Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sosok Noor WA, Seniman Teater yang Pernah Harumkan Nama Jogja lewat Pertunra

Cintia Yuliani • Minggu, 12 Juli 2026 | 09:00 WIB
Tokoh Dunia Teater Jogjakarta, Noor WA. DOK, RADAR JOGJA
Tokoh Dunia Teater Jogjakarta, Noor WA. DOK, RADAR JOGJA

BANTUL - Nama Noor WA pernah menjadi salah satu sosok yang cukup dikenal di dunia teater Jogjakarta pada awal 1980-an.
Meski tidak banyak meninggalkan karya teater panggung berdurasi panjang, kiprahnya dalam dunia pertunjukan rakyat (Pertunra), berhasil mengantarkan Jogjakarta menorehkan prestasi hingga tingkat nasional.
Seniman asal Jogjakarta Susilo Nugroho mengenang, Noor WA sebagai pendiri Teater Jeprik, kelompok teater yang kala itu aktif mengikuti ajang Pertunra yang diselenggarakan Departemen Penerangan Provinsi DIY pada masa Orde Baru.

Baca Juga: Optimalisasi TPST Modalan Masuk Tahap Lelang, Kapasitas Pengolahan Sampah Ditarget Naik Jadi 60 Ton

"Mas Noor WA dulu pernah di Teater Alam, kemudian mendirikan Teater Jeprik. Waktu itu memang lebih banyak bergerak di Pertunra yang diadakan Departemen Penerangan," ujarnya Jumat (10/7/2026).

Ia menjelaskan, Pertunra merupakan kompetisi pertunjukan rakyat yang digelar secara berjenjang, mulai tingkat kecamatan, kabupaten atau kota, provinsi, regional hingga nasional.

Dalam pertunjukan itu, seni drama dipadukan dengan penyampaian berbagai pesan pembangunan dan program pemerintah.

Baca Juga: Pesan Herry Zudianto terhadap Pembatasan JLFR: Dirangkul, Beri Sentuhan Seni dan Budaya, Pasti Jadi Daya Tarik Wisata

Menurut Susilo, Teater Jeprik yang mewakili Kecamatan Pakualaman berhasil menyabet juara tingkat kota, kemudian melaju hingga tingkat provinsi, regional, bahkan menjadi juara nasional.

"Waktu itu Pakualaman menang di tingkat kecamatan, lanjut mewakili Kota Jogja, menang lagi di provinsi, kemudian regional, sampai akhirnya juara nasional," kenangnya.

Namun, pada sekitar 1983, Teater Jeprik tidak lagi mengikuti kompetisi Pertunra. Susilo mengaku tidak mengetahui secara pasti alasan kelompok ini berhenti mengikuti perlombaan.

Baca Juga: Tuntut Pengembalian Aset Jarahan Inggris, Trah Sultan HB II Layangkan Gugatan Internasional

Pada tahun yang sama, giliran Kecamatan Mantrijeron yang tampil melalui kelompok yang kemudian dikenal sebagai Teater Gandrik. Kelompok ini sukses melaju hingga tingkat nasional dan meraih juara kedua.

"Saat Teater Jebrik tidak ikut lagi, yang mewakili Kota Jogja dari Mantrijeron. Setelah itu memakai nama Teater Gandrik dan berhasil sampai nasional, meski waktu itu meraih juara dua," jelas pria yang lebih dikenal sebagai "Den Baguse Ngarsa" ini.

Meski cukup sering bertemu dengan Noor WA dalam berbagai kegiatan teater di Jogjakarta, Susilo mengaku tidak memiliki kedekatan secara pribadi. "Kalau ketemu sering karena sama-sama di dunia teater. Tapi saya tidak begitu mengenal beliau secara pribadi," katanya.

Baca Juga: Mengambil Jeda Lewat Jalan Liar dan Rasan-Rasan, Cara Sederhana Anak Jogja Menolak Asing di Kota Sendiri

Susilo menilai, kekuatan Noor WA lebih terlihat dalam pengembangan Pertunra dibandingkan teater konvensional.

Pertunjukan yang digarap Noor WA umumnya berdurasi sekitar 45 menit hingga satu jam dengan menyisipkan pesan-pesan pembangunan, seperti program keluarga berencana (KB), pertanian, kesehatan, hingga penyuluhan hukum.

"Biasanya dipentaskan dalam berbagai acara masyarakat yang difasilitasi Departemen Penerangan," ungkapnya.

Menurut Susilo, pada era 1980-an Pertunra menjadi salah satu media komunikasi pemerintah yang efektif. Melalui pendekatan seni pertunjukan, berbagai program pemerintah dapat disampaikan kepada masyarakat dengan cara yang lebih mudah dipahami dan menghibur. (cin/laz) 

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Noor WA #Seniman Teater #Pertunra #Harumkan Nama Jogja #Teater Jeprik