Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Keren! Tidak Hanya Jualan Cokelat tapi Pengalaman: Chocolate Kingdom, Hadirkan Museum hingga Tur Pabrik

Fahmi Fahriza • Minggu, 8 Februari 2026 | 05:05 WIB

 

MENGEDUKASI: Para pengunjung saat beraktivitas di Chocolate Kingdom Bangunjiwo.
MENGEDUKASI: Para pengunjung saat beraktivitas di Chocolate Kingdom Bangunjiwo.

JOGJA – Destinasi wisata di Kota Jogja tak hanya dikenal lewat Malioboro, Keraton, atau pantainya. Sebagai kota budaya, Jogja juga memiliki destinasi edukatif berbasis kuliner cokelat.

Salah satunya bernama Chocolate Kingdom yang berada di Bangunjiwo, Kasihan, Bantul.

Chocolate Kingdom ini merupakan rumah bagi Chocolate Monggo, merek cokelat artisan premium yang berdiri sejak 2005.

Lebih dari sekadar toko cokelat, Chocolate Kingdom menghadirkan pengalaman lengkap, mulai dari museum, pabrik yang bisa dikunjungi, kafe, hingga berbagai aktivitas interaktif bagi pengunjung dari segala usia.

Business Development and Company Chocolate Monggo Tri Widiantoro mengatakan, keberadaan destinasi ini memang dirancang sebagai ruang edukasi sekaligus destinasi wisata keluarga.

"Kalau Cokelat Monggo sebagai produk itu segmentasinya middle-up. Tapi Chocolate Kingdom sebagai tempat wisata itu untuk semua orang. Dari anak kecil sampai orang dewasa, karena konsep utamanya edukasi," ujar Tri, Jumat (6/2'/2026).

 Baca Juga: 11 Kecamatan di DIY Terdampak Gempa Pacitan, 40 Korban Luka Dirujuk ke Sejumlah Rumah Sakit

Tri menerangkan, perjalanannya bermula pada 2001, saat seorang warga Belgia bernama Thierry Detournay menetap di Jogja.

Saat stok cokelat dari negaranya habis, Thierry mencoba membeli cokelat lokal dan mendapati mayoritas produk di Indonesia sangat manis, meski Indonesia merupakan salah satu penghasil kakao terbesar dunia.

Berangkat dari situ, Thierry mulai membuat cokelat sendiri dengan standar Eropa. Pada periode 2002–2004, cokelat buatannya dijual secara sederhana menggunakan vespa pink di kawasan Malioboro, Gereja Kotabaru, hingga Sunday Morning Universitas Gadjah Mada (Sunmor UGM).

Baru pada 2005, lahirlah merek Chocolate Monggo, terinspirasi dari kata “monggo” yang identik dengan keramahan masyarakat Jawa.

Produksi awal dilakukan secara rumahan di Salakan, sebelum pindah ke Kotagede pada 2010. 

Seiring berkembangnya bisnis dan meningkatnya kebutuhan kapasitas produksi, Chocolate Monggo akhirnya membuka lokasi baru di Bangunjiwo pada 2017, sekaligus menghadirkan museum dan toko.

Pada 2022, seluruh aktivitas pabrik resmi terintegrasi di kawasan ini, yang kini dikenal sebagai Chocolate Kingdom.

 Baca Juga: Ketua Paguyuban Dukuh di Sleman Ditanya Dukungan Pilkada 2024, Tak Tahu Ada SK Bupati Penerima Hibah Pariwisata

"Sekarang semuanya sudah terintegrasi di Bangunjiwo. Di sini ada museum, toko, kafe, dan pabrik yang bisa dikunjungi. Jadi bukan cuma beli cokelat, tapi juga belajar prosesnya," kata Tri.

Untuk diketahui, salah satu daya tarik utama Chocolate Kingdom adalah museumnya. Pengunjung diajak menelusuri sejarah cokelat dunia, perjalanan Chocolate Monggo, hingga proses pengolahan kakao.

