BANTUL - Wilayah Bantul dan Gunungkidul secara umum memiliki berbagai pilihan destinasi pantai dan wahana air. Dari banyaknya pantai yang tersedia, setidaknya ada satu pantai yang kondisinya memprihatinkan, yakni Pantai Kuwaru yang berada di Poncosari, Srandakan, Bantul.
Salah satu penyebabnya, pantai tersebut terbengkalai sejak adanya abrasi pantai yang berulang kali terjadi. Akhirnya, kunjungan wisatawan juga terus menurun dan tidak lagi jadi pilihan untuk berwisata.
Merespons hal ini, Dosen Prodi Bisnis Perjalanan Wisata Sekolah Vokasi (SV) Universitas Gadjah Mada (UGM) Ghifari Yuristiadhi mengungkapkan, ada beberapa faktor internal dan eksternal yang memengaruhi sebuah objek wisata bisa mati atau terbengkalai.
"Termasuk Pantai Kuwaru itu. Sependek ingatan saya, memang dulu pantai itu sempat ramai dikunjungi. Sekitar 2010-2015-an," katanya kepada Radar Jogja, Jumat (21/3).
Dari pantauannya, secara garis besar abrasi memang berdampak cukup signifikan terhadap Pantai Kuwaru. Di samping itu beberapa alasan internal lain seperti kurangnya perawatan, inovasi, hingga promosi juga jadi pemicu tambahan yang cukup kompleks.
"Area itu kan berdekatan dengan beberapa pantai lainnya. Jika promosi dan perawatannya tidak maksimal, maka akan ditinggalkan pengunjung," ungkapnya.
Ghifari menyadari betul berlimpahnya pilihan pantai di DIY, terutama wilayah Bantul dan Gunungkidul, secara tidak langsung juga menjadikan wisatawan memiliki opsi yang teramat banyak.
Dari karakteristiknya, wisatawan akan mengunjungi pantai yang memang sudah terkenal. Atau malah mengeksplorasi pantai yang belum banyak orang tahu.
"Sementara jika datang ke suatu pantai dan ternyata tidak puas, entah dari suasana atau fasilitas, maka kecil kemungkinan mau datang lagi," paparnya.
Ada juga beberapa faktor eksternal yang mungkin memengaruhi mati dan terbengkalainya Pantai Kuwaru. Seperti abrasi yang merupakan gejala atau bencana alam, kurangnya dukungan pendanaan atau sumber daya manusia (SDM) dari pemerintah terkait, hingga pergeseran minat wisatawan.
Ia menerangkan, secara umum pantai di DIY memiliki ragam potensi dan keunikan masing-masing. Hal itu perlu dicermati baik oleh pemerintah daerah, maupun kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang bersangkutan di kawasan pantai terkait. "Pengelola harus paham apa potensi yang dimiliki pantai dan apa yang harus digencarkan," bebernya.
Ghifari merinci, ada pantai yang memang potensial untuk dijadikan objek wahana air hingga berenang. Kemuidian ada pantai yang melimpah dengan habitat ikan dan jadi sandar kapal, atau bahkan pantai yang cocok untuk penangkaran penyu atau tukik. "Itu semua harus disadari. Tidak bisa asal digeneralisasi dan dipaksakan jadi objek wisata," pesannya.
Secara pribadi Ghifari sendiri sangat menyayangkan Pantai Kuwaru kini sudah tidak lagi beroperasi sebagai objek wisata. Lebih lanjut ia berpesan, karakteristik tiap pantai harus dipahami betul, agar kasus serupa Pantai Kuwaru tidak terjadi di pantai lainnya.
"Karena sangat disayangkan kalau potensinya tidak dimaksimalkan dan malah terbengkalai seperti itu," ujarnya. (iza/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita