SLEMAN – Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dikonsumsi siswa SMP Negeri (SMPN) 3 Turi, Kalurahan Girikerto, Kapanewon Turi, Sleman, telah melalui tes organoleptik sebelum dibagikan. Pemeriksaan dilakukan guru piket untuk memastikan kondisi makanan layak dikonsumsi.
Kepala Sekolah SMPN 3 Turi Widayati mengatakan, MBG tiba di sekolah sekitar pukul 07.10 dan mulai dikonsumsi siswa sekitar pukul 07.30. Sebelum dibagikan ke kelas, guru piket terlebih dahulu melakukan pengecekan organoleptik.
Baca Juga: Antisipasi Korban Susulan, Ambulans dan Posko Disiagakan, Gejala Keracunan Dipantau Tiga Hari
Pengecekan dilakukan dengan melihat kondisi, tekstur, dan bau makanan. Setelah dinilai aman, makanan kemudian dibagikan kepada siswa sesuai jatah masing-masing kelas.
Guru yang mengajar pada jam pertama juga turut mendampingi siswa saat mengonsumsi MBG. Mereka meminta siswa mencuci tangan dan berdoa sebelum makan. Siswa juga diminta melakukan pengecekan secara mandiri.
“Semua sudah terlewati dengan baik sehingga anak-anak langsung makan seperti biasa. Kalau dilihat memang banyak yang habis,” ujar Widayati saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (7/9).
Baca Juga: Prediksi Skor AEK Athens vs LASK Linz Liga Champions, Update Tim, Susunan Pemain dan Skor Akhir
Widayati mengatakan, siswa diingatkan untuk tidak mengonsumsi makanan apabila menemukan bau atau tekstur yang mencurigakan. Namun, setelah makanan dikonsumsi, muncul sejumlah keluhan.
Seorang guru yang mendampingi siswa lebih dahulu mengalami mual dan muntah. Guru kemudian diminta mengecek kondisi siswa di kelas. Awalnya, empat siswa mendatangi UKS karena mengalami mual dan sakit perut.
Jumlah siswa yang mengalami keluhan kemudian bertambah dan sebagian mendapat penanganan di Puskesmas Turi. Total terdapat 23 siswa dan satu guru yang terdampak dari 370 siswa SMPN 3 Turi. Mereka berasal dari kelas VII, VIII, dan IX.
“Kami menghubungi Puskesmas untuk mengirim ambulans sehingga empat siswa yang di UKS langsung dibawa ke Puskesmas dan lainnya menyusul,” tambahnya.
Meski terdapat kejadian tersebut, kegiatan belajar-mengajar tetap berlangsung. Pihak sekolah juga mendirikan posko bersama sebagai pusat informasi dan pemantauan kondisi siswa. Orang tua siswa yang datang ke sekolah diarahkan mengecek daftar siswa terdampak. Banyak dari mereka disebut menitipkan air kelapa maupun susu yang diharap bisa menetralisir dampak keracunan ini. Hal ini dia sebut memang bentuk kepedulian orang tua pada anaknya dan sekolah juga tidak melarang.
“Harapannya enggak ada lagi yang terdampak. Ketika orang tua datang kami minta cek masuk daftar terdampak tidak. Kalau ada apa-apa tentu kami informasikan,” ujarnya. (del)
Editor : Sevtia Eka Novarita