RADAR JOGJA - Celana mambo sempat menjadi salah satu tren busana yang populer di era 1980-an. Pada masanya, celana dengan potongan khas ini banyak digunakan anak muda dalam berbagai aktivitas, terutama saat beraktivitas di ruang publik.
Salah seorang warga Krapyak Kulon, Panggungharjo, Sewon, Bantul Iwan RS mengaku pernah mengikuti tren celana mambo tersebut. Ia kerap mengenakan celana itu saat masih menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta.
Iwan bercerita, saat itu usianya sekitar 21 tahun dan celana mambo sedang berada di puncak popularitas. Celana itu biasa dipadukan dengan kaos dan digunakan untuk berbagai kegiatan. Mulai dari sekadar bermain hingga nongkrong di ruang publik.
"Pas kuliah dulu kayaknya memang lagi ngetren. Biasanya dipakai buat main, nongkrong dan kegiatan di ruang publik,” katanya saat ditemui di Balai Budaya Karangkitri, Panggunghario, Sewon, Selasa (3/2)
Tak hanya digunakan di Jogjakarta, Iwan juga mengaku pernah mengenakan celana mambo saat bepergian ke Jakarta. Menurutnya, celana itu dianggap sebagai pakaian yang trendi pada zamannya.
Ia bahkan memiliki tiga celana mambo dengan warna berbeda-beda. Harga satu celana mambo saat itu berkisar Rp 35 ribu. Untuk mendapatkannya, pria lulusan jurusan teater ini biasa membeli di pasar tradisional seperti Pasar Beringharjo. Juga bisa ditemukan saat pasar malam Sekaten yang kala itu ramai oleh pedagang pakaian.
Namun seiring berjalannya waktu, keberadaan celana mambo kini semakin jarang ditemui. Iwan menyebut, saat ini celana itu sudah tidak lagi dijual seperti dulu. "Kalau sekarang lebih sering pakai jins," jelas pria berusia 48 tahun itu.
Meski demikian, ia mengatakan celana mambo tetap menjadi bagian dari kenangan tren busana anak muda pada masanya, yang pernah mewarnai ruang-ruang publik dengan gaya khas era 80-an. (cin/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita