Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Bukber di Tengah Industri Ramadan dan Budaya Konsumsi

M
Penulis: Magang Radar Jogja❯

SIMPAN CERITA HANGAT: Nor Najihah Saad, mahasiswa S2 UGM asal Tailan mengaku terkesan dengan bukber di Indonesia yang bisa diikuti non-muslim.
SIMPAN CERITA HANGAT: Nor Najihah Saad, mahasiswa S2 UGM asal Tailan mengaku terkesan dengan bukber di Indonesia yang bisa diikuti non-muslim.


Advertisement

Buka bersama atau bukber telah menjadi salah satu tradisi sosial yang paling mencolok selama bulan Ramadan.

Bukber dipahami sebagai momen sederhana untuk membeli makanan dan menyantapnya bersama-sama setelah seharian berpuasa.

Namun, seiring berjalannya waktu, kegiatan ini mengalami perubahan signifikan.

Advertisement

Saat ini, bukber sering kali diadakan sebagai agenda sosial yang sudah direncanakan jauh sebelumnya, lengkap dengan pilihan tempat, menu, dan atmosfer.

Transformasi ini tidak bisa dilepaskan dari berkembangnya industri Ramadan.

Bulan suci ini dianggap sebagai periode ekonomi tahunan dengan potensi pasar yang besar.

Advertisement

Restoran, kafe, dan hotel berebut untuk menghadirkan paket bukber, bufet Ramadan, serta beragam promosi yang dirancang khusus.

Bukber kini telah berubah dari sekadar kegiatan makan menjadi produk konsumsi yang dipasarkan sebagai pengalaman.

Dalam proses ini, bukber mengalami komersialisasi. Menu, harga, dan suasana diatur sedemikian rupa untuk menarik konsumen secara massal.

Praktik ibadah dan konsumsi berlangsung beriringan, bahkan saling memperkuat secara ekonomis.

Budaya konsumsi ini semakin diperkuat oleh gaya hidup modern dan media sosial.

Lokasi bukber sering kali mencerminkan kelas sosial dan selera, sementara dokumentasi pertemuan makan dipamerkan sebagai bagian dari identitas diri.

Bukber adalah tentang di mana dan bagaimana pertemuan tersebut ditampilkan.

Di sini, muncul pertentangan dengan nilai-nilai puasa itu sendiri. Puasa mengajarkan disiplin dan kesederhanaan, tetapi bukber sering menjadi arena untuk memuaskan hasrat konsumsi.

Bukber sebenarnya bukanlah masalah, tetapi sudut pandangnya perlu ditafsirkan kembali.

Di tengah industri Ramadan yang semakin besar, kebersamaan seyogianya tetap menjadi fokus utama, bukan sekadar konsumsi yang dibalut dalam suasana religius.

Penulis: Ferry Aditya

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Umbul Tirtomulyo: Jejak Tradisi Padusan dan Sejarah di Desa Kemasan

Umbul Tirtomulyo: Jejak Tradisi Padusan dan Sejarah di Desa Kemasan

Umbul Tirtomulyo menunjukkan bahwa sebuah sumber mata air dapat memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar tempat memperoleh dan menikmati air. Di dalamnya terdapat jejak hubungan masyarakat dengan alam.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer