RADAR JOGJA - Tren gigi emas bukan hanya sebagai simbol status sosial. Namun juga berfungsi sebagai identitas seseorang pada tahun 2000-an.
Hampir satu dekade gigi emas menjadi bagian dari identitas Asmo Wasido warga Kalurahan Ngunut, Kapanewon Playen, Gunungkidul. Hal itu diungkapkan oleh cucu Asmo bernama Triyo Handoko.
Triyo bercerita, gigi emas yang dikenakan mendiang kakeknya agar dapat tampil beda dengan warga lain. Bahkan, dulunya menjadi informasi bagi orang-orang yang sedang mencarinya saat itu.
"Kalau ada yang tanya kakek saya, biasanya bilang Asmo yang pakai gigi emas, secara tidak langsung menjadi bagian dari identitas kakek saya," ujar Triyo kepada Radar Jogja Sabtu (28/12/2024).
Namun memang, pemakaian gigi emas juga sebagai simbol status sosial. Sebab, gigi emas dulunya hanya dipakai orang yang berkecukupan.
Menurut Triyo, sang kakek sering menceritakan bagaimana proses pemasangan gigi emas. Hanya dilakukan di sebuah klinik sederhana. Mungkin butuh waktu sejam lamanya untuk memasang gigi emas tersebut.
"Rasanya kalau sudah punya gigi emas, seperti punya harta yang bisa dibawa ke mana-mana," ucapnya.
Akan tetapi, kata Triyo, sang kakek juga menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah perawatan gigi palsu emas yang tidak semudah perawatan gigi biasa. Jika tidak sering dibersihkan dengan benar, akan mudah berkarat.
Sebab gigi emas yang dipakai saat itu, terbuat dari campuran logam yang dilapisi emas tipis. Meski tidak sepenuhnya emas, kilauan gigi palsu itu cukup untuk menarik perhatian.
Selain alasan pamer status sosial, penggunaan gigi palsu emas juga untuk menutupi gigi yang ompong akibat usia.
"Gigi emasnya memberi kepercayaan diri lebih ketika berinteraksi dengan orang lain, kalau tersenyum dengan gigi emas, orang langsung menghormati," tuturnya. (ndi/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita