RADAR JOGJA - Ikan sapu-sapu yang dikenal sebagai ikan pembersih akuarium ternyata menjadi ancaman serius bagi lingkungan dan habitat ikan-ikan lokal.
Di sejumlah negara, ikan ini disebut hama.
Berbahaya dan harus dimusnahkan.
Bukan hanya di Indonesia, di banyak negara, ikan sapu-sapu ramai dibasmi.
Berikut fakta-fakta ikan sapu-sapu, yang kini banyak dibenci di dunia perairan:
Baca Juga: Raphinha Kecam Wasit Saat Barcelona Tersingkir dari Liga Champions Melawan Atletico Madrid
1. Ikan sapu-sapu mudah beradaptasi sekalipun berada di air yang tercemar.
2. Ikan sapu-sapu mengancam ekosistem sungai karena bisa memakan ikan lokal beserta telur-telurnya.
3. Perkembangbiakan ikan sapu-sapu berlangsung cepat dan mata rantainya sulit diputus.
4. Daging ikan sapu-sapu di Indonesia tidak layak dikonsumsi.
Hidup di air tercemar, menyebabkan ikan monster dipenuh bakteri dalam tubuhnya.
Sehingga ketika dikonsumsi, bisa menyebabkan keracunan.
Di lain sisi, tubuh kita dapat turut terkontaminasi logam berat.
Baca Juga: Raphinha Kecam Wasit Saat Barcelona Tersingkir dari Liga Champions Melawan Atletico Madrid
5. Ikan sapu-sapu membuat rumah mereka dengan cara menggali lubang di pinggiran sungai atau di dasar turap, gorong-gorong sungai.
Jika dibiarkan, populasinya semakin pesat dan galian lubang oleh ikan sapu-sapu semakin banyak dan membentuk rongga besar.
Perlahan-lahan lubang besar tersebut runtuh dan menjadi penyebab longsor.
Kondisi ini jarang disadari banyak orang.
Baca Juga: Keluhkan Mual Muntah Diare, 75 Siswa di SMP Negeri 3 Jetis Bantul Diduga Keracunan MBG
6. Perkembangbiakan ikan sapu-sapu tergolong cepat. Sekali bertelur, induk betina bisa menghasilkan 200-1.400 butir telur.
7. Di habitat asalnya, ikan sapu-sapu justru dikonsumsi. Menjadi menu ambalan warga di sekitar Sungai Amazon, Amerika Serikat, dan lainnya.
Mengapa demikian?
Sebab, ikan sapu-sapu di Sungai Amazon hidup di sungai yang masih asri, belum terkontaminasi limbah sehingga layak dikonsumsi bahkan memiliki kandungan protein yang tinggi.
Bahkan menjadi makanan murah yang banyak dijual di pasaran.
Editor : Meitika Candra Lantiva