Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Dua Tokoh Douwes Dekker, Sang Kritikus dan Penggerak Nasional yang Ternyata Berbeda Massa

Meitika Candra Lantiva • Jumat, 29 November 2024 | 21:36 WIB
Eduard Douwes Dekker (kiri) dikenal dengan nama Multatulis dan Ernest Douwes Dekker (kanan) merupakan tokoh penggerak nasional yang akrab disapa Danudirdja Setiabudi.
Eduard Douwes Dekker (kiri) dikenal dengan nama Multatulis dan Ernest Douwes Dekker (kanan) merupakan tokoh penggerak nasional yang akrab disapa Danudirdja Setiabudi.

RADAR JOGJA - Masa kolonialisme Belanda di Indonesia berlangsung sejak awal adab ke-17 hingga pertengahan abad ke-20.

Namun tahukah kalian, terdapat dua tokoh menarik selama masa kolonial Belanda.

Namanya identik, sama-sama memiliki nama imbuhan "Douwes Dekker". Namun keduanya sangatlah berbeda, dari segi tokoh dan massa.

Peran serta era mereka dalam perkembangan cerita kemerdekaan Indonesia berada dalam aspek yang terpisah.

Memperkenalkan dua douwes dekker, yakni Eduard Douwes Dekker atau kita kenal sebagai Multatuli, dan Ernest Douwes Dekker atau kita kenal sebagai Danudirdja Setiabudi.

Mereka adalah saudara jauh yang lahir di era yang cukup jauh pula antara keduanya.

Mengutip dari postingan facebook dari akun @Jhon Lee yang diunggah pada 13 November, Eduard Douwes Dekker lahir di Amsterdam, Belanda pada 2 Maret, 1820.

Sosoknya lebih dikenali para pengamat sejarah sebagai penulis sebuah buku dengan judul Max Havelaar (1860), sebuah novel satiris yang berisi kritikan terhadap kejamnya penjajahan yang dilakukan Belanda terhadap kaum pribumi pada saat itu.

Sedangkan Ernest Douwes Dekker diketahui merupakan cucu dari saudara kandungnya Eduard Douwes Dekker yang bernama Jan Douwes Dekker.

Jadi, singkatnya kedua Douwes Dekker ini ibarat kakek dan cucunya.

Ernest lahir dari pasangan Auguste Henri Eduard Douwes Dekker dan Louise Neumann.

Tanah kelahirannya berada di Pasuruan, Jawa Timur pada 8 Oktober 1879.

Ernest Douwes Dekker mendapat nama Danudirdja Setiabudi atas usulan presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno.

Hal itu untuk menghindari penangkapan intelijen setelah diam – diam kabur dari masa pengasingannya di Suriname, beserta seorang janda bernama Nelly yang kemudian menjadi istri ketiganya.

Di Indonesia, Ernest lebih dikenal dengan nama usulan Soekarno itu, dan menorehkan prestasinya dalam proses kemerdekaan.

Hal itu dibuktikan dari adanya julukan tiga serangkai bersama Dr. Tjipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat.

Mereka adalah peletak dasar nasionalisme di Indonesia di awal abad ke-20.


Selain itu, beliau juga dikatakan aktif dalam beberapa bidang seperti penulis yang mengkritik pemerintah Hinida-Belanda, menjadi aktivis politik, wartawan, serta penggagas nama “Nusantara” untuk menggantikan Hinida-Belanda kala itu.

Oleh karena itu, Eduard dan Ernest Douwes Dekker masihlah terikat dari segi keturunan.

Darah mereka juga merupakan darah keturunan Belanda.

Namun, era mereka cukuplah jauh serta minimnya literasi yang mengatakan jika mereka saling berkomunikasi satu sama lain.

Yang jelas, peran dan hasil pencapaian mereka berbeda terhadap konstruksi kemerdekaan Indonesia saat itu. 

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#kolonialisme Belanda #Tokoh #Penggerak Nasional #kritikus #eduard douwes dekker #Berbeda Massa #douwes dekker #Mengenal #Ernest Douwes Dekker