Merapi Siaga Hari Ini, 14 Guguran, Asap Kawah Nihil, Hujan Guyur Lereng

SLEMAN – Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitasnya pada Selasa (27/10/2026). Dalam periode pengamatan pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat sejumlah getaran yang menjadi penanda bahwa gunung setinggi 2.968 mdpl itu masih aktif. Meski begitu, tidak ada asap kawah yang teramati keluar dari puncak, sebuah kondisi yang sedikit berbeda dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Cuaca di sekitar Merapi pagi itu terpantau mendung dan hujan. Angin bertiup lemah ke arah barat, membawa udara dingin dengan suhu berkisar 19,5 hingga 21 derajat Celcius. Kelembaban udara sangat tinggi, mencapai 98 hingga 100 persen, sementara tekanan udara berada pada angka 875,5 hingga 919 mmHg. Volume curah hujan tercatat 1 milimeter per hari. Kondisi ini menjadi perhatian tersendiri, mengingat hujan di lereng Merapi dapat memicu bahaya lahar.
Secara visual, Gunung Merapi terlihat jelas hingga tertutup kabut dengan skala 0 hingga III. Namun, yang menarik, asap kawah tercatat nihil. Tidak ada kepulan asap yang teramati keluar dari puncak kawah. Meski demikian, ketiadaan asap bukan berarti gunung ini tidak aktif. Aktivitas vulkanik tetap terekam melalui getaran-getaran yang terekam alat pemantau, menandakan bahwa proses di bawah permukaan masih berlangsung.
Yang paling mencuri perhatian adalah data kegempaan. Tercatat sebanyak 14 kali gempa guguran dalam enam jam pengamatan, dengan amplitudo berkisar 2 hingga 41 milimeter dan durasi antara 49,06 hingga 260,9 detik. Durasi guguran yang cukup panjang ini menunjukkan bahwa material lava di puncak masih terus mengalami ketidakstabilan dan runtuh akibat gravitasi.
Selain guguran, tercatat pula 1 kali Tremor Non-Harmonik dengan amplitudo 40 milimeter dan durasi 62,61 detik. Tremor jenis ini biasanya berkaitan dengan pergerakan fluida, baik magma maupun gas, di dalam tubuh gunung. Kehadirannya menjadi sinyal bahwa ada dinamika yang perlu terus dipantau, meski tidak selalu berujung pada letusan.
Tak ketinggalan, tercatat 8 kali gempa Hybrid atau Fase Banyak dengan amplitudo 3 hingga 34 milimeter, S-P 0,3 hingga 0,7 detik, dan durasi 18,91 hingga 55,7 detik. Gempa jenis ini juga berkaitan dengan pergerakan fluida di dalam tubuh gunung. Kombinasi antara guguran, tremor, dan gempa hybrid menunjukkan bahwa sistem vulkanik Merapi masih aktif dan dinamis.
Berdasarkan laporan yang disusun Ngadiyo dan Yulianto, tidak ada keterangan tambahan lain yang menonjol pada periode ini. Status Gunung Merapi masih berada pada Level III (Siaga) , yang berarti gunung ini berada dalam kondisi yang patut diwaspadai namun belum mencapai tahap awas. Status ini telah bertahan cukup lama, mencerminkan aktivitas yang fluktuatif namun cenderung stabil pada level tertentu.
BPPTKG kembali mengingatkan potensi bahaya yang masih mengintai. Guguran lava dan awan panas berpotensi terjadi pada sektor selatan-barat daya, meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer. Pada sektor tenggara, bahaya serupa mengancam aliran Sungai Woro hingga 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer. Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius 3 kilometer dari puncak.
Data pemantauan menegaskan bahwa suplai magma masih berlangsung dan dapat memicu awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya. Karena itu, masyarakat diminta untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di zona rawan. Kewaspadaan terhadap bahaya lahar dan awan panas guguran juga perlu ditingkatkan, terutama saat hujan turun di sekitar Gunung Merapi. Hujan yang mengguyur lereng dapat membawa material vulkanik mengalir deras menuruni sungai.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




