RADAR JOGJA - Suku Togutil merupakan kelompok etnis yang mendiami hutan-hutan di Halmahera, Maluku Utara.
Suku Togutil yang juga dikenal sebagai Suku Tobelo Dalam, tinggal di daerah seperti Hutan Totodoku, Tukur-tukur, Lolobata, Kobekulo, dan Bali.
rumah mereka terbuat dari kayu dan bambu dengan atap daun palem. Biasanya tidak berdinding dan berlantai papan panggung.
Anggota suku ini umumnya memiliki perawakan tinggi dengan warna kulit yang lebih terang dibanding kelompok etnis lain di sekitarnya.
Kabarnya, ada campuran genetik dengan pendatang seperti Portugis.
Sistem kekerabatan mereka bersifat patriarkal.
Mereka tidak mengenal kepemimpinan formal. Keputusan biasanya diambil secara kolektif dalam kelompok kecil.
Dalam kesehariannya, mereka menggunakan bahasa Tobelo yang dianggap sebagai dialek dari bahasa Tobelo yang lebih luas.
Mereka dikenal sebagai masyarakat nomaden yang hidup bergantung pada SDA hutan.
Sesuai dengan kehidupannya, nama “Togutil” secara harfiah dalam bahasa Halmahera berarti suku yang hidup di dalam hutan atau pongana mo nyawa.
Mereka memiliki kehidupan yang sangat bergantung pada hutan, berburu, meramu, dan berkebun dengan cara yang sederhana.
Suku Togutil memiliki kearifan lokal yang kuat dalam menjaga kelestarian hutan.
Mereka menerapkan larangan menebang pohon sagu sembarangan dan mempraktikkan cara bertani serta berburu berkelanjutan.
Uniknya lagi, setiap ada anak yang lahir, akan ada satu pohon yang ditanam.
Untuk mengetahui usia seseorang, bisa dengan memotong pohonnya dan menghitung serat sebagai penanda usianya. Hanya saja, mereka tidak mengetahui tanggal pastinya.
Sedangkan, untuk orang yang meninggal, mereka tidak mengadakan pemakaman.
Mereka hanya meletakkan jenazah di lantai, kemudian menutupnya dengan bebatuan dan dedaunan.
Suku Togutil menarik perhatian publik setelah beberapa anggota mereka terlihat mengunjungi lokasi tambang di Halmahera.
Interaksi menunjukkan tantangan yang dihadapi oleh suku tersebut akibat eksploitasi SDA yang mengancam kawasan mereka.
Kehadiran perusahaan tambang di wilayang mereka kerap menyebabkan kerusakan lingkungan. Memaksa mereka untuk mencari sumber makanan di luar hutan.
Suku Togutil sangat peka terhadap perubahan musim dan siklus alam.
Mereka mengamati pola-pola tertentu dalam lingkungan sekitar, seperti musim kawin hewan dan waktu panen tanaman.
Misalnya, mereka mengetahui bahwa babi biasanya kawin pada musim hujan panjang yang berlangsung selama 2-3 bulan.
Dengan memahami siklus ini, mereka bisa memperkirakan usia hewan berdasarkan waktu kelahiran dan perkembangan mereka.
Pengalaman berburu yang diwariskan dari generasi ke generasi juga berperan penting.
Anak laki-laki diajarkan oleh orang tua mereka sejak dini tentang cara berburu dan mengenali ciri-ciri hewan berdasarkan usia.
Melalui praktik ini, pengetahuan tentang cara mengetahui usia hewan ditransfer secara langsung dari orang tua kepada anak-anak mereka.
Memahami kehidupan Suku Togutil membantu dalam upaya pelestarian budaya tradisional yang kaya dan unik.
Mereka berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem Halmahera.
Kesadaran untuk menghormati hak-hak mereka berarti juga melindungi ekosistem hutan yang vital bagi keberlangsungan hidup banyak makhluk.
Pengetahuan tentang kondisi kehidupan mereka bisa mendorong advokasi untuk perlindungan hak-hak masyarakat adat dalam menghadapi tekanan dari aktivitas industri. (Ruhana Maysarotul Muwafaqoh)
Editor : Meitika Candra Lantiva