SLEMAN - Kabupaten Sleman memiliki banyak destinasi alam yang eksotis. Salah satunya yang terletak di kaki Gunung Merapi, yakni Grojogan Watu Purbo.
Wisata ini berlokasi di Bangunrejo, Merdikorejo, Kapanewon Tempel. Daya tarik utama air terjun ini karena memiliki enam tingkatan dengan tinggi berbeda-beda.
Salah satu pengelola Grojogan Watu Purbo Sarjiman menjelaskan, awalnya lokasi ini merupakan bendungan untuk jalur lahar dingin dari Gunung Merapi.
Bendungan ini berfungsi untuk menahan aliran lahar yang membawa material vulkanik saat terjadinya erupsi. Lalu pada 2017 baru mulai dikembangkan sebagai destinasi wisata. Selanjutnya, diresmikan pada 21 November 2010.
"Sekarang jumlah wisatawan harian 200 sampai 300 orang. Puncaknya bisa 3.000 orang," katanya.
Sarjiman bercerita, keindahan dari tingkatan air terjun ini berhasil menarik para sutradara untuk menjadikannya sebagai lokasi syuting. Salah satunya adalah Hanung Bramantyo melalui filmnya Gowok: Kamasutra Jawa.
Selain itu, ada Arwin Tri Wardhana dengan filmnya Losmen Bu Broto The Series. Dia turut menyebut grojogan ini pernah digunakan untuk syuting iklan pipa air.
"Kalau dipakai buat film biasanya pengunjung dialihkan. Boleh masuk tapi dijaga," katanya.
Grojogan Watu Purbo juga ini pernah di-booking. Sehingga pengunjung benar-benar tidak boleh masuk ke lokasi air terjun. "Dulu memang ketika viral banyak promosi dari acara televisi nasional datang ke sini," tambahnya.
Berdasarkan pantauan Radar Jogja di lokasi terdapat banyak pepohonan yang membuat suasana sejuk. Selain itu, terdapat pendopo untuk istirahat maupun wahana permainan anak. Lokasinya juga bersih dan terdapat banyak tempah sampah.
Untuk sampai di air terjun sendiri pengunjung perlu berjalan kaki menuruni tangga. "Kalau pengunjung mau renang juga bisa karena ada lokasi yang cekung," kata Sarjiman.
Untuk bisa menikmati wisata ini pengunjung hanya perlu membayar biaya parkir sebesar Rp 2.000 untuk sepeda motor. Sementara mobil Rp 5.000. Lalu untuk tiket masuk satu orang sebesar Rp 5.000.
Hal yang menarik lain di lokasi adalah adanya banyak tumpukan batu-batu. Di susun dari bawah mulai yang terbesar hingga terkecil sehingga membentuk semacam gunung kecil. Batu-batu ini ada di bagian air terjun hingga tanang kosong di sekitarnya.
Sarjiman mengatakan, tumpukan batu tersebut awalnya dibuat oleh warga sekitar untuk menambah daya tarik. Namun, banyak diikuti oleh wisatawan yang datang.
Dia menyebut mereka yang berhasil menyusun batu tanpa rubuh berarti memiliki kesabaran yang tinggi. "Sebenarnya kalau dilakukan itu susah natanya," tambah dia.
Meski demikian, Sarjiman bercerita wisata ini tidak lagi seramai dulu. Debit air terjun juga berkurang lantaran adanya tambang pasir. Kondisi ini juga membuat air menjadi lebih keruh.
"Kalau dulu ada tubing pakai ban. Kami sampai kewalahan saking ramainya, tapi sekarang sudah enggak ada," katanya.
Dia berharap wisata Grojogan Watu Purbo ini bisa kembali ramai seperti semula. Untuk saat ini sendiri pengelola sedang berusaha menambah wahana kolam renang. "Harapannya bisa menarik pengunjung dan di sini bisa maju," tandasnya. (del/pra)
Editor : Heru Pratomo