RADAR JOGJA – Candi Borobudur di Magelang bukan sekadar mahakarya arsitektur dunia.
Setiap reliefnya bagaikan “kitab batu” yang menyimpan ribuan kisah moral dan nilai budaya Nusantara.
Dari hukum karma hingga perjalanan spiritual Sang Buddha, pahatan-pahatan ini tidak hanya menakjubkan secara visual, tetapi juga mengajarkan pelajaran hidup yang tetap relevan hingga kini.
Tercatat ada 2.672 panel relief, terdiri dari 1.460 panel naratif dan 1.212 panel dekoratif.
Panel naratif tersusun dalam sebelas baris mengelilingi monumen dengan panjang total lebih dari 3.000 meter, sementara panel dekoratif berdiri sebagai karya individu dengan nilai artistik tinggi.
Relief ini dibaca menggunakan mapradaksina, yaitu berjalan searah jarum jam, dimulai dan diakhiri dari sisi timur setiap tingkat candi.
Kisah Hidup dan Pesan Moral dalam Relief
Relief-relief Borobudur menyajikan kisah klasik yang menjadi bagian penting dari warisan budaya sekaligus mengandung nilai moral yang bisa diaplikasikan secara universal.
Dari hukum sebab-akibat hingga pencarian spiritual tertinggi, setiap pahatan membawa pesan tersendiri.
1. Karmawibhangga
Relief ini menggambarkan hukum karma atau hukum sebab-akibat.
Dalam Karmawibhangga dijelaskan tentang hubungan sebab-akibat dari perbuatan baik dan jahat yang dilakukan manusia di dunia.
Relief ini tidak disajikan sebagai cerita serial yang bersambung antar panel, melainkan setiap panel menceritakan sebuah kisah yang menampilkan hubungan sebab-akibat tersebut.
Relief ini memperlihatkan perbuatan tercela beserta hukumannya, dan sebaliknya, perbuatan baik beserta ganjaran yang diberikan Tuhan.
Selanjutnya, relief ini juga menampilkan siklus samsara atau siklus kehidupan manusia, yang menurut ajaran Buddha berakhir dengan kesempurnaan.
Saat ini, hanya bagian tenggara yang dapat dilihat secara langsung.
Namun, jangan sedih, karena relief ini juga dapat disaksikan di Museum Karmawibhangga yang berada di sebelah utara Candi Borobudur.
2. Lalitawistara
Cerita berikutnya adalah Lalitawistara, yang menceritakan riwayat hidup Sang Buddha.
Cerita dimulai dari turunnya Tushita dari surga hingga wejangan pertama di Taman Rusa dekat Banaras atau Benares.
Relief ini tersusun berderet di tangga sisi selatan, dimulai setelah 27 pigura yang menggambarkan persiapan di surga dan dunia untuk kedatangan Sang Bodhisattva.
Dalam relief ini tergambar kehidupan Buddha sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya.
Terdiri dari 120 pigura, relief Lalitawistara diakhiri dengan Pemutaran Roda Dharma, simbol ajaran Buddha.
3. Jataka dan Awadana
Cerita selanjutnya adalah Jataka, yang menceritakan kehidupan Sang Buddha sebelum menjadi Pangeran Siddhartha.
Relief ini menekankan perbuatan baik, seperti pengorbanan dan membantu sesama.
Kisah Jataka sebagian besar berupa fabel dengan tokoh-tokoh hewan yang bersikap seperti manusia.
Setelah itu ada cerita Awadana, yang mirip dengan Jataka. Bedanya, tokoh utama bukan Sang Bodhisattva.
Cerita Awadana dihimpun dalam kitab Diwyawadana dan Awadanasataka.
Di Candi Borobudur, Jataka dan Awadana digambarkan dalam satu deretan, termasuk Jatakamala karya Aryasura, yang menjadi himpunan terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattva.
4. Gandawyuha
Cerita berikutnya terdapat pada relief Gandawyuha, yang menghiasi dinding lorong kedua Candi Borobudur.
Relief ini menceritakan perjalanan Sudhana dalam mencari Pengetahuan Tertinggi tentang Kebenaran Sejati.
Cerita ini terdiri dari 460 pigura dan didasarkan pada kitab suci Buddha Mahayana dan Gandawyuha.
Bagian ini juga ditutup dengan kisah yang diambil dari kitab Bhadracari.
Jejak Nilai Sosial dan Budaya
Relief Borobudur tidak hanya menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga nilai sosial masyarakat Jawa kuno.
Konsep gotong royong, keadilan, dan penghormatan pada orang tua tergambar jelas dalam pahatan.
Selain itu, motif relief menginspirasi seni batik, ukiran kayu, dan desain arsitektur modern.
Dalam dunia pendidikan, relief Borobudur menjadi referensi penting bagi sejarah, arkeologi, dan antropologi.
Sejarah dan Warisan Universal
Borobudur menjadi bukti kejayaan Dinasti Syailendra dalam arsitektur dan seni pahat, sekaligus menunjukkan keterbukaan budaya Nusantara terhadap pengaruh India tanpa kehilangan identitas lokal.
UNESCO menetapkan Borobudur sebagai Situs Warisan Dunia pada 1991, bukan hanya karena keindahannya, tapi juga nilai kemanusiaan dan budaya yang universal.
Relief-relief Borobudur tetap hidup hingga kini, menjadi inspirasi sekaligus ruang kontemplasi bagi siapa saja yang mengunjunginya, mengajarkan kesatuan nilai spiritual, moral, budaya lokal, dan keterhubungan antarbangsa. (Retno Anggi Kusuma Dewi)
Editor : Meitika Candra Lantiva