BANTUL - Ratusan atlet disabilitas dari berbagai daerah di DIY mengikuti program 'Mendobrak Batas' yang digelar National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) DIY di Balai Lanthip, Universitas Teknologi Digital Indonesia (UTDI), Jumat (1/8/2025) pagi. Program ini bukan sekadar ajang pencarian bibit atlet, tetapi juga menjadi langkah strategis mewujudkan sistem pembinaan olahraga disabilitas yang berkelanjutan, terstruktur, dan inklusif.
Ketua Umum NPCI DIY Imam Kunantoro menjelaskan, kegiatan talent scouting bertajuk Mendobrak Batas bagi para atlet disabilitas ini sudah berlangsung sejak sebulan terakhir. Pada 16 dan 17 Juli lalu, pihaknya menggelar sosialisasi program ini secara menyeluruh ke lima kabupaten/kota di DIY.
"Program ini menghasilkan sebuah pencapaian luar biasa. Dengan cakupan wilayah yang terbatas hanya lima kabupaten/kota, program ini berhasil menjaring total 278 peserta, melebihi target awal kami yaitu 150 peserta," ujarnya.
Dari 202 peserta yang mengikuti talent scouting gelombang pertama iu, jika dirinci menjadi Kabupaten Bantul 33 peserta (17 fisik, enam netra, 10 grahita). Kemudian Gunungkidul 30 peserta (16 fisik, empat netra, 10 grahita), Kulon Progo 36 peserta (18 fisik, delapan netra, 10 grahita), Sleman 38 peserta (20 fisik, delapan netra, 10 grahita) dan Kota Jogja 65 peserta (20 fisik, 35 netra, 10 grahita).
"Pada 19 Juli, kami menyelenggarakan Pelatihan Teknik Talent Scouting bekerja sama dengan NPC Indonesia dan FIKK UNY. Ini sebagai bekal penting bagi tim asesmen agar proses identifikasi potensi atlet berlangsung objektif dan profesional," tuturnya.
Sementara Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY Suhirman mengatakan, program Mendobrak Batas merupakan awal dari sebuah perjalanan yang luar biasa bagi para olahragawan disabilitas di DIY. Sebab, menurutnya, program pencarian bibit atlet disabilitas ini hadir sebagai wadah dan jembatan untuk membantu NPCI DIY menemukan, mengembangkan, serta memancarkan bakat terpendam para penyandang disabilitas.
"Kami tahu setiap individu dianugerahi potensi dan bakat yang unik. Namun seringkali potensi itu terpendam dan belum terasah secara optimal," cetusnya.
Suhirman berharap dengan adanya program Mendobrak Batas itu para olahragawan disabilitas dapat mengidentifikasi kekuatannya dan mengatasi tantangan. Sehingga pada akhirnya mereka bisa mencapai versi terbaik dari dirinya.
"Kendala yang dihadapi olahraga disabilitas adalah kurangnya regenerasi atlet. Maka pencarian bibit atlet-atlet muda merupakan langkah strategis bagi perkembangan olahraga disabilitas khususnya di DIY dan Indonesia pada umumnya," tandasnya. (ayu/laz)