Di antara deretan destinasi wisata di kawasan Candi Borobudur, kini muncul satu tujuan baru yang tak hanya menawarkan pemandangan, tetapi juga pengetahuan. Lahan di kawasan pertanian di Desa Bigaran, Borobudur berubah menjadi ruang belajar terbuka bernama Zahira Farm Borobudur, tempat di mana pertanian dan pendidikan berpadu dalam bentuk eduwisata melon.
Di sana, pengunjung bukan sekadar datang untuk memetik buah, tetapi diajak memahami bagaimana proses budidaya melon modern dilakukan sejak benih hingga panen. Anak-anak sekolah hingga rombongan keluarga bisa melihat proses penanaman hingga panennya melon.
Begitu greenhouse milik Zahira Farm, tampak deretan ratusan tanaman melon. Total ada tiga greenhouse yang dimiliki. Setiap greenhouse mampu menampung hingga 500 pohon melon yang ditanam secara teratur dengan sistem irigasi tetes semi-timer.
Melalui sistem ini, setiap tanaman mendapat jatah air sekitar 300 mililiter per hari, disalurkan langsung ke akar menggunakan pipa kecil. Cara ini menjaga kelembapan tanah sekaligus mencegah penyakit tanaman akibat kelembapan berlebih.
"Setiap pohon punya pipa air sendiri. Anak-anak biasanya heran kok bisa tanaman disiram tanpa ember. Dari situ mereka mulai bertanya, dan di situlah edukasinya dimulai," jelas pemilik Zahira Farm, Muhammad Muhaimin di kediamannya, Jumat (17/10).
Benih yang digunakan berasal dari varietas unggulan asal Thailand dan Jepang, yang dikenal karena rasa lebih manis dan warna daging yang cerah. Pengunjung belajar bagaimana benih direndam selama 30 jam, disimpan di tisu lembap semalam, lalu dipindah ke media tanam.
Sepuluh hari kemudian, bibit yang tumbuh dipindahkan ke pot di dalam greenhouse. Kegiatan seperti ini, kata dia, praktis menjadi pengalaman yang baru pengunjung. Tidak hanya sekadar mendapat buah melon itu sendiri, melainkan tahu proses penanamannya.
Daya tarik lain dari Zahira Farm adalah aktivitas petik melon sendiri. Pengunjung dapat memilih buah langsung dari pohonnya dan mencicipi hasil kerja tangan para petani. Harga melon premium di lokasi dibanderol Rp 25 ribu per kilogram.
Namun, kegiatan petik buah di sini bukan sekadar jual beli. Setiap panen dijadikan momen belajar tentang proses penentuan tingkat kematangan buah, perawatan selama masa tanam, hingga cara menjaga kualitas rasa. "Kami ingin orang paham kenapa satu buah melon bisa berbeda harga. Dari situ mereka belajar menghargai proses dan tenaga di balik setiap panen," ujar Muhaimin.
Zahira Farm tak hanya berperan sebagai ladang produksi, tetapi juga laboratorium terbuka untuk pendidikan pertanian. Banyak sekolah menjadikannya bagian dari program outing class atau kegiatan tematik lingkungan.
Di sinilah siswa belajar konsep sains terapan, mulai dari penguapan, fotosintesis, hingga manajemen air, semua dijelaskan melalui praktik nyata. Daripada hanya belajar di buku, mereka bisa melihat langsung bagaimana tanaman tumbuh, bagaimana suhu memengaruhi hasil panen.
Dengan pendekatan ramah lingkungan, transparansi proses tanam, dan sentuhan edukatif, wisata pertanian ini menghadirkan pengalaman baru bagi wisatawan: belajar menanam, menikmati hasil, dan memahami nilai dari setiap buah yang tumbuh.
"Kami ingin orang datang bukan cuma untuk membawa buah melon, tapi pulang membawa pengetahuan baru," kata Muhaimin. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo