Di tepi Sungai Pabelan, Dusun Ngentak, Sawangan, Kabupaten Magelang, sebuah destinasi wisata baru hadir dengan konsep yang tak biasa. Namanya Homosapiens Park. Destinasi ini merupakan satu wahana edukasi keluarga yang mengajak pengunjung menelusuri jejak peradaban manusia purba.
Sejak resmi dibuka pada 1 April 2025, destinasi seluas dua hektare ini mulai mencuri perhatian wisatawan, tidak hanya dari Magelang, tetapi juga dari luar daerah. Suasana alami di tepi sabo dam Watu Nganten, dengan latar pemandangan Gunung Merapi dan perbukitan Menoreh, menjadi daya tarik tersendiri.
Pengelola Homosapiens Park Magelang Heri Nugroho mengaku, destinasi ini hadir karena ingin ada wisata berkonsep menarik. Tidak sekadar melihat pemandangan, tapi juga wisata edukasi agar orang mau kembali lagi.
"Kalau manusia purba biasanya hanya bisa dilihat di museum. Di sini, kami gabungkan kisah peradaban dengan suasana alam. Jadi wisata edukasi sekaligus rekreasi," kata Heri.
Memasuki area utama, pengunjung akan disambut lorong pameran yang menampilkan lukisan perkembangan masyarakat prasejarah. Dari zaman Arkaikum hingga Neolitikum, lorong ini memberikan gambaran bagaimana manusia purba bertahan hidup. Dari berburu, meramu, hingga mengenal pertanian sederhana.
Setelah melewati lorong, pengunjung tiba di taman terbuka yang dihiasi patung-patung manusia purba. Suasana permukiman zaman batu digambarkan dengan detail, lengkap dengan papan informasi di setiap titik. Bagi rombongan, pengelola juga menyediakan pemandu untuk menjelaskan narasi sejarah secara lebih mendalam.
Tiket masuknya pun ekonomis, yakni Rp 15 ribu per orang pada hari biasa dan Rp 20 ribu saat akhir pekan atau hari libur. Bagi sekolah yang datang berombongan, Homosapiens Park menyediakan paket khusus agar lebih terjangkau.
Sebagai pelengkap, tersedia area perkemahan di tepi sungai yang menawarkan pengalaman bermalam di alam terbuka. Tak jauh dari lokasi, deretan UMKM lokal juga dilibatkan untuk menyajikan makanan dan minuman khas, sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan warga sekitar.
Heri menyebut, pengelola tak berhenti berinovasi. Ke depan, Homosapiens Park akan menambah wahana tentang peradaban manusia kuno hingga miniatur tujuh keajaiban dunia.
"Kami ingin destinasi ini terus berkembang, tidak ditinggalkan pengunjung. Harapannya bisa bermanfaat bagi masyarakat, sekaligus menjadi ruang belajar sejarah yang menyenangkan," ujarnya.
Dengan konsep unik yang menggabungkan edukasi, rekreasi, dan keindahan alam, Homosapiens Park perlahan mulai menjadi destinasi alternatif baru di lereng Merapi. Sebuah tempat di mana sejarah manusia purba hidup kembali di tengah panorama alam Magelang yang memukau. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo