika Serikat (KIAS) medio 1990-an.


Namun, karena kurator pameran memiliki pandangan yang berbeda, Djoko Pekik tetap berangkat ke Amerika Serikat. Ini karena karyanya memiliki cerita yang saling melengkapi. Terutama untuk menggambarkan sejarah perjalanan seni di Indonesia.


"Akhirnya nama Pak Pekik melambung, banyak dicari, siapa sih kok sampai dijauhi para seniman-seniman yang nasionalis lah. Lalu namanya melambung memasuki 1998 dan momentum puncaknya lewat karya Berburu Celeng," ujarnya.


Karya ini menggambarkan serombongan orang sedang menggotong celeng. Sosok-sosok tersebut terlihat menggunakan sepatu lars. Kuss Indarto menuturkan sepatu ini identik dengan tentara.


"Orang pakai baju kuning, itu simbol Golkar yang jadi penyangga kekuasaan dan kekuatan Soeharto waktu itu dan orang-orang yang bertopeng, itu politisi-politisi yang mencari kesempatan dengan bertopeng sesuai dengan situasi saat itu," telaahnya.


Disatu sisi dalam perbincangannya dengan Djoko Pekik, telaah ini disanggah. Sang pelukis menegaskan bahwa karyanya tidak terkait dengan jatuhnya sebuah kekuasaan. Secara harafiah hanya penggambaran kebiasaan berburu celeng di tanah kelahirannya Purwodadi.


Walau begitu, Kuss meyakini ada pesan-pesan kuat dalam setiap karya Djoko Pekik. Terutama untuk bermain dengan simbol-simbol. Tentunya berkaitan dengan isu-isu dan kondisi yang ditemui Djoko Pekik dalam kesehariannya.


"Pesan itu sangat kuat dan Pak Pekik adalah orang yang terlatih puluhan tahun bermain di zona simbol visual seperti itu," ujarnya. (dwi)

Editor : Amin Surachmad
#Djoko Pekik #goresan cat #Kuss Indarto #Purwodadi