Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Berastepu, Desa yang Sunyi di Bawah Bayang-Bayang Gunung Sinabung

F
Penulis: Frencia Keliat❯
Rumah-rumah terbengkalai di Desa Berastepu, kaki Gunung Sinabung, Kabupaten Karo. Sumber foto: https://vt.tiktok.com/ZSqgHMXDD/
Rumah-rumah terbengkalai di Desa Berastepu, kaki Gunung Sinabung, Kabupaten Karo. Sumber foto: https://vt.tiktok.com/ZSqgHMXDD/ 

Advertisement

 KARO – Di kaki Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, terdapat sebuah permukiman yang kini nyaris tanpa aktivitas warga. Desa Berastepu menjadi salah satu desa yang terdampak erupsi Gunung Sinabung dan ditinggalkan penduduknya sejak aktivitas erupsi meningkat pada 2010.

Dahulu, Berastepu merupakan permukiman yang dihuni masyarakat yang sebagian besar bekerja sebagai petani. Kehidupan warga berlangsung seperti desa pada umumnya, dengan rumah-rumah yang berdiri berdampingan serta lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Namun, aktivitas Gunung Sinabung mengubah kehidupan warga. Erupsi yang terjadi berulang kali membuat masyarakat harus meninggalkan rumah dan lingkungan tempat mereka tinggal demi keselamatan. Pemerintah kemudian melakukan relokasi terhadap warga dari sejumlah desa yang terdampak, termasuk Berastepu.

Desa Berastepu perlahan berubah. Sejumlah rumah tampak kosong dan tidak terawat. Rumput serta tanaman liar tumbuh di sekitar bangunan. Beberapa bagian rumah mengalami kerusakan, sementara bangunan lainnya mulai tertutup oleh tumbuhan yang tumbuh tanpa perawatan.

Suasana sunyi menjadi pemandangan yang menonjol ketika memasuki kawasan desa. Tidak lagi terlihat aktivitas masyarakat seperti dahulu. Jalan-jalan desa yang pernah dilalui warga kini lebih sepi, sementara rumah-rumah yang ditinggalkan menjadi saksi kehidupan masyarakat sebelum erupsi Gunung Sinabung.

Advertisement

Kondisi tersebut membuat Berastepu kerap disebut sebagai desa mati. 

Sebelumnya, sekitar 200 rumah warga dilaporkan ditinggalkan setelah masyarakat mengungsi akibat erupsi Sinabung. Sebagian warga berpindah ke tempat tinggal sementara, menyewa rumah, maupun tinggal bersama keluarga sebelum kemudian mengikuti proses relokasi.

Meski demikian, Desa Berastepu tidak sepenuhnya kehilangan jejak kehidupan masa lalu. Rumah, jalan, serta sejumlah bangunan yang masih berdiri menjadi pengingat bahwa kawasan tersebut pernah menjadi tempat tinggal masyarakat Karo selama bertahun-tahun.

Relokasi juga membuat masyarakat harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Kehidupan yang sebelumnya berpusat di desa dan lahan pertanian harus dijalani di kawasan tempat tinggal yang baru. Penelitian mengenai masyarakat Berastepu menunjukkan bahwa warga tetap mengandalkan berbagai strategi untuk mempertahankan kehidupan sosial dan ekonomi setelah berpindah ke kawasan relokasi.

Pemerintah Kabupaten Karo juga masih memasukkan Desa Berastepu dalam penanganan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana erupsi Sinabung. Dokumen pemerintah daerah mencantumkan Berastepu sebagai salah satu desa yang masuk dalam relokasi tahap kedua.

Advertisement
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Jenguk Kondisi Siswa Keracunan MBG di Karo, Wapres Gibran Inisiatif Suruh Ibu Bawakan Bekal Anaknya

Jenguk Kondisi Siswa Keracunan MBG di Karo, Wapres Gibran Inisiatif Suruh Ibu Bawakan Bekal Anaknya

Wakil Presiden Gibran Rakabuming mengunjungi korban dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Rumah Sakit Evarina Etaham dan Rumah Sakit Amanda, Karo, Sumatera Utara pada (11/9/2026). Dalam kunjungan tersebut..

Gajah Bobok, Menikmati Sunrise dan Panorama Danau Toba dari Pegunungan Tanah Karo

Gajah Bobok, Menikmati Sunrise dan Panorama Danau Toba dari Pegunungan Tanah Karo

Menikmati keindahan Danau Toba tidak selalu harus dilakukan dari tepian danau. Dari ketinggian Bukit Gajah Bobok di Kabupaten Karo, wisatawan dapat menyaksikan hamparan Danau Toba sekaligus menikmati suasana pegunungan.

Uis Gara Batak Karo, Kain Tradisional yang Menyimpan Makna Budaya dan Identitas Masyarakat Karo 

Uis Gara Batak Karo, Kain Tradisional yang Menyimpan Makna Budaya dan Identitas Masyarakat Karo 

Kain tradisional tidak hanya menjadi bagian dari pakaian, tetapi juga dapat menjadi simbol identitas dan warisan budaya suatu masyarakat. Hal tersebut terlihat dalam penggunaan Uis Gara, kain tradisional masyarakat Karo.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer