Status Merapi Terbaru, BPPTKG Peringatkan Potensi Awan Panas dan Lahar Hujan

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Kamis, 29 Oktober 2026 | 19:26 WIB
ILUSTRASI: Gunung Merapi Luncurkan Guguran Lava ke Barat Daya, Status Masih Siaga
ILUSTRASI: Gunung Merapi Luncurkan Guguran Lava ke Barat Daya, Status Masih Siaga

 SLEMAN - Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan bahwa Gunung Merapi masih berada pada tingkat aktivitas Level III atau Siaga. Laporan resmi aktivitas vulkanik ini mencakup periode pengamatan Kamis, 29 Oktober 2026, mulai pukul 12.00 hingga 18.00 WIB.

​Gunung api aktif setinggi 2.968 meter di atas permukaan laut tersebut secara administratif terletak di perbatasan empat wilayah kabupaten. Wilayah ini meliputi Sleman di Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Magelang, Boyolali, dan Klaten di Provinsi Jawa Tengah.

​Berdasarkan catatan meteorologi di kawasan puncak, kondisi cuaca terpantau dominan mendung sepanjang rentang waktu siang hingga sore hari. Angin berhembus cukup tenang dengan arah dominan menuju ke utara.

​Hasil pengukuran menunjukkan suhu udara berada pada kisaran 20,4 hingga 22 derajat Celsius dengan kelembaban udara mencapai 90 hingga 98,7 persen. Sementara itu, tekanan udara terukur antara 874,5 hingga 917 mmHg.

​Secara visual, tubuh Gunung Merapi tampak tertutup oleh kabut dengan tingkat ketebalan berkisar pada skala nol hingga tiga. Pemandangan puncak yang terselimut kabut tebal ini membatasi pengamatan langsung terhadap kawah.

​Tim pengamat mencatat bahwa pengamatan asap kawah terpantau nihil selama periode pemantauan enam jam tersebut. Tidak teramati adanya kolom asap putih maupun kelabu yang membubung dari celah kawah gunung.

​Kendati visual asap kawah tidak terlihat di permukaan, catatan seismogram mengindikasikan bahwa aktivitas kegempaan di dalam tubuh gunung masih terus berlangsung. Gempa tipe Hybrid atau Fase Banyak menjadi aktivitas yang paling mendominasi.

​Petugas merekam sebanyak 25 kali kejadian gempa Hybrid dalam rentang pemantauan sore ini. Gempa tersebut tercatat memiliki amplitudo berkisar 2 hingga 17 milimeter dengan durasi getaran antara 12,45 hingga 38,53 detik.

​Kemunculan puluhan kali gempa fase banyak ini menandakan masih tingginya tekanan serta dinamika pergerakan magma di kedalaman dangkal. Kondisi ini terus memberikan suplai energi pada pembentukan kubah lava Merapi.

​Selain gempa fase banyak, instrumen seismograf BPPTKG juga mencatat adanya 10 kali gempa guguran. Getaran guguran ini memiliki amplitudo sebesar 2 hingga 23 milimeter dengan durasi berlangsung 72,9 hingga 143,57 detik.

​Di luar aktivitas vulkanik lokal, peralatan pemantau turut merekam dua kali kejadian gempa Tektonik Jauh. Gempa tektonik tersebut terukur mempunyai amplitudo antara 2 hingga 14 milimeter serta durasi 67,56 hingga 104,7 detik.

​Keterangan BPPTKG menyebutkan bahwa seluruh data hasil pemantauan membuktikan suplai magma masih terus berlangsung aktif. Fenomena ini berpotensi memicu terjadinya awan panas guguran di dalam kawasan potensi bahaya.

​Potensi ancaman bahaya utama Gunung Merapi saat ini berupa luncuran guguran lava pijar dan awan panas guguran. Ancaman ini berpotensi meluncur melintasi beberapa alur sungai yang berhulu langsung di puncak.

​Untuk kawasan sektor selatan hingga barat daya, potensi bahaya melingkupi alur Sungai Boyong dengan jarak luncuran awan panas maupun lava diperkirakan dapat mencapai maksimal 5 kilometer.

​Masih pada sektor selatan dan barat daya, alur Sungai Bedog, Sungai Krasak, serta Sungai Bebeng memiliki jangkauan ancaman bahaya yang lebih jauh, yaitu hingga jarak maksimal 7 kilometer.

​Sementara itu untuk sektor tenggara, daerah potensi bahaya meliputi sepanjang alur Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer. Sedangkan alur Sungai Gendol memiliki potensi ancaman bahaya hingga radius 5 kilometer.

​Apabila terjadi letusan eksplosif secara tiba-tiba, material vulkanik padat yang terlontar dari kawah diperkirakan dapat menjangkau kawasan pemukiman atau area sekitar hingga radius 3 kilometer dari puncak.

​Berdasarkan pemetaan kawasan rawan bencana tersebut, BPPTKG mengimbau masyarakat agar tidak melakukan kegiatan atau aktivitas apapun di dalam zona daerah potensi bahaya yang telah ditentukan.

​Masyarakat yang tinggal di seputar lereng Gunung Merapi diminta untuk tetap waspada terhadap ancaman bahaya lahar dingin dan awan panas guguran. Bahaya sekunder ini meningkat terutama saat turun hujan deras.

​Selain ancaman lahar, warga juga diharapkan mengantisipasi potensi gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik. Langkah kesiapsiagaan mandiri seperti penggunaan masker sangat dianjurkan bila terjadi erupsi.

​Laporan kebencanaan yang disusun oleh Yulianto dari BPPTKG PVMBG ini menegaskan bahwa tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera dievaluasi dan ditinjau kembali jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan.

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG
berita jogja Bencana Alam Gunung Merapi BPPTKG Erupsi Merapi