RADAR JOGJA - Fotografi merupakan salah satu hobi yang menyenangkan bagi sejumlah kalangan. Terlebih bagi sebagian orang, fotografi tidak sekadar dijadikan hobi semata. Tapi juga menjadikan skill yang dimiliki sebagai cara untuk menghasilkan uang.
Hal itulah yang dilakoni pria asal Purworejo Rahmat Nuryani, 31. Pria kelahiran 5 November 1992 itu sudah menggeluti dunia fotografi sejak 2018 lalu dengan belajar otodidak
Hobinya itu terus dia geluti sampai akhirnya dia putuskan untuk menjadi seorang fotografer sport atau olahraga. "Sebenarnya awalnya hanya coba-coba. Apalagi saat pandemi itu, saya telateni terus untuk tambahan penghasilan. Alhamdulillah menghasilkan," ujarnya kepada Radar Jogja Jumat (9/8).
Baca Juga: BRI Liga 1: Bali United Sikat Persik Kediri, PSIS Semarang Takluk dari Persita Tangerang
Menurutnya, fotografi bukan hanya sekadar asal jepret saja. Namun, juga memerlukan seni untuk menyampaikan cerita, merekam momen, dan mengungkapkan emosi. "Fotografi itu ekspresi jiwa untuk mewujudkan suatu gambar digital yang indah," tutur Matoto sapaannya itu.
Dikatakan, dia biasa memotret pertandingan sepak bola, futsal, basket, voli, marathon, balap sepeda, renang, down hill, hingga balap trail. Untuk memotret, dia menggunakan kamera Nikon dilengkapi dengan lensa tele. Hasil jepretannya itu, dia unggah sebagai portofolio di Instagram pribadinya yaitu @matotography.
"Menurut saya, yang paling susah itu motret renang, karena harus paham gaya apa yang dipakai. Momennya juga sedikit sehingga harus fokus," kaya pria asal Desa Semawung, Purworejo itu.
Di tengah kesibukannya bekerja sebagai honorer di Dinas Lingkungan Hidup dan Perikanan (DLHP) Purworejo, dia selalu menyempatkan diri untuk memotret. "Satu bulan bisa memotret 15 sampai 20-an kali pertandingan. Tergantung pesanan. Untuk tarifnya Rp 300 ribu per match," sambungnya.
Baca Juga: Ini Dia 5 Rekomendai Bakso Terenak di Jogja yang Wajib Dicoba
Selain sport, dia mengaku juga gemar mengabadikan gambar soal kesenian dan budaya. Setiap ada momen atau gelaran seni budaya dia juga memotret. "Namun, itu hanya sebatas hobi saja tidak untuk tambahan penghasilan," tambahnya.
Matoto menyebut, setiap memotret pertandingan olahraga selalu ada tantangan tersendiri baginya. Tapi, tantangan itu dia jadikan motivasi untuk terus upgrade skill agar kemampuan fotografinya semakin baik.
Mengingat, foto olahraga bukan perkara yang sepele karena harus memotret dengan cermat, cepat, dan menguasai teknik fotografi yang baik. Selain itu, harus memiliki reflek yang baik dan harus selalu siap mengantisipasi momen. Agar tidak kehilangan peristiwa penting atau menarik untuk difoto. (han/eno)
Editor : Heru Pratomo