Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Cerita Nor Najihah Saad, Mahasiswi UGM Asal Thailand Jalani Ramadan di Indonesia: Bisa War Takjil, Bukber Tanpa Lihat Agama

Fahmi Fahriza • Sabtu, 21 Februari 2026 | 13:10 WIB

 

Nor Najihah Saad, mahasiswi asal Thailand yang tengah menempuh studi S2 di Universitas Gadjah Mada (UGM).  
Nor Najihah Saad, mahasiswi asal Thailand yang tengah menempuh studi S2 di Universitas Gadjah Mada (UGM).  

RADAR JOGJA - Menjalani Ramadan jauh dari keluarga tentu menghadirkan pengalaman yang berbeda.

Namun bagi Nor Najihah Saad, mahasiswi asal Thailand yang tengah menempuh studi S2 di Universitas Gadjah Mada (UGM), Ramadan di Indonesia justru menyimpan banyak cerita hangat tentang kebersamaan dan toleransi.

Najihah berasal dari Narathiwat, Thailand Selatan. Ia kini tercatat sebagai mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM.

Jika ditotal, Najihah telah tinggal di Indonesia kurang lebih enam tahun lamanya.

Sebelumnya, ia menempuh studi S1 pada 2016-2019 di Universitas Ahmad Dahlan (UAD), lalu kembali lagi ke Indonesia pada 2023 untuk melanjutkan S2 di UGM.

"Bisa dibilang ini Ramadan ke-5 atau ke-6 selama saya pernah tinggal di Indonesia," katanya, Sabtu (21/2/2026).

Menurut Najihah, salah satu perbedaan paling terasa antara Ramadan di Indonesia dan di kampung halamannya terletak pada kuliner serta suasana kebersamaan keluarga.

"Yang paling saya rasakan kuliner atau takjil Ramadan karena itu sangat berbeda dengan tempat saya. Selain itu, suasana berpuasa tanpa keluarga juga menjadi perbedaan yang saya rasakan," ungkapnya.

Ia menilai suasana Ramadan di Indonesia cenderung lebih ramai.

Bahkan, bukan hanya umat Muslim yang merayakan atau merasakan atmosfer Ramadan.

"Di Indonesia lebih ramai. Bukan hanya umat Muslim yang merasakan Ramadan, bahkan nonis juga ikut beraktivitas, misalnya ada war takjil, dan malah bisa bukber bersama teman-teman nonis juga," jelasnya.

Berbeda dengan di Thailand Selatan yang menurutnya lebih banyak dihabiskan bersama keluarga inti.

Meski begitu, ia menilai keduanya sama-sama memiliki sisi ramai dan tenang.

Sementara itu, soal menu berbuka, Najihah mengaku sangat menikmati berbagai makanan khas Indonesia.

"Saya paling suka penyetan sambal kalau makanan Indonesia. Dan es buah melengkapi kalau berbuka puasa. Kalau tidak ada es buah, pasti es kuwut," tuturnya.

Namun, secara pribadi yang paling berkesan baginya adalah tradisi buka bersama atau bukber.

Ia mengaku kagum karena tradisi ini tidak membatasi perbedaan agama.

"Saya sangat mengagumi tradisi buka bersama di Indonesia. Semua bisa ikut dan menikmati tanpa membedakan agama. Pengalaman itu sangat menunjukkan kita saling menghormati sesama agama," katanya.

Menurutnya, momen-momen seperti itu membuat Ramadan terasa semakin hidup dan penuh makna bagi dirinya.

Lebih lanjut, selama menjalani Ramadan di Indonesia, atau di Jogja secara lebih spesifik, Najihah merasa mendapat dukungan penuh dari lingkungan kampus.

Ia menilai UGM cukup responsif terhadap kebutuhan mahasiswa yang berpuasa.

"Kalau di kelas, dosen akan menyesuaikan waktu kuliah sekira sudah mepet waktu berbuka. Di masjid kampus juga disediakan banyak takjil untuk mahasiswa dan terbuka untuk umum," jelasnya.

Di samping itu, ia juga beberapa kali mengikuti kegiatan Ramadan di kampus, seperti kuliah umum menjelang waktu berbuka hingga tarawih bersama.

Dalam hal adaptasi budaya, Najihah mengaku tidak mengalami kesulitan berarti.

Menurutnya, masyarakat Muslim di Indonesia sangat terbuka dan menghormati perbedaan.

"Sepanjang pengalaman, sangat mudah dan tidak jauh bedanya dari negara saya. Masyarakat Muslim di Indonesia sangat menghormati perbedaan, jadi mudah untuk beradaptasi," ucapnya.

TOLERANSI: Kebersamaan Nor Najihah Saad dan teman-temannya.
TOLERANSI: Kebersamaan Nor Najihah Saad dan teman-temannya.

Satu yang diingatnya, beberapa tahun silam, ia sempat merasa bingung ketika pertama kali mengenal organisasi Islam besar di Indonesia seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

"Awalnya saya sering ditanya, NU atau Muhammadiyah? dan saya bingung menjawabnya. Seiring waktu, saya memahami keduanya. Itu menarik, dan berbeda dengan negara saya karena kami tidak memilikinya," katanya.

Meski banyak pengalaman menyenangkan, Najihah mengakui tantangan terbesarnya selama puasa di Indonesia adalah soal makanan khas kampung halaman yang sulit ditemukan di sini.

"Tantangan terbesar adalah makanan. Kadang saya ingin sekali makan makanan dari negara saya, tapi sulit didapatkan di sini. Kadang ingin masak, tapi bahannya tidak ada," ujarnya.

Ramadan tahun ini juga terasa lebih emosional baginya. Ia menyebut ini sebagai Ramadan terakhirnya di Indonesia sebelum kembali ke tanah airnya.

"Tahun ini Ramadan terakhir saya di Indonesia. Agak sedih kalau memikirkannya. Sudah beberapa tahun saya menjalaninya di sini, dengan berbagai pengalaman emas," tuturnya.

Beberapa momen paling berkesan baginya adalah kebersamaan, mulai dari buka bersama, tarawih berjamaah, hingga berbagi cerita di asrama mahasiswa.

"Intinya adalah kebersamaan, saya menyukai semua hal soal itu," terangnya. (iza)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Ramadan di Indonesia #BUKBER #Mahasiswi UGM Asal Thailand #Nor Najihah Saad #war takjil #ramadan