karier, pengalaman, wawasan, hingga ketaatannya, patut diteladani.
BAMBANG, panggilan akrab Bambang Soepijanto, boleh dibilang sebagai figur yang memiliki capaian akademik, bisnis, hingga pekerjaan, yang sama baiknya. Laki-laki kelahiran Situbondo, 15 Desember 1956 ini mengenyam pendidikan S1 di UPN Veteran Yogyakarta, lulus tahun 1983 jurusan Ekonomi Pertanian.
“Saya masuk kuliah pada saat nomenklaturnya masih Perguruan Tinggi Pembangunan Nasional (PTPN) Veteran Yogyakarta yang statusnya sebagai Perguruan Tinggi Kedinasan di bawah Departemen Pertahanan & Keamanan RI,” katanya.
Setelah itu, melanjutkan program Magister S2 Manajemen, dan menyelesaikan S3 Ilmu Administrasi Publik di Universitas Brawijaya. Keuletannya, menjadikan dirinya seperti saat ini. “Saya bukan orang yang dapat beasiswa, tapi saya berjuang keras untuk pendidikan dengan biaya mandiri," katanya pada Radar Jogja kemarin.
Bambang sudah aktif berorganisasi sejak di bangku SD. Tak sekadar aktif dalam kegiatan formal di sekolah, juga banyak menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan non formal berbasis sosial.
"Kegiatan saya banyak, mulai menapak dan aktif sejak SD jadi ketua kelas, SMP dan SMA jadi ketua OSIS, lalu jadi Ketua Umum Senat Mahasiswa saat kuliah," ucapnya.
"Saya ingin mematahkan terhadap pendapat, bahwa orang yang sibuk sebagai aktivis di Organisasi seringkali tidak baik prestasi akademisnya, saya patahkan itu," serunya.
Selain mentereng secara akademik, pencapaian segi pekerjaan juga tak bisa dianggap remeh. Berbagai jenis pekerjaan, hingga penghargaan telah banyak diraih oleh bapak dua anak ini.
Di bidang pemerintahan, ia mengawali sebagai Staf Direktorat Reboisasi dan Rehabilitasi dengan pangkat awal golongan II, ditugaskan pada Proyek Perencanaan dan Pembinaan Reboisasi dan Penghijauan Daerah Aliran Sungai (P3RP DAS) Gunung Kidul tahun 1981-1984; menjadi Pemimpin Pelaksana P3PRP DAS di Kulon Progo tahun 1984-1985; Pemimpin Pelaksana P3PRP DAS di Temanggung tahun 1985-1986; Kepala Cabang Sub Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah (BRLKT) di Gunung Kidul tahun 1986-1987; Plt. Kepala Sub Sie Bimbingan Teknis pada Balai RLKT Wilayah VII Denpasar tahun 1987-1989; Kepala Balai Pengolaan DAS Serayu Opak Progo di Yogyakarta (1999 – 2002).
Ia juga pernah menjadi Kepala Pusat Diklat Kehutanan (2004-2007); Sekretaris Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial (RLPS) (2007-2010); Direktur Jenderal Planologi Kehutanan, sejak (2010-2015); Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (2015-2016); Staf Khusus Menteri PAN dan RB Bidang Hubungan Kelembagaan (2017-2018).
"Saya juga pernah menjadi komisaris dan advisor di beberapa perusahaan," terangnya. Ya, ia pernah menjadi Komisaris Utama PT. INHUTANI IV (2011-2012); Komisaris Utama PT. INHUTANI lI (2012-2021); Komisaris Utama PT. Sinar Belantara Indah (SBI) (2004-2022); Komisaris Utama pada Perusahaan Pemanfaatan Hutan Alam-PT, Berkat Cahaya Timber (2021-2022), dan Advisor pada perusahaan Tambang Batubara PT. Harum Energy sejak Januari 2022 hingga saat ini.
Bambang sadar, capaian tersebut didapat juga karena dukungan pihak lain. Utamanya, campur tangan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, dan doa dari kedua orang tuanya. Ia yakin, doa kedua orangtua bisa mengantarnya seperti sekarang ini.
“Ada investasi dari Allah yang ingin diberikan ke orangtua saya, dan tidak sempat, akhirnya itu diberikan ke saya," ungkapnya.
Sejak dulu, entah terhadap peristiwa apapun, kegiatan apapun, keinginan apapun, selalu minta doa ibunya. “Saya selalu minta doa ibu. Jika di tempat yang jauh, saya kirim surat, saya telefon, atau saya pulang, saya cuci kaki ibu. Minta didoakan yang terbaik buat saya," kenangnya.
Bahkan sudah menjadi kebiasaannya untuk selalu mencuci kaki sang ibu. "Nyuci kaki ibu saya itu biasa. Saya merasa banyak salah pada ibu, jadi saya cuci kakinya, bahkan saya pernah minum air cucian kaki itu," sebutnya. (iza/jko)
Percayai Integritas Kunci Keberhasilan
SELAIN doa yang mengalir dari orangtuanya, ia juga menekankan bahwa konsistensi dan integritas adalah kunci. Hal itu yang selalu ia pegang, dan diaplikasikan dalam semua lini kehidupannya.
"Berintegritas, seperti berbuat baik ke siapapun, kapanpun, di manapun. Itu salah satu kunci penting dalam kehidupan," pesannya.
"Dilihat atau tidak, kita jangan curang, itu namanya integritas. Lalu, untuk mencapai yang tinggi itu banyak orang dengan cara jinjit, padahal kita bisa raih dengan cara bersujud. Filosofi itu, saya terapkan dalam kehidupan," sambungnya.
Bambang juga menyadari, semua torehannya saat ini, tidak bisa dilepaskan dari perjalanan dan pengalaman yang didapatnya di UPN. Ia mengaku, UPN memiliki sejarah emosional tak terpisahkan dengan dirinya.
"Kawah Candradimuka saya itu UPN, saya janji sampai akhir hayat akan cinta pada UPN. Meski hanya S1 di UPN, tapi itu yang mengawali semua perjalanan dan pembelajaran saya," lontarnya.
UPN juga banyak memberi penghargaan kepada Bambang, salah satunya Karya Cendekia sebagai salah satu lulusan terbaik & Wimaya Awards Kategori Alumni Peduli.
Dia juga dipercaya sebagai Ketua Ikatan Alumni Pertanian UPN Veteran Yogyakarta (IKAPERTA) (2016-2024), dan Ketua Dewan Pertimbangan Pusat (DPP) IKAPERTA UPN Veteran Yogyakarta (2024-2029).
"Alumni di UPN itu ribuan, banyak juga yang usianya jauh di bawah saya, malah seperti anak-anak saya," bebernya. "Saya usahakan humanis untuk melakukan pendekatan pada sesama alumni, saya hubungi satu-satu. Tidak ada yang namanya senioritas," lanjutnya.
Ia juga menyampaikan, menempuh pendidikan di UPN membuatnya makin menguatkan nilai-nilai pada dirinya. Termasuk nilai-nilai spirit d'corps, kekorsaan, atau kesetia kawanan & bela negara.
"Dari Kawah Candradimuka UPN “Veteran” Yogyakarta, saya banyak mendapat nilai-nilai tentang wawasan nusantara, kejuangan, demokrasi, solidaritas dan pembangunan manusia seutuhnya, yang saya bawa," pungkasnya, (iza/jko)
Editor : Bahana.