JOGJA - Bisa diterima di perguruan tinggi luar negeri tentu sebuah pencapaian yang membanggakan.
Kebanggaan dan apresiasi itu layak disematkan kepada sosok Aqila Zalfa Pradita. Ia diterima di UGM dan lima perguruan tinggi ternama dari berbagai negara.
Aqila adalah siswi SMAN 1 Jogja atau yang lebih umum dikenal sebagai SMA Teladan.
Ia mengajukan diri dan mendaftar di perguruan tinggi luar negeri dengan skema Beasiswa Indonesia Maju (BIM).
Disebutkan, secara akumulatif ia mendaftar di 10 perguruan tinggi luar negeri.
Dari jumlah itu, ada lima universitas yang berhasil menerimanya. Yakni The Hongkong University of Science and Technology, Arizona State University, University of Toronto, University College Dublin Ireland, dan University of Alberta.
"Aku lolos di lima universitas, lalu dua universitas menolak, dan tiga universitas sisanya masih waiting. Jurusannya Bisnis Manajemen," katanya Senin (21/4/2025).
Selain diterima di lima universitas itu, dia juga berhasil diterima di jurusan Manajemen Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, melalui jalur seleksi nasional berbasis prestasi (SNBP).
Saat dikonfirmasi, ia mengaku belum memutuskan mana pilihan yang akan diambil.
Sebab, untuk mengambil kesempatan berkuliah di luar negeri, ia sendiri kini tengah mengajukan beasiswa. Di mana, kepastian lolos atau tidaknya beasiswa itu baru diumumkan akhir April nanti.
Diakui, jika beasiswa itu tidak didapatkannya, maka besar kemungkinan ia akan melanjutkan studi di UGM.
"Masih menunggu beasiswa. Kalau tidak lolos, jadinya ambil UGM. Karena prosedur dan syarat di UGM juga masih terus aku lanjutkan," ungkapnya.
Perempuan yang bercita-cita menjadi konsultan bisnis ini memaparkan, ia tidak cukup mempermasalahkan di mana akhirnya ia nanti akan melanjutkan studi.
Baginya, baik di UGM maupun kampus luar negeri sama baiknya.
"Orang tua juga mendukung apa pilihan saya. Semoga pendidikan yang saya tempuh nanti bisa membantu meraih cita-cita saya," sebutnya.
Selama periode sekolah, siswi lulusan MTSN 6 Sleman ini memang aktif di banyak organisasi dan secara pribadi juga cukup berprestasi. Salah satunya ia memenangkan Festival Inovasi Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI) yang digelar Puspernas.
Jauh sebelum itu, sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD) ia juga sudah menjajal berwirausaha dengan berjualan kecil-kecilan.
Dari sana bakat dan ketertarikannya di dunia bisnis bertumbuh.
"Dulu pas SD jualan kecil-kecilan seperti snack, craft. Lalu pas SMA masuk ke IPS dan mulai ikut lomba-lomba di bidang bisnis," tuturnya.
Sementara itu, ibunda Aqila, Eka Febriana menuturkan, sebagai orang tua ia tidak pernah membebani sang anak.
Pada banyak kesempatan, Eka justru merasa khawatir jika sang anak terlalu aktif atau terlalu sibuk hingga lupa istirahat.
"Saya sering khawatir, karena dia aktif banget dari pagi sampai malam. Malah banyak saya suruh istirahat, dan dibagi dengan porsi belajarnya," lontarnya.
Sebagai orang tua, Eka mengaku sangat mendukung keinginan dan hal-hal yang dilakukan sang anak.
Di samping itu, ia juga senantiasa melakukan monitoring, dan kerap memosisikan diri sebagai teman, agar sang anak juga terbuka untuk bercerita atas semua hal.
"Nasihat yang selalu saya sampaikan itu jangan lupa ibadah, banyak belajar, juga soal makan. Kadang dia lupa makan dan asam lambung," urainya. (iza/laz)
Editor : Winda Atika Ira Puspita