MAGELANG - Selama hampir satu dekade, AKP Riana Adhyaksari berkutat dengan barang bukti di Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jawa Tengah. Namun perempuan 33 tahun itu kini berdiri di garis depan penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak sebagai kepala Satuan Reserse (Kasatres) PPA-PPO Polres Magelang Kota.
Perpindahan tugas dari ruang laboratorium yang sarat analisis ilmiah ke unit yang berhadapan langsung dengan korban kekerasan memang terlihat 'jomplang'. Namun bagi Riana, langkah itu justru seperti jawaban atas kegelisahan pribadinya.
Riana masuk kepolisian pada 2015. Latar belakang pendidikannya di bidang Biologi sempat membuatnya diprediksi akan bertugas di kedokteran kepolisian. Namun peluang membawanya ke Labfor Polda Jawa Tengah.
Di sana, dia berpindah-pindah unit. Mulai dari dokumen dan uang palsu forensik, subbid balistik dan metalurgi forensik, hingga terakhir di komputer dan fisika forensik. Sepuluh tahun lamanya ia meneliti jejak kejahatan lewat pendekatan ilmiah. Yakni menganalisis tinta, peluru, logam, hingga data digital.
Pengalaman tersebut, kata dia, menjadi modal penting ketika kini harus menangani perkara yang lebih kompleks secara psikologis. "Dulu saya berhadapan dengan barang bukti. Sekarang saya berhadapan langsung dengan manusia, dengan korban yang membawa trauma," ucapnya.