Menjadikannya tokoh yang cukup dikenal berbagai kalangan masyarakat.
Bahkan tak sedikit masyarakat menyapa di berbagai kesempatan, sekali waktu kerap pula ada yang meminta foto bersamanya.
Memulai usaha dari berdagang sayur keliling hingga kini menjadi pengusaha sukses di industri pembuatan tegel, kisah Winarno adalah salah satu contoh nyata perjalanan from zero to hero.
Berkat kerja keras, ketekunan, dan semangat pantang menyerah sosok pria kelahiran Ngampel, Sengi, Dukun, Magelang, Jawa tengah ini mampu meraih kesuksesan. Tak hanya mengubah hidupnya menjadi lebih baik, tetapi juga menginspirasi banyak orang untuk terus berjuang dan berbagi kebaikan dengan sesama.
Melalui media sosial dan jaringannya, Founder Win Art Solution itu sukses membesarkan usahanya menjadi salah satu produsen tegel terkemuka di Jawa Tengah bahkan seluruh Indonesia.
Tak hanya itu, pria 52 tahun itu juga dikenal sebagai motivator serta pribadi yang entengan (peduli) dengan masyarakat. Bahkan dirinya aktif dalam berbagai kegiatan sosial.
“Alhamdulilah saya diberikan kelebihan. Ini menjadi wujud syukur dari apa yang telah saya peroleh selama ini. Kesempatan untuk berbagi dengan orang lain,” katanya.
Hal tersebut tampak pada beberapa postingan akun media sosial miliknya. Pak Win sapaan akrabnya kerap berbagi dengan warga yang ditemui. Baik itu di pabrik tegel miliknya, seputaran tempat pengisian bahan bakar (SPBU), warung makan atau tempat umum lainya.
"Saya berasal dari keluarga petani sederhana di daerah Dukun. Sehingga kalau butuh apa-apa ya cari dulu,” kata pria yang baru saja menerima penghargaan Top of The Year 2024 dari Jawa Pos Radar Jogja itu.
Win mengaku tahu betul rasanya menjadi orang yang berada di fase terendah. Dirinya pernah merasakan menjadi orang yang kurang berkecukupan. Sehingga sewaktu muda, dirinya mengaku pernah berdagang sayur keliling. Hal itu dilakukan sebelum dirinya berangkat kerja di Jogja saat itu.
“Muter dulu saya pukul 03.00 pagi, jualan sayur pakai kerombong di seputaran jalan Kaliurang dan area UGM. Rumah makan hingga Hotel juga banyak yang saya setori sayuran segar," kenang pria yang kerap membawa pouch bag, memakai peci dan sarung itu.
Karir kerjanya terbilang cukup menanjak. Mulai bekerja di salah satu foto studio Jogja (1994), kemudian pindah ke salah satu toko cat besar di Jogja (2002) menjadi kepala toko. Hingga pada tahun 2008 Winarno memutuskan pindah ke sebuah supermarket bangunan terbesar di Jogja dimana saat itu dirinya langsung ditunjuk sebagai Supervisor.
“Kebetulan dunia kerja saya memberikan pengalaman komplit. Saya menikmati pekerjaan pada waktu itu seperti sedang belajar dan berkesenian,” ungkapnya.
Sebelum pada akhirnya Winarno fokus membesarkan bisnis pembuatan tegel miliknya di bawah bendera WinArt Solution 2019. Dari berbagai pengalamannya akhirnya diusia yang sudah tidak muda lagi Winarno menemukan bisnis yang cocok. yakni bisnis tegel. Pesanan dari berbagai daerah pun silih berganti datang.
Saat masih bekerja, Win mengaku sudah kerap berbagi dengan karyawan-karyawannya sejak dulu. Biasanya dilakukan saat meeting ataupun sedang briefing dengan karyawan. "Sekadar untuk mencairkan suasana sekaligus penyemangat buat mereka supaya bekerjanya lebih giat,” ujarnya.
Suami dari Dasimah itu pun mengaku dalam membuat konten berbagi tidak ada settingan ataupun editan. Murni ia lakukan secara spontan. "Tidak ada tim. Ya, sekali waktu minta tolong rekan atau keluarga nyotingke dengan handphone saya," candanya.
Winarno berharap dari apa yang telah dilakukannya dapat menjadi motivasi bagi banyak orang. Berbagi hal baik, membantu dengan ikhlas tanpa pamrih dapat menjadi kebiasaan sehari-hari.
"Kesuksesan bukan hanya soal keuntungan, tapi juga tentang bagaimana kita dapat memberikan dampak positif bagi orang lain. Tentunnya banyak doa baik dari mereka," ungkapnya. (naf)
*Simbok adalah Jimat Kesuksesanku*
Sukses seorang Winarno tak luput dari doa dan perjuangan seorang ibu bernama Sujini. Bagi seorang anak, simbok (sapaan akrab ibunya) merupakan sosok perempuan tangguh, tegar, rajin beribadah (tidak pernah meninggalkan sholat), tekun dan semangat dalam bertani.
Oleh karena itu, Winarno sangat patuh dan selalu berdoa agar senantiasa diberikan kesehatan dan panjang umur untuk simboknya yang kini berusia 83 tahun itu. “Hadiah apapun rasanya tidak ada apa-apanya dibanding dengan perjuangannya mendidik saya selama ini,” ungkap anak kelima dari enam bersaudara itu.
Winarno mengaku hal yang selalu diingat dari Simbok yakni selalu mengingatkannya sholat. Dalam kondisi sesibuk apapun jangan pernah sekalipun melupakan salat.
Selain itu, Winarno juga tak malu menyebut sering kangen masakan simboknya. Salah satunya Gudangan atau Kuban Urap. “Kalau camilan Slondok dan Potel. Itu pasti disiapkan kalau pas saya bersama keluarga berkunjung kerumah beliau,” katanya.
Untuk itu, segala hal yang membahagiakan ingin ia curahkan untuk simbok. Tahun lalu Winarno mengajak ibundanya dua kali umroh. Awal tahun saat Ramadan dan akhir 2024. “Namun sayang saat kami haji di pertengahan tahun lalu beliau tidak ikut,” katanya.
Simbok bagi Winarno adalah jimat dalam kehidupannya. Hingga saat ini tanpa doa dan peran ibu winarno mengaku bukan apa-apa dan siapa-siapa.
“Simbok mungkin tidak sesukses aku, tidak sesempurna fisikku, tapi beliau memiliki hati yang ikhlas, yang tak pernah meminta membayar kembali segala jasanya. simbok itu terlalu istimewa untuk diceritakan secara sederhana,” kata Winarno. (naf)
Editor : Bahana.