SLEMAN - Gunung Merapi yang menjulang gagah di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah kembali menunjukkan gelagatnya. Sepanjang periode pengamatan 11 September 2026, mulai tengah malam hingga jelang tengah malam berikutnya, gunung berapi paling aktif di Indonesia ini tak henti memuntahkan energi dari perut buminya. Data resmi dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat serangkaian aktivitas yang menjadi perhatian serius bagi warga di sekitarnya.
Berdasarkan laporan yang dihimpun dari MAGMA-VAR, kondisi cuaca di sekitar kawasan Gunung Merapi hari itu bervariasi. Langit bergantian antara cerah, berawan, hingga mendung tebal. Angin bertiup lemah, kadang mengarah ke timur dan kadang ke barat, membawa serta aroma khas belerang yang menguar dari kawah. Suhu udara tercatat cukup sejuk, berkisar antara 17,8 hingga 26,5 derajat Celsius, dengan tingkat kelembaban yang tinggi mencapai 97,4 persen. Tekanan udara di ketinggian 2.968 meter di atas permukaan laut itu pun terpantau stabil di angka 873,3 hingga 919,2 mmHg.
Secara visual, gunung yang berada di wilayah Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten ini terlihat cukup jelas dari pos pengamatan. Meskipun sesekali kabut tipis hingga sedang menyelimuti lerengnya, mata para pengamat masih bisa menangkap detail aktivitas di puncak. Asap kawah bertekanan lemah terus mengepul, berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang. Kolom asap tersebut teramati mencapai ketinggian 150 hingga 200 meter di atas puncak kawah, menjadi pertanda bahwa suplai magma dari dalam perut bumi masih terus berlangsung.
Namun, yang paling mencuri perhatian adalah data kegempaan. Sepanjang hari itu, alat seismograf mencatat 81 kali gempa guguran. Getaran ini memiliki amplitudo yang bervariasi, mulai dari 2 hingga 45 mm, dengan durasi yang cukup lama, yakni antara 28,84 hingga 223,7 detik. Dominasi gempa guguran ini mengindikasikan adanya ketidakstabilan pada kubah lava yang terus tumbuh dan sesekali runtuh akibat gravitasi.
Selain gempa guguran, aktivitas tektonik dan vulkanik juga terekam jelas. Terdapat 68 kali gempa Hybrid atau fase banyak, tujuh kali gempa Vulkanik Dangkal, dan tiga kali gempa Tektonik Jauh. Aktivitas tektonik jauh ini memiliki ciri khas berupa jarak S-P yang cukup lama, sekitar 32,55 detik, menunjukkan sumber getaran yang berasal dari jarak yang cukup jauh dari gunung. Kombinasi dari berbagai jenis gempa ini menggambarkan dinamika fluida dan tekanan yang kompleks di dalam sistem vulkanik Merapi.
Baca Juga: Dorong Riset dan Geowisata, Geopark Kebumen Kerja Sama dengan Geopark Lenggong
Puncak dari aktivitas hari itu adalah teramatinya empat kali guguran lava pijar. Material panas tersebut meluncur deras ke arah Kali Sat/Putih, dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter atau dua kilometer dari puncak. Luncuran lava ini menjadi pemandangan yang sekaligus mengerikan, mengingat potensi bahaya yang mengintai jika luncuran tersebut membesar.
Meskipun demikian, status Gunung Merapi masih bertahan pada Level III atau Siaga. BPPTKG selaku pihak berwenang telah mengeluarkan rekomendasi tegas terkait zona bahaya. Masyarakat diminta untuk sama sekali tidak melakukan aktivitas apapun di daerah potensi bahaya. Potensi bahaya utama saat ini meliputi guguran lava dan awan panas yang dapat menjangkau sektor selatan-barat daya.
Secara spesifik, daerah rawan tersebut mencakup Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer. Sementara itu, pada sektor tenggara, bahaya mengintai di Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer. Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik diperkirakan dapat mencapai radius 3 kilometer dari puncak.
Data pemantauan ini menjadi alarm bagi seluruh pihak bahwa suplai magma masih terus berlangsung. Kondisi ini berpotensi memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya. Warga yang tinggal di sekitar lereng Merapi, terutama yang berada di dekat aliran sungai yang berhulu di puncak, diminta untuk selalu waspada, terutama saat terjadi hujan deras.
Baca Juga: Anggarkan Rp 42 Miliar, IGD Baru RSUD Tidar Dikebut Atasi Kepadatan Pasien
Hujan di seputar puncak Merapi seringkali menjadi pemicu terjadinya lahar dingin. Masyarakat diimbau untuk mewaspadai bahaya lahar dan awan panas guguran (APG), serta mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik jika terjadi erupsi yang lebih besar. Kesiapsiagaan menjadi kunci utama dalam menghadapi dinamika alam ini.
Pihak berwenang menegaskan bahwa jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, status Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali. Masyarakat diharapkan terus memantau informasi resmi dari sumber terpercaya seperti BPPTKG dan tidak mudah terpancing oleh berita bohong yang beredar. Keselamatan jiwa adalah prioritas utama di tengah kekuatan alam yang tak terprediksi ini.
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : BPPTKG Yogyakarta