Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Seniman Jalanan Ismu Ismoyo, Kalau Gunungkidul Baik-Baik Saja, Mungkin akan Berhenti Menggambar

Yusuf Bastiar • Minggu, 20 Juli 2025 | 14:00 WIB
Ismu sedang merapihkan karyanya yang berjudul “Membongkar Portal Pantai Selatan” saat ditemui di studionya.   
Ismu sedang merapihkan karyanya yang berjudul “Membongkar Portal Pantai Selatan” saat ditemui di studionya.  

 

 

Di sebuah sudut studio sederhana di Wonosari, Gunungkidul aroma cat dan kertas sketsa menguar. Di sinilah Ismu Ismoyo, seniman kelahiran Gunungkidul, merawat ingatan, mencatat zaman, dan merespons tanah kelahirannya lewat garis, warna, dan dinding-dinding kota.

Ismu tak datang dari galeri atau panggung seni besar. Ia lahir dan tumbuh di tengah terminal. Secara harfiah, masa kecilnya di sekitar Terminal Dhaksinarga memperkenalkannya pada dunia rupa dari tempat yang tak biasa, bak truk.

“Tetangga saya pelukis truk. Dari SMP sampai SMA tahun 90-an saya ikut bantu-bantu melukis bak truk di terminal,” kenangnya sambil tersenyum seusai ia membingkai karya Jumat, (18/7/).

Ismu tak suka bicara dengan simbol yang rumit. Ia memilih objek-objek yang akrab: bekicot, ketela, dan meteran tanah. Namun di balik itu, makna metaforis meletup.

Seperti ketika ia menggambar seekor bekicot yang kepalanya diganti meteran tanah. “Bekicot itu hama bagi petani. Tapi hari ini, hama sebenarnya adalah praktik jual-beli tanah yang brutal. Itulah yang saya gambar,” katanya.

Dalam karya lainnya, ia menggambar batang ketela yang menyambung ke tiang listrik. “Dulu bapak saya bilang, kalau mau makan empuk, ya makan ketela. Mau keras, ya makan tiang. Sekarang saya gambar ketela batangnya tiang. Ini zaman yang ganjil,” katanya.

Dia mencatat peristiwa di Gunungkidul lewat sketsa. Kadang berhenti sebagai gambar saja, kadang berlanjut jadi lukisan, mural, atau instalasi. “Tapi semuanya berangkat dari kegelisahan saya atas apa yang saya lihat,” katanya.

Kegelisahan itu pula yang mendorongnya untuk mendirikan Kukomikkan. Sebuah kolektif seni rupa yang menjadikan komik dan mural sebagai media penyampaian kritik sosial.

Bersama rekan-rekannya, ia menggambar tembok-tembok publik di Wonosari, di terminal, desa, atau tempat-tempat yang dianggap ‘tak penting’ oleh institusi seni mapan.

Pada medio 2004, ia menggagas Proyek Pulang Kampung bersama Kukomikkan.

Salah satu titiknya adalah Terminal Siyono, tempat yang kini dipenuhi mural-mural bernapas lokal: potret warga, petani, pedagang, dan ironi sosial. “Kami merespons ruang publik sebagai tempat bicara. Bukan sekadar ruang kosong,” ujarnya.

Salah satu mural Ismu di 2004 sempat mengundang kontroversi. Ia menggambar mural yang menyentil soal tambang liar di Gunungkidul. Responsnya, Ia digruduk para sopir.

Ditegur, bahkan beberapa kali harus datang ke kantor polisi. Tapi Ismu tidak gentar. “Malah itu jadi ruang komunikasi. Saya seniman jalanan, ya memang harus siap bicara langsung dengan publik,” ucapnya.

Ismu tak pernah berniat mewakili Gunungkidul. Tapi sebagai anak daerah, ia merasa punya tanggung jawab untuk terus mencatat dan menyuarakan apa yang terjadi.

“Kalau Gunungkidul baik-baik saja, mungkin saya akan berhenti menggambar. Tapi kenyataannya kan tidak,” katanya lirih.

Ismu mengaku tidak pernah berniat menjadikan seni sebagai hiasan atau dekorasi belaka. Baginya, seni adalah pencatatan. Bukan lewat jurnal, melainkan lewat gambar.

Setiap karya adalah cara dirinya merekam kehidupan sosial yang berserakan di sepanjang Betang Gunungkidul. Sebuah tanah kelahiran yang ia cintai sekaligus ia kritik.

Kini, di usianya yang matang, Ismu masih setia menggambar dan melukis dari sudut-sudut Gunungkidul. Ia bukan hanya membuat karya seni, tapi juga menciptakan jejak sosial.

Ia tidak menara gading, tidak juga panggung prestise. Tapi ia adalah saksi, yang menandai zaman lewat sketsa dan mural. “Saya bukan hanya bikin seni. Saya mencatat. Ini cara saya bertahan hidup. Dan dengan itu saya melewati zaman ini.” (cr1/pra)

Editor : Heru Pratomo
#bekicot #ismu #seni rupa #wonosari #Gunungkidul #pelukis #perkembangan zaman #Terminal Dhaksinarga #truk #mural #ISI Yogya