BANTUL - Dimulai sejak 2022 menjadi perajin papan surfing dan masih satu-satunya yang ada di DIJ. Ombak Parangtritis menjadi sahabat karib memulai karir sebagai pemain surfing.
Perajin papan surfing jumlahnya bisa dihitung dengan jari di DIJ. Namun, Bima Sepiawa sudah mulai menggelutinya sejak 2022. Sampai sekarang menjadi pekerjaan sehari-harinya dalam memenuhi kebutuhan.
Pria berusia 28 tahun itu tidak langsung menjadi perajin papan surfing. Awalnya pria asal Padukuhan Mancingan, Parangtritis, Kretek, Bantul itu sering bermain surfing. Tidak lain, tidak bukan ombak Pantai Parangtritis menjadi karib sejak SMA di atas papan surfing.
"Karena sering bermain surfing ketemu pembuat papannya di Jawa Barat 2014," katanya, Selasa (25/2).
Seringnya Bima mengikuti kompetisi surfing sehingga menjadikannya ditawari untuk bekerja sebagai perajin papannya di Bali. Seusai menyelesaikan pendidikan SMA, tepatnya pada 2015 dengan meyakinkan memutuskan merantau ke Bali.
Langkah tersebut diambilnya karena memang berniat untuk mengembangkan produksi papan surfing di Parangtritis. Niat awalnya ingin merantau ke Bali selama 10 tahun. Namun, karena adanyan pandemi Covid-19 akhirnya memutuskan balik ke Parangtritis pada 2021 silam.
"(Tahun) 2022 mulai bikin itu masih sepi, untuk produksi papan surfing baru saya di kawasan DIJ," sambungnya.
Setiap satu papan surfing menghabiskan waktu sekitar tujuh hari pembuatan. Harganya bervariatif mulai Rp 3,5 jutaan hingga Rp 8 jutaan. Pembelian mayoritas dilakukan pemesanan terlebih dahulu.
Dia jarang menyetok papan surfing karena keterbatasan biaya modal. Selain itu, Bima pun menyediakan layanan servis papan surfing mulai dari pecah atau pun patah. "Sebulan Rp 2,5 jutaan mayoritas dari servis," tuturnya.
Untuk reparasi papan surfing hanya ratusan ribu saja. Penjualan terbaru ini ada pemesanan untuk dikirim ke Mentawai. Selain itu, ada juga dari Surabaya dan Semarang yang proses penjualannya melalui online serta dari mulu ke mulut.
Ukuran panjangnya mulai dari enam feet hingga 10 feet. Bahan baku pembuatannya mengguanakan styrofoam yang dicampur fiber. "Saya kan pelaku surfing, menikmati setiap bentuk papan beda-beda untuk tau semuanya sehingga buat sendiri terus dicoba," tuturnya.
Di Jogja belum terlalu banyak surfing padahal memiliki bentang pantai dari Kulon Progo, Bantul hingga Gunungkidul. Bima menyebut, karakter ombak di Parangtritis bisa dijadikan tempat surfing.
Namun, persiapan fisiknya harus kuat agar bisa mengendalikan ombaknya. "Sering main di Parangtritis begitu main surfing di pantai lain lebih ringan," tuturnya.
Pasalnya, gelombang, arus tiga kali lipat lebih besar dibanding pantai-pantai lainnya. Harus ekstra dalam tenaga mendayung agar sampai di titik tengahnya. (pra)
Editor : Heru Pratomo