Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Merapi Luncurkan Awan Panas Sejauh 1,9 Km, BPPTKG Catat 105 Guguran Lava dalam Sehari

I
Penulis: Iwa Ikhwanudin❯
Merapi luncurkan Wedhus Gembel atau Awan panas guguran (APG) Minggu (8/2/2026) pukul 03.01 WIB. Tertekam dari CCTV Jurangjero.
Merapi luncurkan Wedhus Gembel atau Awan panas guguran (APG) Minggu (8/2/2026) pukul 03.01 WIB. Tertekam dari CCTV Jurangjero.

Advertisement

 SLEMAN – Aktivitas Gunung Merapi masih tergolong tinggi. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan terjadi satu kali awan panas guguran dengan jarak luncur mencapai 1.900 meter ke arah Kali Sat/Putih selama periode pengamatan Jumat (24/7/2026) pukul 00.00–24.00 WIB. Hingga kini, status Merapi masih berada pada Level III (Siaga).

Berdasarkan laporan harian MAGMA-VAR yang dirilis BPPTKG, kondisi cuaca di kawasan Gunung Merapi didominasi cerah hingga berawan. Angin bertiup lemah sampai sedang ke arah utara, timur, dan barat. Suhu udara berkisar antara 11,9 hingga 24 derajat Celsius, dengan kelembapan 56–99 persen.

Secara visual, puncak Merapi umumnya tampak jelas, meski sesekali tertutup kabut tipis. Asap kawah tidak teramati selama periode pengamatan. Namun demikian, petugas berhasil mengamati awan panas guguran meluncur sejauh 1,9 kilometer ke arah Kali Sat/Putih, menandakan suplai magma di dalam tubuh gunung masih berlangsung.

Advertisement

Aktivitas kegempaan Merapi juga masih cukup intens. Selama 24 jam, BPPTKG mencatat 1 kali gempa awan panas guguran dengan amplitudo 33 milimeter dan durasi 129,42 detik.

Selain itu, tercatat 105 kali gempa guguran dengan amplitudo antara 2 hingga 37 milimeter dan durasi 30,08–232,06 detik. Aktivitas ini menunjukkan masih seringnya material vulkanik meluncur dari kubah lava di puncak Merapi.

Advertisement

Petugas juga merekam 4 kali gempa low frekuensi, 73 kali gempa hybrid atau fase banyak, serta 2 kali gempa tektonik jauh. Rangkaian aktivitas seismik tersebut mengindikasikan dinamika magma di bawah permukaan masih terus berlangsung.

Tidak hanya awan panas, BPPTKG juga mengamati 22 kali guguran lava pijar yang mengarah ke Kali Sat/Putih dan Kali Krasak. Jarak luncur maksimum guguran lava mencapai 2.000 meter.

BPPTKG menegaskan bahwa kondisi tersebut masih sesuai dengan karakter aktivitas Merapi dalam beberapa waktu terakhir. Meski demikian, masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan karena potensi awan panas guguran masih dapat terjadi sewaktu-waktu.

Dalam rekomendasinya, BPPTKG menyebut potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan hingga barat daya, meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer dari puncak.

Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Pemkab Purworejo Ajak Selurum Elemen untuk Mitigasi Ancaman Karhutla

Pemkab Purworejo Ajak Selurum Elemen untuk Mitigasi Ancaman Karhutla

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purworejo mengajak seluruh komponen bersama melakukan mitigasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

BPBD Gunungkidul Siapkan Berbagai Sumber Pendanaan Antisipasi Kekeringan Perkuat Mitigasi Kebencanaan

BPBD Gunungkidul Siapkan Berbagai Sumber Pendanaan Antisipasi Kekeringan Perkuat Mitigasi Kebencanaan

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul memastikan penanganan potensi bencana kekeringan tidak hanya mengandalkan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).  Pemerintah menyiapkan dukungan...

Revitalisasi 190 Candi Perwara Prambanan Dinilai Berpotensi Ganggu Wisata, Dispar DIY Siapkan Mitigasi

Revitalisasi 190 Candi Perwara Prambanan Dinilai Berpotensi Ganggu Wisata, Dispar DIY Siapkan Mitigasi

Rencana revitalisasi lebih dari 190 candi perwara di Kompleks Candi Prambanan melalui kerja sama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah India diperkirakan akan memunculkan penyesuaian pola kunjungan wisata. 

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer