RADAR JOGJA - Sekitar tahun 1980-an dulu banyak sekali diselenggarakan turnamen sepak bola plastik, baik diselenggarakan di lapangan atau ruang terbuka di tengah Kota Jogja. "Sewaktu saya masih SD sampai SMP, saya sering ikut turnamen sepak bola plastik di mana mana," ujar seorang saksi hidup sekaligus peserta turnamen sepak bola plastik di Kota Jogja, Widihasto Wasana Putra, kepada Radar Jogja, Jumat (16/2).
Ia menyampaikan, turnamen sepak bola plastik banyak diselenggarakan di berbagai wilayah Kota Jogja. Dari wilayah timur hingga barat, dulu bahkan dalam setahun diselenggarakan turnamen sepak bola plastik hingga 4-5 kali. "Kalau daerah timur saya pernah main di Lapangan Sidikan di samping XT Square itu. Kemudian yang paling sering itu di Sewandanan sisi timur," jelasnya.
Selain itu, Hasto juga sempat mengikuti turnamen yang diselenggarakan di daerah Prawirodirjan. Lapangan itu terletak di pinggir Kali Code. "Dulu konsepnya sudah turnamen profesional. Jadi ada biaya registrasi, teknikal meeting dan sebagainya," tuturnya.
Pada waktu itu, peserta yang mengikuti turnamen juga terbilang cukup banyak. Peserta berasal dari seluruh tim di Kota Jogja. "Sekitar 15-25 klub dengan sistem gugur. Pertandingan dilakukan beberapa hari, setiap hari dua kali permainan. Satu kali permainan, kalau tidak salah sekitar 15-20 menit," tambahnya.
Pada waktu itu, para pemain tidak menggunakan sepatu dan memakai bola plastik. Tetapi setiap tim mengenakan kostum kebanggaan mereka. "Paling sering diselenggarakan turnamen Yandi Sewandanan, Pakualaman," tandasnya.
Turnamen juga beberapa kali diselenggarakan di Kampung Sitisewu, Gowongan. Selain itu, daerah Pingit juga pernah menjadi venue turnamen sepak bola plastik. "Kalau Pingit di lapangan dekat Bioskop Arjuna. Jadi saya memang seneng ikut main di mana-mana. Pernah main juga di halaman Ndalem yang sekarang rumahnya Gusti Mangkubumi. Dulu kita nyebutnya Panembahan," ungkapnya.
Klub sepak bola plastik yang diperkuat Hasto bernama Jalesa FC (Jagalan Ledoksari). Para pemain Jalesa FC mayoritas penduduk lokal Kampung Jagalan, Ledoksari. "Kemudian saya ditarik ikut main di Persipur FC (Persatuan Sepakbola Purwokinanthi). Persipur itu nantinya berubah nama menjadi Okinawa FC," ujarnya.
Beberapa nama klub sepak bola plastik di Kota Jogja, di antaranya, Jalesa FC dari Kampung Jagalan, Ledoksari, Belger FC dari Kampung Belakang Geraja Klitren, dan Reno Muda FC dari Kampung Pakualaman dan SAS FC. "Seinget saya beberapa pemain yang saya kenal satu klub dengan saya dulu seperti Joko, Nunang, Apri, Eko dan Alpris," ujarnya.
Klub yang diperkuat Hasto pernah menjadi juara satu, runner up dan kalah. Hal itu karena seringnya turnamen sepak bola plastik di Jogja. "Hadiahnya uang dan trophi. Uangnya seingat saya hanya beberapa ratus ribu. Tapi dulu segitu udah gede," jelasnya.
Karena masih anak-anak, Hasto mengaku para pemain datang ke turnamen kebanyakan dengan jalan kaki bersama pengurus kampung. Sesampai di lapangan harus mengurus persyaratan dulu.
"Peraturannya dulu selain umur juga tinggi dibatasi. Uniknya dulu itu cara ukurnya cuma pakek tongkat. Kalau ada yang lebih dari tingkat gak boleh ikut," kelakarnya.
Hasto melihat fenomena sepak bola plastik di Kota Jogja saat ini sudah hilang. Hal itu dinilai karena minimnya ruang publik saat ini. "Dulu kan masih banyak lahan atau ruang publik. Di setiap kampung dulu pasti ada lapangan kecil. Sekarang sudah tidak ada lagi. Bahkan dulu setiap sore pasti kita main bola sampai Magrib," jelasnya.
Selain itu, beban jam sekolah anak sekarang juga dinilai terlalu padat. Hasto mengaku anak-anak pada zaman dulu sekolahnya cuma sampai pukul 13.00. "Sekarang kan pulang pukul 14.00, masih ditambah les. Jadi waktu untuk membangun kolektivitas atau bergaul jadi sedikit," tandasnya. (oso/laz)