RADAR JOGJA - Jika menyebut Candi Gebang, rerata akan membayangkan ruas jalan di Sleman. Belum banyak yang mengetahui jika itu adalah nama sebuah candi. Ya, di Dusun Gebang, Kelurahan Wedomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman berdiri situs bersejarah bernama Candi Gebang.
Meski berukuran mungil, bangunan ini adalah saksi bisu peradaban Mataram Hindu. "Candi Gebang ini salah satu candi tertua di Mataram Kuno untuk pemujaan Dewa Siwa," ujar tokoh masyarakat setempat, Aswin Langgoso, Jumat (9/8).
Candi Gebang sendiri hanya berukuran 5,25 × 5,25 meter. Sementara tingginya 7,75 meter. Di dalam candi yang menghadap ke timur ini terdapat Yoni. Sementara di kanan dan kiri pintu masuk ada relung dengan arca Nandiswara. Di sebelah barat juga terdapat relung yang berisi Ganesa.
Baca Juga: BRI Liga 1: Bali United Sikat Persik Kediri, PSIS Semarang Takluk dari Persita Tangerang
Baca Juga: Di Balik Bulunya yang Indah, Ini Dia 5 Fakta Menarik tentang Burung Cendrawasih
Menurut Aswin, candi ini dibangun pada abad tujuh di era Sanjaya. Salah satu keunggulan candi ini adalah reliefnya yang kuno, bahkan jika dibandingkan dengan Candi Prambanan. "Kalau eksis secara wisata memang kurang, tetapi di bidang peribadahan, Candi Gebang salah satu yang terbaik," tuturnya.
Pengunjung di candi ini memang sepi. Di hari-hari biasa hanya terdapat satu hingga dua pengunjung. Sementara di akhir pekan, paling banyak 15 pengunjung. Padahal, harga tiket masuk candi untuk wisatawan domestik hanya Rp 6.000. Sementara wisatawan mancanegara, Rp 10.000.
Menurut Aswin, masih banyak pihak yang melakukan ibadah di candi ini, termasuk dari Kalimantan dan Sumatera. "Di sini ada juga satu orang Bali yang setiap malam Kliwon melakukan pemujaan sampai sekarang," tuturnya.
Aswin sendiri sedikit menyayangkan, potensi dan sejarah panjang dari Candi Gebang ini masih belum banyak disadari. Menurutnya, orang-orang hanya melihat nilai candi ini dari jumlahnya yang hanya satu dan ukurannya yang mungil. "Sampai sekarang, orang di sini kadang kalau bangun rumah masih nemu batu candi. Bukan tidak mungkin kalau ini sesungguhnya kompleks yang besar," tutur Aswin.
Menurutnya, kesadaran masyarakat yang kurang membuat batu-batu yang ditemukan tersebut kerap dijadikan bahan pondasi. Oleh sebab itu, ketika ada laporan batu ditemukan, tak jarang Aswin akan mengambil dan menaruhnya di area candi. "Saya cuma sadar aja kalau di sini punya potensi. Wilayah yang dipilih untuk membangun candi pasti spesial," tuturnya.
Dia sendiri belum mengetahui pasti alasan Dusun Gebang dipilih untuk dibangun candi. Bisa jadi karena energi yang bagus, sumber pangannya baik, atau tempatnya strategis. Apapun itu, Aswin yakin ini adalah tanah terbaik. Dengan segala potensi itu, Aswin menilai semestinya banyak pengembangan yang bisa dilakukan. "Saya lihat dari foto 1937 sampai sekarang ya sama aja," keluhnya.
Menurutnya, pengembangan potensi ini bisa diawali dengan perbaikan akses jalan. Dengan demikian, pengunjung tidak perlu melewati jalanan yang tidak rata.
Aswin sendiri mengaku berencana membuat desa wisata bertajuk Gebang Park. Di sini seluruh potensi yang ada di wilayah, baik itu kuliner hingga permainan anak bisa dijadikan satu kesatuan. "Kalau lihat dari ukuran candi pasti berdebat soal potensinya. Tapi dengan kolaborasi pasti bisa menawarkan sesuatu yang baru," jelas Aswin. (cr1/pra)
Editor : Heru Pratomo