RADAR JOGJA - Destinasi wisata Puncak Sosok yang terletak di Pleret, Bantul sudah semakin dikenal para pelancong. Apalagi pada malam hari. Namun, siapa yang mengetahui destinasi, yang mengunggulkan view atau pemandangan dari ketinggian itu ternyata dahulunya merupakan lahan yang tandus dan gersang. Lokasi tepatnya berada di Padukuhan Jambon, Kalurahan Bawuran.
Hal tersebut dibenarkan oleh Ketua Pengelola Puncak Sosok Rudi Haryanto. Menurutnya, dahulu lokasi yang dijadikan Puncak Sosok hanya sebagai tempat warga sekitar nongkrong ketika malam hari. Kondisinya yang kering kerontang karena minimnya udara membuat tanahnya sulit untuk dijadikan pertanian produktif. Apalagi air hanya didapati ketika musim penghujan itu pun sering tidak kebagian karena lokasinya berada di puncak.
“Kami mulai mengelola tahun 2017 dengan pembuatan akses jalan serta fasilitas penunjang seperti parkir, warung, toilet, musala dan gazebo,” katanya kepada Radar Jogja, Jumat (19/7).
Baca Juga: Mengenal Sejarah Singkat Wisata Candi Plaosan, Monumen Balik Kisah Cinta Beda Agama
Setahun berselang pada 2018 dibangun panggung hiburan di Puncak Sosok. Menurutnya, terlebih dahulu sebelum dikelola menjadi destinasi wisata lahan di Puncak Sosok gersang ketika kemarau. Tanahnya sulit menampung udara karena konturnya banyak bebatuan.
Tidak dapat dimanfaatkan sebagai lahan pertanian sehingga warga berinisiatif untuk menyulapnya menjadi destinasi wisata. Ide tersebut dicetuskan karena memang Puncak Sosok yang memiliki ketinggian 210 meter dari permukaan laut (MDPL) dapat melihat pemandangan Kota Jogja. “Sore sunset, pagi sunrise itu semua bisa dilihat dari Puncak Sosok,” imbu Rudi.
Lahan yang dijadikan Puncak Sosok meliputi tanah kas desa (TKD) Bawuran, Sultanaat Ground, dan ada yang sebagian milik warga pribadi. Lahannya kurang produktif namun memiliki pemandangan yang ciamik ditambah sumber daya manusia (SDM) sekitar yang mendukung. Gayung bersambut dari Pemerintah Kalurahan Bawuran juga memiliki program pengembangan wisata kala itu.
Kondisi itulah yang akhirnya menyulap lahan gersang menjadi destinasi wisata baru di Bantul. “Sekarang sudah menjadi mata pencaharian pokok warga yang dahulunya buruh tani,” ujar Rudi. Saat ini warga Padukuhan Jambon sebagian besar bekerja di Puncak Sosok dengan berbagai macamnya.
Mulai dari tukang parkir, ticketing, di panggung, atau ada juga yang memiliki warung. Total ada 200 orang yang terlibat mengelola Puncak Sosok yang sebagian besar warga Jambon. Sekarang warga Jambon pendapatannya sudah mencapai UMR Bantul. Berbeda dahulu ketika menjadi buruh tani yang tidak sampai UMR Bantul. Namanya disebut Puncak Sosok karena memang warga sekitar dahulunya mengenal daerah itu dengan sebutan Sosok.
Rudi mengungkapkan, kunjungan wisatawan ke Puncak Sosok sekarang terhitung cukup banyak. “Kalau musim kemarau begini pengunjungnya bisa 40 ribu per,” tuturnya.
Baca Juga: Usai Komunitas Pesepeda, Kini Pelaku Wisata Dukung Singgih Raharjo Maju Calon Wali Kota Jogja
Sedangkan ketika musim penghujan kunjungan perbulannya hanya mencapai 25 ribu saja perbulan. Sedangkan untuk harian perhari pengunjung yang datang bisa mencapai 800 hingga seribu wisatawan pada momen weekday. Sedangkan weekend bisa mencapai 2 ribu hingga 3 ribu pengunjung.
Sementara itu, seorang pengunjung Nur Hidayat mengaku sering berkunjung ketika malam hari. Itu karena memang pemandangannya yang bagus ditambah ada hiburan live musik di Puncak Sosok.
Menurutnya, Puncak Sosok bisa menjadi alternatif tempat ngopi ketika jenuh dengan suasana kafe yang itu-itu saja. “Rumah saya kan dekat dari sini jadi kadang nongkrong sama teman di Puncak Sosok karena ingin mencari suasana baru,” tandasnya. (rul/pra)
Editor : Satria Pradika