RADAR JOGJA - Di Kabupaten Magelang terdapat pohon randu alas raksasa yang berdiri kokoh. Warga setempat memperkirakan pohon itu sudah berusia sekitar 500 tahun. Diameter kurang lebih 21,5 meter. Kendati demikian, pohon tersebut masih berdiri kokoh dan menjadi salah satu pohon yang dilestarikan.
Pohon randu alas itu letaknya di belakang rumah warga di Dusun Kapuranggan/Kebonrejo IV, Kebonrejo, Candimulyo. Dari kejauhan, pohon itu menjulang tinggi dengan banyak ranting dan dedaunan. Ada yang masih hijau, ada pula yang menguning.
Batang pohon randu alas itu cukup besar. Dua tahun lalu, warga setempat pernah mengukur diameter dari batang itu. Diameternya mencapai 21,5 meter. Tapi, pengukurannya dilakukan setinggi tubuh manusia, bukan dari bawah. Sementara beberapa bagian batangnya ada yang sudah ditumbuhi lumut.
Kasi Pemerintahan Pemdes Kebonrejo, Candimulyo Warno Suyudi mengatakan, pohon randu alas di belakang rumahnya itu sudah ada sejak ratusan tahun silam. "Bapak saya pernah bilang, sewaktu beliau masih kecil, pohonnya sudah besar," kata dia di rumahnya, Jumat (26/7).
Pada 2016 lalu, warga sempat mengukur diameter pohon randu alas itu. Hasilnya, sekitar 18,6 meter. Kemudian, ada yang pernah mengukur kembali dua tahun lalu. Pohon itu nampaknya semakin tumbuh besar karena diameternya mencapai 21,5 meter. Tapi, belum ada yang berani memanjat untuk menghitung ketinggiannya.
Tahun ini, warga belum mengukur lagi diameternya. Kemungkinan bertambah besar. Bahkan, ada seseorang yang pernah menawar pohon itu dan hendak dijadikan sebagai bahan bakar batu bata. Tapi, Warno tidak bertanya lebih jauh perihal nominal yang hendak dibayar.
Yang pasti, kata dia, calon pembeli itu bakal membayar dengan nominal yang tinggi. Apalagi sudah dirancang bagian-bagian untuk dusun, pemilik tanah, dan lainnya. Hanya saja, mengingat historis dari pohon itu, Warno enggan melepasnya.
Ada beberapa pertimbangan yang mendasari. Selain sudah berusia ratusan tahun, pohon itu dipercaya dapat mengurai air di bawahnya. Jika ditebang begitu saja, Dusun Kebonrejo IV akan kehilangan ikon yang sudah ada sejak lama itu.
Terlebih, kata dia, keberadaan pohon randu alas itu memunculkan sejumlah keanehan. Warno menceritakan, suatu ketika warga dusun hendak membuat musala. Saat hendak membakar batu bata, mereka tidak menemukan kayu. Tiba-tiba ada ranting dari pohon randu alas yang jatuh ke tanah.
Rantingnya, lanjut Warno, cukup besar. Warga pun semringah dan memanfaatkannya untuk menunjang pembangunan musala. "Sampai sekarang musala tersebut masih berdiri dan tidak pernah terjadi apa-apa," bebernya.
Selain itu, ada keanehan lain yang terjadi. Dahulu ada sebuah rumah yang berdiri di bawah pohon tersebut. Tetapi ketika ada ranting pohon yang patah, tidak pernah sekalipun menimpa rumah warga itu. Hal yang sama juga terjadi ketika angin kencang melanda.
"Saya nggak khawatir tumbang. Justru yang khawatir teman-teman saya. Warga sini sudah akrab. Kami yakin, yang punya alam pasti melindungi. Alhamdulillah batang sekecil apapun, belum pernah menjatuhi rumah," tambahnya.
Warno menyebut, sebelumnya banyak warga dari luar daerah yang datang ke pohon raksasa itu untuk bertapa. Namun seiring berjalannya waktu, hanya segelintir orang yang masih mempercayainya. Hanya saja ketika sanak-saudara jauh yang datang ke Dusun Kebonrejo IV, menyempatkan diri untuk berswafoto mengagumi kegagahan pohon tersebut.
Disinggung soal ruwat atau pemeliharaan pohon, dia mengaku tidak ada. Namun sesekali ada warga yang membersihkan dedaunan dan ranting di bawahnya. "Hanya sesekali. Tidak (dibersihkan) rutin. Yang membersihkan (menyapu), biasanya paman saya, Dulgani," terangnya.
Warga Dusun Kebonrejo IV Dulgani menyebut, dia merupakan generasi keenam yang mengetahui keberadaan pohon randu alas itu. "Usia saya 82 tahun. Saya jadi generasi keenam yang tahu pohon itu. Bahkan sejak saya masih kecil, pohon itu sudah sangat besar," sebutnya.
Dia menyebut, sudah sejak lama bebersih area pohon randu alas. Namun tidak dilakukan setiap hari. Konon katanya, di pohon itu ada binatang luwak. Binatang itu dipercaya sebagai jelmaan dari Raden Jowongso.
Suatu ketika Raden Jowongso hendak memanjat pohon randu alas untuk mengambil pepaya di sebelahnya. Ternyata pohon itu dihuni oleh seorang petapa. Lantas, Raden Jowongso disumpah menjadi luwak. Binatang itulah yang kini menjadi penghuni tetap pohon randu alas.
Bahkan, kata Dulgani, tidak seorang pun diperbolehkan memburu luwak tersebut. Karena diyakini akan mendatangkan mudarat. Sehingga di pohon raksasa itu ditempel sebuah papan berbunyi "dilarang berburu". Agar warga setempat tidak memburu luwak di pohon itu.
Dia menambahkan, dari cerita yang beredar, dahulu pohon itu kerap disambangi oleh prajurit kerajaan. Karena rimbun, para prajurit menjadikannya sebagai tempat berteduh dan istirahat.
Saat zaman penjajahan Belanda, Desa Kebonrejo juga digunakan sebagai tangsi atau markas militer tentara Belanda. Di daerah itu juga digunakan untuk bergerilya para pejuang kemerdekaan. (aya/laz)