RADAR JOGJA - Yogyakarta, kota yang kaya akan seni, budaya, dan melahirkan banyak seniman berbakat.
Salah satunya sang maestro yang tak lekang oleh waktu, Suminingsih atau yang lebih akrab dengan nama panggung Yu Beruk.
Suminingsih sendiri telah mengabdikan hidupnya untuk melestarikan seni tradisi Jawa, khususnya ketoprak dan seni lawak untuk masyarakat di Indonesia.
Sejak kecil, ia sendiri telah akrab dengan dunia seni.
Baca Juga: Yu Beruk di Mata Den Baguse Ngarso: Lawakannya Cenderung Spontan, Kekhasannya Sulit Ditirukan
Ayahnya seorang pemain ketoprak, sehingga ia sering diajak dan menonton pertunjukan seni tradisi itu.
Dari situlah kecintaannya pada seni tradisi tumbuh. Pada usia remaja, ia sudah ikut bermain ketoprak bersama sang ayah.
Selain sering ikut ayahnya bermain ketoprak dari panggung ke panggung, kecintaan Suminingsih terhadap seni tradisi juga tak lepas dengan adanya sanggar tari tradisi di rumahnya.
Baca Juga: Keren! Hasto Apresiasi Penggunaan Alat Makan Ramah Lingkungan: Masjid Jogokariyan Hidangkan 3.500 Porsi Takjil Gratis dan Ratusan Stand
Di mana waktu itu seni pertunjukan tari, menurutnya, ada hubungannya dengan seni ketoprak.
Karena ketoprak dulu ketika mau pentas, baik ketoprak tobong ataupun ketoprak apa saja, pasti sore harinya diberi pertunjukan tari yang namanya ekstra.
Tapi lama-lama Suminingsih merasa jenuh bermain ketoprak yang pakem.
Karena ketoprak itu sendiri harus bisa mengikuti watak dari tokoh yang diperankan. Sehingga ia sedikit demi sedikit latihan untuk melawak.
"Saya memang seniman tulen dengan mengambil seni tradisional. Yang saya geluti kali pertama itu seni ketoprak, dan saya pertama main ketoprak dari umur 14. Belajar melawak dari umur 16 tahun," jelas Suminingsih saat ditemui Radar Jogja, Sabtu (22/2/2025).
Kiprah Suminingsih di dunia seni tradisi memang panjang dan beragam. Tidak hanya piawai dalam bermain ketoprak, tetapi juga mahir melawak dalam berbagai peran di atas panggung.
Lawakannya yang khas dan ceplas-ceplos berhasil mengundang tawa penonton.
Baca Juga: Pengamat Seni Pertunjukan Nilai Yu Beruk Seniman yang Adaptif, Lewati Berbagai Zaman
Dedikasi Suminingsih terhadap seni tradisi Jawa sudah tidak perlu diragukan lagi. Sampai masa tuanya pun ia masih mengabdikan hidupnya untuk melestarikan dan mengembangkan seni ketoprak itu.
Diakui, menjadi seniman ketoprak itu harus mempunyai cita-cita bisa ngethoprak.
Maksudnya di dalam organisasi atau perkumpulan harus menjadi ketoprak atau di mana tempatnya harus bisa menyesuaikan peran yang akan dimainkan.
"Saya menjadi ketoprak di situ harus menyesuaikan peran dari sutradara seperti apa," lontarnya.
Baca Juga: Lebih Dekat dengan Ketua DPRD Purworejo Tunaryo yang Melenting Jadi Korea
Menurut Suminingsih, sebagai seniman ketoprak dan seorang pelawak harus bisa menyesuaikan cerita-cerita dalam lawakan itu. Karena di dalam lawakan juga ada alur ceritanya.
Harus tetap belajar dan pelawak juga harus tertib atau mau mendengar situasi lawan main.
Lalu harus bisa telaten untuk bisa melihat situasi kanan-kiri atau peka terhadap kejadian sekitar, karena hal itu bisa diangkat untuk cerita di dalam ketoprak.
"Pelawak itu dari bakat juga bisa. Makanya pelawak itu harus peka, semeleh, harus saling membantu lawan main," katanya.
Baca Juga: Napoli 1-1 Inter, Partenopei Selamat dari Kekalahan di Menit Akhir, Philip Billing Aktornya
Sebagai seorang seniman yang sudah senior, Suminingsih sendiri ingin menjadi contoh anak-anak dan cucu-cucunya agar bisa menjadi seniman yang berbudaya.
"Jadi tidak hanya seniman tok. Kalau tidak berbudaya, itu dilihat juga gak bagus," ungkapnya.
Tak hanya itu, Suminingsih juga berharap kepada anak-anak yang berbakat melawak agar benar-benar melawak dan jangan sembrono.
Baca Juga: Real Betis 2-1 Real Madrid, Isco: Saya Senang Meraih Kemenangan Melawan Tim Terbaik Hari Ini
Karena, menurutnya, melawak itu harus sesuai dan dimaui oleh penonton. Kalau tidak, penonton nantinya tidak suka.
"Jadi menjawabnya jangan asal. Harus bisa meladeni lawakan di mata penonton," cetusnya.
Suminingsih sendiri juga mempunyai cita-cita untuk menjadi seniman sampai akhir hayat.
Baca Juga: Gelar Muskercab, DPC PKB Kabupaten Bantul Fokus Kaderisasi Partai
Ia bangga menjadi seniman yang betul-betul menguntungkan bagi kebutuhan keluarga.
"Ojo sembrono nyambut gawe. Karena pekerjaan yang digeluti atau menjadi seniman tulen yang bisa kalau dipercaya orang itu akan berhasil. Gelutilah budaya kamu," tandasnya. (ayu/laz)