Menariknya, museum ini juga menampilkan artefak asli dari berbagai negara, termasuk dari Ekuador, yang mengklaim sebagai tempat pertama ditemukannya kakao, serta peralatan minum cokelat dari Prancis yang dahulu digunakan kalangan bangsawan.

 Baca Juga: Anggota DPRD Kebumen Khanifudin Divonis Dua Tahun, Penasihat Hukum Nyatakan Pikir-Pikir

"Sekarang kita punya benda-benda masterpiece, seperti gelas minum cokelat berlapis emas dari Prancis dan artefak dari Ekuador. Karena itu museumnya kami renovasi, supaya storytelling-nya bukan cuma lewat gambar, tapi juga lewat bukti nyata," jelasnya.

Museum ini baru saja tampil dengan wajah baru dan dibuka kembali melalui soft opening pada Februari ini, sebagai bagian dari penguatan konsep wisata edukatif.

Secara segmentasi para pengunjung yang hadir ke Chocolate Kingdom sangat beragam. Mulai dari keluarga, siswa sekolah, mahasiswa, hingga rombongan pekerja kantoran.

 Baca Juga: Derby Mataram Berakhir tanpa Gol, PSIM Jogja dan Persis Solo Berbagi Angka Satu poin

Dalam praktiknya, tidak hanya melihat-lihat, pengunjung juga bisa mengikuti berbagai aktivitas, mulai dari tur pabrik, chocolate tasting, hingga praktik membuat cokelat atau praline dalam program chocolate experience.

Menurutnya, pendekatan tersebut sengaja dibuat untuk menanamkan pemahaman sejak dini tentang cokelat yang berkualitas.

"Kita ingin edukasi yang bikin orang gemuk atau gigi rusak itu gulanya, bukan cokelatnya.

Cokelat yang bagus itu pakai cocoa butter murni, bukan minyak nabati. Itu yang ingin kita tanamkan lewat museum dan tur pabrik," ujarnya.

 Baca Juga: Dukung Pilkada 2029 Dipilih lewat DPRD, Gerindra Gunungkidul Bakal Jagokan Joko Parwoto Maju Bupati

Adapun, bahan baku kakao yang digunakan Chocolate Monggo seluruhnya berasal dari Indonesia, seperti Aceh, Sulawesi, Flores, Jawa Timur, hingga sebagian kecil dari Jogja sendiri.

"Sebagai destinasi wisata, Chocolate Kingdom juga menyediakan kafe dengan berbagai menu turunan cokelat, mulai dari minuman cokelat, dessert, cake, biskuit, hingga gelato berbahan alami," paparnya.

Secara umum, untuk produk cokelatnya sendiri, harga dibanderol mulai Rp30 ribu per batang, praline dijual per gram sekitar Rp1.500–Rp 2.000, hingga paket premium yang mencapai Rp 850 ribu per boks.

 Baca Juga: BKPP Sleman Terima Keluhan PPPK Paruh Waktu Yang Belum Bergaji UMK, Didominasi Guru dan Tenaga Pendidik

Selain di Bangunjiwo, ia juga memiliki gerai di Tirtodipuran dan Benteng Vredeburg, kawasan Malioboro.

Namun hanya Bangunjiwo yang menyediakan fasilitas museum dan kunjungan pabrik.

"Chocolate Kingdom Bangunjiwo buka setiap hari pukul 09.00-18.00, sementara gerai Tirtodipuran melayani pengunjung hingga malam," lontarnya.

Tri menyampaikan, bagi Chocolate Monggo, wisata edukasi bukan sekadar pelengkap bisnis, melainkan investasi yang disiapkan untuk jangka panjang.

"Kami tidak cuma jualan cokelat. Edukasi itu bentuk kepedulian sosial kami. Anak-anak sekolah, keluarga, siapa pun bisa datang. Harapannya orang paham kenapa cokelat berkualitas itu prosesnya panjang dan nilainya berbeda," tuturnya. (iza/wia)

 

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Kota Jogja #Tur Pabrik #destinasi edukatif #Chocolate Kingdom #Bangunjiwo #museum #destinasi wisata #cokelat