RADAR JOGJA - Keahlian Yanto memperbaiki sepeda motor klasik sudah teruji. Status montir yang disandangnya diperoleh secara otodidak. Kemampuan individunya terus berkembang hingga akhirnya pelanggan berdatangan.
Bermarkas di Padukuhan Bogor II, Jalan Tapel Km 0,5, RT 24/06, Kalurahan Bogor, Kapanewon Playen, Gunungkidul, bengkel Yanto menjadi rujukan servis sepeda nomor jadul. Dia mulai membuka jasa bengkel mulai pukul 08.00 hingga malam. "Khusus hari Kamis libur," katanya.
Meski mengaku bukan bengkel spesialis sepeda nomor klasik, namanya cukup dikenal para komunitas motor lawas. Sejauh ini ia mampu memperbaiki semua masalah motor kuno. Seperti BMW R25, R27, DKW Union, BSA, AJS dan Matchless 1954.
Kerusakan paling umum BMW dan BSA, menurutnya, dua pengapian. Pelanggan tetap warga lokal Gunungkidul, namun tidak jarang juga dari luar seperti Prambanan, Sleman. "Bukan spesialis sepeda motor klasik, tapi random. Motor baru juga kami layanan," ujarnya.
Menurut Yanto, proses servis motor jadul dengan keluaran terbaru secara umum sama. Hanya memang, motor klasik ada perlakuan khusus. Seperti kesulitan mencari suku cadang asli atau orisinil. "Kami hanya bandrek pakai suku cadang lain. Meski demikian pada dasarnya cara kerja penanganan kerusakan sama dengan motor sekarang," terangnya.
Waktu pengerjaan menyesuaikan tingkat kerusakan. Oleh sebab itu biasanya kendaraan ditinggal oleh pemiliknya. Ongkos servis standar motor biasa, tidak seperti montir spesialis pada umumnya yang menarik biaya di atas Rp 500 ribu. "Mahal tidaknya tergantung tingkat kerusakan," ujarnya.
Kerusakan paling sulit, menangani model BSA. Dibandrek dari rumah kopling pakai motor Binter Mercy. Membutuhkan cukup waktu karena dikerjakan sendiri. Desain diserahkan ke bengkel bubut, selanjutnya eksekusi. "Hampir satu bulan akhirnya jadi. Dikerjakan sendiri, tapi sekarang ada anak-anak PKL (praktek kerja lapangan) dari sekolah," jelasnya. (gun/laz)