RADAR JOGJA - Bagi para pecinta kucing, mungkin Anda pernah menerima "hadiah" berupa bangkai tikus atau burung dari hewan peliharaan kesayangan.
Meskipun terlihat menjijikkan, ternyata tindakan itu punya makna yang lebih dalam lho.
Kucing menganggap Anda sebagai bagian dari keluarga, lebih tepatnya, kucing raksasa yang tidak bisa berburu.
Menurut para ahli perilaku hewan, kucing memang menyadari bahwa manusia berbeda dari mereka dalam bentuk dan bau.
Namun, mereka tetap memperlakukan manusia menggunakan perilaku sosial khas sesama kucing.
Artinya, mereka berinteraksi dengan kita seolah-olah kita adalah sesama kucing dalam kelompok mereka.
John Bradshaw, pakar perilaku hewan dari University of Bristol, menjelaskan bahwa kucing tidak memiliki cara komunikasi lintas spesies yang kompleks.
Karena itu, mereka menggunakan bahasa tubuh dan perilaku yang biasa digunakan untuk berinteraksi dengan kucing lain.
Hal ini dapat dilihat dari kebiasaan kucing seperti menggosokkan tubuh ke kaki manusia, menjilat tangan atau wajah pemiliknya, hingga mengeong untuk menarik perhatian.
Padahal, kucing dewasa jarang mengeong satu sama lain, suara ini justru digunakan untuk berbicara kepada manusia.
Baca Juga: Kapten Inggris Leah Williamson Tak Percaya Bisa Back to Back Meraih Gelar Juara Euro Wanita
Perilaku seperti membawa hasil buruan, misalnya tikus, sebenarnya mencerminkan naluri alami kucing.
Mereka mungkin menganggap manusia sebagai "anak kucing besar" yang perlu diberi makan atau diajari berburu. Bagi mereka, ini adalah bentuk perhatian dan kepedulian.
Jadi, meskipun terdengar konyol, bagi seekor kucing, manusia bukan hanya sahabat, tetapi bagian dari koloninya.
Walau manusia terlihat aneh, tidak punya bulu, dan tak bisa membersihkan diri sendiri, kucing tetap melihatnya sebagai anggota keluarga. (Oktavian Marionoven L)